Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Merajuk


__ADS_3

"Mel."


Karamel tidak menggubris. Dia meletakkan nampan berisi secangkir kopi susu dan juga beberapa keping biskuit yang selalu Chenle makan di sela-sela jam kerjanya.


Karamel langsung berlalu setelah meletakkan itu di meja Chenle.


"Apa dia marah??" Gumam Chenle.


Seharusnya Chenle sadar diri. Sudah jelas Karamel marah padanya karena kemarin malam Chenle menciumnya paksa. Tapi... Bukankah gadis itu sendiri yang meminta Chenle memperlakukannya secara berbeda?


'salah ku dimana?' batin Chenle.


Chenle masih melamun dengan asumsi-asumsi yang memenuhi kepalanya ketika seseorang mengetuk pintunya.


"Masuk." Perintahnya.


Huang Renjun- ketua tim divisi keuangan menyapanya. Chenle dan Renjun adalah teman semasa sekolah sampai kuliah.


"Ada apa dengan Karamel ? Mukanya kusut gitu."


"Ga tau bingung."


"Ya kau suaminya masa ga tau sih?" Renjun meletakkan map biru di atas meja Chenle lalu berbalik untuk duduk di sofa.


Chenle menatapnya sebentar lalu dia berjalan menghampiri Renjun dengan membawa map yang tadi Renjun letakkan.


"Kemarin aku menciumnya. Terus dia marah." Chenle duduk di samping Renjun tanpa menatap lelaki itu.


"Kau memaksanya ya?"


"Ya.. ga bisa di bilang maksa sih, aku kan suaminya."


Renjun terkekeh dengan kepala menggeleng.


"Aku pikir kau sudah pintar karena sudah 2 kali berumah tangga, ternyata aku salah. Kau bodoh."


Chenle menoleh padanya dan mereka berdua saling melempar tatapan. Renjun dengan tatapan meremehkannya sementara Chenle menatap tidak terima.


"Kau menikahinya karena terpaksa Chenle. Itu menurut Karamel. Perempuan itu ga akan mau disentuh tanpa cinta. Dia akan menganggap itu pelecehan."


"Tapi kita suami istri. Aku punya hak..."


"Sebelum kau menagih hak mu apakah kau sudah melunasi kewajibanmu?"


Renjun memotong ucapan Chenle dan sukses membuat lelaki bermarga Zhong itu terdiam.


Kerutan di dahi Chenle tercetak jelas dengan tatapan bertanya nya pada Renjun.


"Kewajiban seorang suami adalah memberi istrinya cinta dan kasih sayang. Tanpa itu wanita hanya akan merasa dimanfaatkan, dilecehkan, dan di eksploitasi tubuhnya."

__ADS_1


Oke. Ini masuk akal. Ucapan Renjun memang seratus persen benar. Tapi Chenle justru memicingkan matanya pada lelaki lajang itu.


"Darimana kau tau ini? Bukannya kau lajang?"


Renjun berdecak,


"Jangan ngeremehin pria lajang ya."


Bibir Chenle melengkung kebawah dengan kepala yang mengangguk-angguk sebagai pengakuan atas pernyataan Renjun yang luar biasa.


"Oh ya, map itu tadi isinya persetujuan kompensasi yang harus kau tanda tangani. Jumlahnya ga sedikit."


"Oke."


"Udah suruh orang buat nyelidikin itu?" Renjun melepas kacamatanya.


"Tempo hari Karamel udah nyuruh Hendery buat nyelidikin ini. Laporannya belum aku terima."


"Oke, aku balik yah. Cepet balikan sama Mel, ga baik pengantin baru marahan lama-lama." Renjun terkekeh dengan suaranya yang lembut.


Lelaki itu  berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Chenle.


💮💮💮


"Pak Yangyang itu cerewet ya, banyak maunya." Yuqi terus menggerutu setelah keluar Dari ruangan direktur utama.


"Jadi gosip dia playboy itu bener yah?" Sahut Karamel ikut berbisik. Ningning mengangguk dengan wajah sinis.


'Ternyata semua cowok sama aja. ' batin Karamel.


Dia jadi teringat Zhong Chenle yang kemarin memeluk Shuhua saat dia tidak di kantor.


Lalu bukannya minta maaf Chenle malah memaksa menciumnya saat tiba di rumah.


'Dasar laki-laki brengsek.'


Ingin sekali Karamel meneriakkan sumpah serapahnya di depan wajah Chenle sekarang.


Yah.. dia hanya berangan-angan saja untuk melakukan itu. Tapi nyatanya Tuhan benar-benar mendengarkan keinginannya.


Zhong Chenle tiba-tiba melintasi koridor di antara ruang direktur utama dan ruang divisi keuangan. Lelaki itu tengah berbincang bersama Hendery- tangan kanannya, dan juga Winwin-direktur perencanaan.



Mereka bertiga tampak sangat serius menatap layar ponsel dan berhenti di tengah-tengah koridor.


Karamel memperhatikan itu. Tanpa sadar menatap kagum pada laki-laki yang secara hukum adalah suaminya. Lelaki bermarga Zhong itu tampak sangat berbeda ketika sedang serius.


'Dia... 100 kali lebih tampan jika seperti itu.'

__ADS_1


'astaga, apa aku baru saja mengaguminya? Ga!!! Ga boleh!! Dia itu bos mu Mel, ga lebih.' Karamel berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


Karamel mengalihkan pandangannya sesaat lalu kembali mencuri pandang ke arah Chenle. Tatapan gadis itu bahkan sempat berhenti pada bibir peach Chenle yang tengah terbuka ketika dia sedang fokus pada suatu hal. Dan itu membuat Karamel jadi teringat kembali kejadian semalam saat Chenle menciumnya paksa.


Sejujurnya Karamel tidak tau apakah pantas itu disebut ciuman paksa karena nyatanya gadis itu sempat menikmatinya sebelum dia tersadar dan menendang Chenle sampai jatuh.


"Mel."


Lamunan Karamel buyar ketika suara halus Chenle menyebut namanya.


Yuqi menyenggol lengan Karamel lalu gadis itu kabur lebih dulu ke ruang divisi keuangan sementara Ningning berpura-pura menatap komputernya.


"Kenapa disini?"


Karamel tidak menjawabnya. Dia memasang wajah ketus lalu mengangkat dokumen berisi laporan yang baru di tanda tangani Yangyang.


Karamel tidak menunggu Chenle bicara lagi dan langsung pergi meninggalkan lelaki itu. Tidak sopan memang tapi siapa peduli. Dia masih kesal.


"Mel.. kamu masih marah??? Hey.."


"Luar biasa si Karamel itu, bisa-bisa nya dia ngacuhin bos nya." Gumam Ningning.


"Mel...." Chenle berhasil meraih tangan Karamel sebelum gadis itu masuk ke dalam lift.


"Jangan marah dong." Chenle berusaha membuat Karamel menatapnya namun gadis itu terus menghindar.


"Bukannya kamu juga nikmatin ciumannya? lalu kenapa marah hm??"


Karamel langsung menatap Chenle tidak terima. Gadis itu menarik tangannya paksa dari Chenle namun gagal.


"Lepas !"


"Maaf." Kata Chenle kemudian. Karamel langsung terdiam.


"Maaf udah meluk-meluk Shuhua, maaf juga udah cium kamu tanpa ijin." Lanjut Chenle.


Karamel masih enggan menatap Chenle dan memilih menunduk menatap lantai marmer yang memantulkan bayangan mereka.


"Aku tambahin uang belanjanya deh. Maafin ya?"


Karamel tetap tidak bergeming. Chenle tidak punya pilihan lain. Lelaki itu mendekat dan menarik tubuh mungil Karamel kedalam pelukannya.


Karamel hendak protes tapi Chenle menahannya.


"Jangan marah ya istri



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2