![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Chenle itu orangnya tidak terlalu sibuk. Lebih tepatnya dia tidak ingin terlalu sibuk. Chenle selalu membatasi dirinya dalam bekerja dan menyisakan waktunya untuk beristirahat.
Harusnya Yue tidak merasa kesepian karena Chenle selalu menemani bocah itu setiap malam. Tapi yang Karamel temui ini lain cerita.
Chenle tidak terlalu akrab dengan Yue, bahkan dia sering bertengkar dengan putranya.
Lelaki itu juga tidak mau mengalah meskipun ini cuma masalah sepele. padahal dia jauh lebih dewasa dari Yue.
'ternyata bener ya, ga semua orang dewasa bisa jadi orang tua.'
Karamel memantau interaksi antara ayah dan anak itu.
"Papa mau nonton pertandingan basket Yue."
"Ga bisa, Yue mau nonton super wing."
"Yue nonton aja di kamar Yue sendiri."
"Ga mau !! Yue maunya disini. Awaasss.." Yue mendorong lengan Chenle dan berusaha merebut remotnya.
Sungguh Karamel bingung harus apa. Yue tidak mau dipisahkan dan menolak kalah meski tubuhnya kecil.
"PAPA NYEBELIN."
"Kamu yang nyebelin."
"HUAAAA MAMA... PAPA NAKAL... " Yue berlari ke arah Karamel dan memeluk kakinya. Yue terus mengadu ketika Karamel mulai menggendongnya.
"Yue nonton di kamar aja ya."
"Ga mau, Yue maunya nonton disini."
Karamel menghela nafas, dia benar-benar tidak tahan ingin mengumpat. Gadis itu menghampiri Chenle dengan Yue yang masih dalam gendongannya.
"Ngalah kenapa sih??? Sama anak sendiri juga ga mau ngalah."
"Minggir, jangan ganggu." Mata Chenle bahkan tak beralih dari layar tv.
Karamel benar-benar geram. Gadis itu merebut remote dari tangan Chenle lalu mengganti chanelnya.
"Heh, kurang ajar ya Lo." Chenle berdiri dan menatapnya tajam.
"Kamu ya yang kurang ajar." Balasan Chenyue membuat Karamel menahan tawanya. Karamel acuh tak acuh duduk di sofa dan memangku Yue.
__ADS_1
Chenle mendesah dengan kesal, lalu akhirnya ikut bergabung untuk melihat super wing.
Tapi yang membuat Chenle kesal adalah Yue malah tertidur sebelum jeda iklan.
"Mel.." Chenle melirik Karamel yang sangat fokus saat menonton TV. Bahkan panggilan itu tidak terdengar olehnya.
"Mel..." Chenle memanggilnya lagi.
"Hm? "
"Tidur disini kan?"
Karamel mengedikkan bahunya. Dia sendiri juga bingung, disatu sisi dia merasa tidak enak menginap tapi di sisi lain dia tidak tega meninggalkan Yue.
"Nginep aja lah, kamu tega liat Yue nangis tengah malem?" Chenle memberi jeda untuk melihat tanggapan Karamel, namun ketika gadis itu tak kunjung menjawab Chenle akhirnya kembali bicara.
"Lagipula tidur kamu juga bakal keganggu kalau aku masuk rumahmu tengah malam kan."
"Iya." Karamel menjawab lirih. Gadis itu menunduk menatap Chenyue lalu mengelus kepalanya.
Bocah laki-laki itu bersandar padanya dengan kepala yang di sangga tangan Karamel agar tidak jatuh.
Chenle bangkit dari posisi duduknya dan menunduk di depan Karamel.
Lelaki itu menggendong Yue ke kamarnya diikuti Karamel yang berjalan di belakangnya.
"Aku tidur di kamar Yue aja ya."
Chenle diam sebentar dan menatapnya. Dia lalu menjawab,
"Terserah."
...💮💮💮...
Karamel terbangun dengan wajah setengah terkejut. Alarm nya tidak berbunyi, atau memang sudah bunyi tapi dia tidak dengar?
Ahh... Entahlah, yang jelas dia kesiangan sekarang. Gadis itu terburu-buru turun dari ranjang dan melirik Yue yang masih tidur.
Karamel berlari ke dapur dengan tangan yang sibuk menguncir rambutnya. Chenle sudah bangun rupanya, lelaki itu tengah memasak di dapur dengan pakaian olahraga dan tubuh basah karena keringat. Sepertinya dia baru pulang jogging lalu langsung memasak.
"Kayaknya aku bukan punya istri deh tapi punya anak baru. " Pernyataannya itu penuh nada sindiran di tambah lirikan sarkastiknya pada Karamel membuat gadis itu sadar diri.
"Iya maaf kesiangan. Lagian kenapa ga bangunin?" Karamel mengambil alih spatula dari tangan Chenle.
__ADS_1
" Itu alarm kamu udah mendengung kayak sirine ambulan kamu ga denger? "
Karamel hanya cemberut. Dia akui memang tidurnya terlalu lelap semalam. Entah memang karena suasana kamar Yue yang beraroma seperti bayi ataukah karena tubuhnya yang lelah.
"Yue belum di bangunin?"
"Belum."
Chenle tak berkata apapun lagi dan langsung menuju kamar Yue. Bocah itu merengek dalam gendongannya ketika Chenle berhasil membangunkannya.
"Mama...."
"Mama masih buat sarapan, Yue mandi sama papa ya?"
Bocah laki-laki itu mengangguk lalu memeluk leher Chenle. Karamel yang melihat interaksi itu hanya bisa tersenyum tipis.
Gadis itu menyelesaikan masakannya sebelum ikut mandi dan keluar 15 menit kemudian dengan pakaian formal yang rapi. Hari ini adalah perayaan hari ibu di sekolah Yue, itulah kenapa dia akan masuk setengah hari di kantor.
"Mama.." Yue berlari ke arahnya dan mengulurkan tangannya minta di gendong.
Sebenarnya tubuh bocah itu sudah sangat berat sekarang. Tapi ya mau bagaimana lagi, putra kesayangan Chenle itu memang selalu manja padanya.
"Baunya Mama wangi, kayak bau cookies yang baru matang. Yue suka."
Chenle melihat interaksi mereka berdua lalu menyahuti.
"Masa sih? Coba sini papa ikut cium."
Karamel langsung memasang wajah waspada lalu menghindar ketika Chenle mendekatkan kepalanya dan mulai mengendus. Lelaki itu langsung tersenyum melihat respon Karamel.
"Mama pelit." Dengus lelaki itu.
"Ada Yue disini, jangan macem-macem. "
"Berarti kalau ga ada Yue boleh macem-macem ya..." Gumam Chenle lalu menepuk tangan Yue.
"Ayo Yue pakai sepatu dulu."
"Oke papa." Bocah itu turun dari gendongan Karamel dan berlari ke rak sepatunya.
Kesempatan itu Chenle pakai untuk mencuri satu kecupan di pipi Karamel lalu dia kabur begitu saja.
"Zhong Chenle !"
__ADS_1
Bersambung....