Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Just Kiss


__ADS_3

Chenle tidak mengira Chenyue akan separah ini, dia pikir Yue hanya demam seperti biasanya namun karena demamnya sangat tinggi di tambah Yue yang muntah-muntah membuat Chenle harus membawa putranya ke UGD.


Chenle yang tidak pernah sekalipun menangis kini untuk pertama kalinya meneteskan air mata di depan umum, melihat Yue menangis meronta-ronta kala jarum infus itu kesulitan menembus pembuluh darahnya.


Chenle tidak tega, itu perasaan jujur yang dia akui sendiri. Dia juga seorang ayah, sekuat apapun dia di luar, Chenle tetap memiliki sisi lembut.


"Dia menangis terus-menerus mencari Karamel." Kata Irene.


Wanita cantik itu menatap iba pada cucunya yang baru saja tertidur.


Chenle tidak bisa memberikan tanggapan apapun. Dia terlalu stres hingga tidak tau akan berbuat apa lagi.


"Ga bisa ya kamu bawa Karamel kesini? Apa kalian bertengkar gara-gara Shuhua?" Irene menatap putranya dan menunggu jawaban dari  mulut Chenle.


"Iya, dia sempat salah paham." Jawab Chenle.


"Mama suka Karamel. Apapun yang dipilih Yue mama percaya itu pilihan yang terbaik. Jadi... Kamu bawa Karamel kesini ya."


Itu masih menjadi sesuatu yang sulit bagi Chenle, terlihat dari bagaimana lelaki itu menghela nafas dan menutup matanya.


Bukan Chenle tidak mau, tapi Karamelnya sendiri minta cerai darinya.


"Chenle usahain mah." Chenle tidak berani menatap Irene. Dia takut tidak bisa menepati janjinya.


"Oh ya..." Chenle tiba-tiba teringat sesuatu.


"Karamel lagi hamil."


Wajah Irene langsung berubah, dari yang awalnya murung kini pancaran matanya tampak berbinar.


"Benarkah? Waah.. itu sesuatu yang bagus." Katanya. Irene melanjutkan,

__ADS_1


"Mama ga mau tau, kamu harus baikan sama Karamel dan bawa calon cucu  mama kesini."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yue baru saja dipindahkan ke ruang rawat tapi bocah itu terus menangis dan tidak mau berbaring di ranjangnya. 


Rasa tidak nyaman di tubuhnya dan juga tangan yang terpasang jarum infus benar-benar membuat Yue tidak nyaman, apalagi demamnya kembali naik satu jam terakhir.


Yue juga terus memanggil nama Karamel dan meminta Chenle membawakan mama nya kesini. Chenle tidak  bisa melakukan apapun atau menjanjikan apapun pada Yue. Lelaki itu hanya bisa menggendong Yue sambil menenangkannya.


Kaki dan tubuh Chenle terasa sangat lelah, dia berjalan selama setengah jam di koridor rumah sakit untuk menidurkan Yue. Dan akhirnya bocah itu tertidur karena lelah menangis.


Chenle menidurkan Yue di ranjang rumah sakit lalu dia kembali ke depan. Duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar Yue sambil menyalakan rokok. Itu adalah kebiasaan Chenle ketika dia benar-benar merasa stress.


Chenle tersenyum dengan wajah miris. Teringat akan hari dimana Chenle merasa stres dan Karamel memberinya sentuhan yang 1000 kali lebih ampuh untuk menghilangkan stresnya daripada sebatang rokok.


Aahhh... Chenle benar-benar merindukannya sekarang, dia rindu senyuman Karamel, dia merindukan pelukannya. Chenle juga rindu saat-saat Karamel mengomel padanya,  atau ketika Karamel merajuk. 


Lelaki itu menunduk semakin dalam, menyesapi asap rokok yang menyambut paru-parunya lalu menghembuskannya dengan harapan sesak di dadanya akan sedikit menguap.


"Ga boleh merokok di rumah sakit."


Chenle langsung membeku, dia yang masih menatap lantai berusaha menyadarkan dirinya akan suara yang baru saja dia dengar.


'apa aku mulai gila? Apa aku terlalu merindukannya hingga aku berhalusinasi mendengar suara Karamel?'


"Chenle."


Hal yang membuat Chenle sadar bahwa dia tidak sedang berhalusinasi ialah ketika ada sepasang kaki yang berdiri di hadapannya.


Chenle mendongak lalu reflek berdiri dengan mata melebar ketika menatap wajah Karamel yang juga menatapnya.

__ADS_1


"M-mel..?"


Belum sempat Karamel menjawab, Chenle sudah menarik tubuhnya dan memeluknya sangat erat.


"Sesak Chenle.." keluh Karamel tapi itu tidak membuat Chenle melepaskan pelukannya.  Lelaki itu justru memeluknya lebih erat sekarang.


"Chenle..."


"Aku mohon, jangan minta aku menceraikanmu, karena aku ga sanggup Mel." Suara Chenle terdengar serak dan berat. Apa dia menangis?


Chenle melepas pelukannya dan menatap Karamel, lelaki itu lalu menangkup pipi Karamel dan mulai menciumi bibirnya dengan terburu-buru.


Karamel awalnya menolak karena dia  terkejut. Namun lama kelamaan dia berusaha meladeni ciuman Chenle.


Tangan kanan Chenle menahan tengkuk Karamel agar dia bisa memperdalam ciumannya sementara tangan kirinya berada di pinggang Karamel. Chenle terus menarik tubuh Karamel mendekat karena dia takut akan berpisah lagi dengan Karamel.


Karamel yang awalnya mengira dia akan terlibat adu mulut dengan Chenle begitu bertemu malah berakhir adu bibir dengannya. Chenle mungkin sudah melupakan perdebatan mereka tempo hari. Yang ada dalam diri lelaki itu sekarang hanyalah kerinduannya yang tak bisa dia bendung.


Karamel pun merasa demikian. Dia melupakan semua kata permintaan maaf yang sudah ia susun rapi di dalam kepalanya dan akan dia utarakan pada Chenle.


Sebaliknya Karamel berusaha mencurahkan semua perasaannya pada setiap ******* lembutnya di bibir Chenle.


Chenle pun membalas dengan hasrat yang sama dan berusaha melepaskan kerinduannya yang meletup-letup.


Dua insan yang tak tau tempat itu harus merasa beruntung karena tak ada seorang pun yang lewat di koridor.


Yah.. kecuali 2 orang adik Karamel yang tidak jadi mendekat karena adegan vulgar di depan mereka.


"Bisa-bisanya berbuat mesum di tempat umum." Keluh Haechan.


Mark langsung menutup mata Haechan dan memaksa adik bungsunya untuk mundur.

__ADS_1


"Udah ga usah dilihat, ayo kita pergi dari sini."


BERSAMBUNG....


__ADS_2