![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Chenle sempat khawatir pada Karamel setelah gadis itu mengetahui tentang Melisa-mendiang istrinya.
Sejujurnya Chenle tidak mau menyembunyikan fakta tentang Melisa, hanya saja statusnya dengan Karamel saat ini membuat Chenle berpikir untuk menjaga perasaan Karamel.
4 tahun silam setelah kepergian istrinya Chenle benar-benar hancur. Chenle yang berhati lembut dan ramah berubah menjadi sosok dingin dan sering murung. Dia depresi dan sempat tidak mau mengurus Yue saat bayi.
Namun seiring berjalannya waktu, lelaki itu mulai sadar, hanya Yue lah satu-satunya kenangan yang ditinggalkan Melisa untuknya. Melisa berani bertaruh nyawa untuk melahirkan Chenyue dan harusnya Chenle menjaga putranya itu dengan baik.
Hati Chenle sedikit melunak ketika dia melihat tumbuh kembang Yue. Namun itu tak membuat hatinya kembali terbuka untuk perempuan lain. Melisa lah penunggu abadi disana dan tidak ada siapapun yang bisa menggantikannya.
2 tahun berlalu dan Chenle masih merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita manapun disisinya, lelaki itu terus memecat wanita yang menjadi sekertarisnya dan memaksa pihak HRD untuk memperkerjakan sekertaris laki-laki saja. Tapi toh sangat jarang ada laki-laki yang memenuhi syarat di perusahaan.
Sampai akhirnya Karamel masuk dalam kehidupannya. Sejak awal gadis itu sangat kompetitif, dia tidak berpengalaman tapi dia cukup cekatan. Selain itu Karamel juga seperti membawa aura positif di sekelilingnya. Gadis itu ramah dan lembut juga menyukai anak-anak. Sifatnya itu sungguh mengingatkan Chenle pada Melisa.
2 bulan Karamel bekerja, Chenle baru menyadari jika wajah Karamel memiliki kemiripan dengan Melisa, dan saat itu juga Chenle memberinya panggilan khusus. 'Mel' adalah kata singkat yang dia pakai untuk memanggil Melisa dulu, dan sekarang nama itu juga dia pakai untuk Karamel. Rasanya sangat familiar dan Chenle merasakan kekosongan hatinya perlahan kembali terisi.
Entah sebuah kebetulan atau apa, Chenyue yang memiliki hati dingin sepertinya juga menerima kehadiran Karamel. Padahal sebelumnya dia selalu menolak setiap kali Chenle di jodohkan dengan wanita lain.
Bahkan bocah itu langsung memanggilnya 'mama' setiap kali bertemu Karamel.
Kehadiran Karamel perlahan membuat Chenle merasa nyaman, meskipun Melisa belum berpindah dari hatinya tapi Chenle seperti melihat sosok Melisa dalam diri Karamel. Chenle tau mereka adalah orang berbeda dan Chenle tidak mau menipu dirinya dengan itu. Maka dari itu Chenle akan selalu berusaha melihat Karamel sebagai Karamel dan bukan Melisa.
"Mel... Aku bahagia karena aku menemukan sosok yang tepat yang bisa menjaga dan menyayangi Yue persis seperti kau menyayanginya. Aku harap kau juga bahagia disana."
Itu adalah kalimat Yang Chenle ucapkan sembari menatap foto mendiang Melisa sebelum dia demam pada malam harinya.
Dalam mimpinya dia bertemu Melisa, Chenle memeluknya dan tidur di pangkuannya hingga tanpa sadar Chenle mengigaukan nama Melisa di depan Karamel.
Lelaki itu menyesal. Sungguh dia khawatir akan menyakiti Karamel. Sejujurnya Chenle juga masih bingung akan perasaannya. Apakah dia benar mencintai Karamel ataukah dia mencintai sosok Melisa yang ada dalam diri Karamel?
Lelaki itu menggeleng pelan. Dia berusaha meyakinkan dirinya dan juga perasaannya bahwa perasaan itu nyata untuk Karamel. Melisa sudah pergi, Chenle harus belajar merelakannya mulai sekarang.
Lelaki itu baru saja terjaga, dia memutar tubuhnya kesamping dan mulai murung saat tak mendapati Karamel di ranjangnya.
Chenle mulai bangun dan duduk dengan perasaan was-was. Lelaki itu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Chenle bernafas lega ketika pupil matanya menangkap keberadaan Karamel di dapurnya. Gadis itu tengah memasak dengan posisi membelakangi Chenle.
__ADS_1
Chenle berjalan mendekat tanpa suara dan memeluk Karamel dari belakang.
"Kau mengejutkanku. " Karamel terlonjak dan reflek menoleh.
"Kenapa ga tidur?"
"Aku lapar." Jawab Karamel jujur.
"Jam 2 pagi?"
Karamel hanya bisa mengangguk, sesungguhnya dia juga bingung kenapa dia lapar jam 2 pagi padahal dia terbiasa melewatkan makan malam.
Tidak ada percakapan lain setelah itu. Karamel masih fokus dengan ramen yang meletup-letup di dalam panci sementara Chenle memeluknya dari belakang.
"Maaf." Gumam Chenle tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Harusnya aku tidak menyebut nama wanita lain di depanmu. Kau pasti terluka."
Karamel tersenyum tipis lalu menggeleng.
Entah kenapa Karamel berbicara seolah-olah Chenle memiliki 2 istri sekarang.
" Tetap saja ga boleh. Kamu pasti sakit hati kan? Kamu kan cemburuan."
Ada nada meledek dalam Kalimat Chenle yang membuat Karamel melepas paksa pelukan lelaki itu dan memasang wajah merajuk, namun Chenle yang keras kepala kembali memeluknya dengan erat.
"Mel.."
"Hmm??"
"Jangan tinggalin aku dan Yue ya."
Mata Karamel tiba-tiba memanas dengan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Gadis itu mengangguk lemah meskipun keraguan dalam dirinya belum bisa dia enyahkan.
Karamel meminta Chenle menyingkir ketika dia akan memindahkan ramen buatannya ke mangkuk. Mereka lalu duduk bersebelahan di atas karpet bulu dan menikmati semangkuk ramen berdua di depan televisi.
__ADS_1
"Ceritakan padaku tentang Melisa." Kata Karamel. Chenle menatapnya sanksi.
"Ga mau."
"Kenapa?"
"Nanti kamu cemburu."
Ucapan Chenle itu ada benarnya tapi Karamel tidak terima dengan fakta itu.
Gadis itu pun akhirnya menanyakan hal lain.
"Chenle... Apa kau benar-benar mencintaiku?"
Chenle buru-buru mengangguk. Menyembunyikan keraguannya.
"Tentu saja."
"Seandainya Melisa masih hidup, siapa yang akan kau pilih? Aku atau Melisa?"
Ini adalah pertanyaan jebakan, Chenle tau itu. Jika dia memilih Melisa maka Karamel akan merajuk, namun jika dia memilih Karamel gadis itu pasti tidak percaya padanya.
Chenle akhirnya menghela nafas lalu menatap Karamel dengan tatapan main-main.
"Kalau bisa dua kenapa harus satu." Jawabnya.
Karamel reflek memukul lengan Chenle.
"Dasar laki-laki maunya punya banyak wanita."
Chenle terkekeh lalu memeluk perut Karamel dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Makanya jangan nanya aneh-aneh. Melisa adalah masa laluku tapi kamu sekarang adalah masa depanku....."
Chenle diam sebentar lalu kembali menambahkan...
"...dan Yue."
__ADS_1
Bersambung...