Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
A day With Yue


__ADS_3

Memasuki Minggu ke 12 kondisi Karamel berbanding terbalik dengan sebelumnya. Di awal kehamilan Karamel memang merasa sangat sehat dan tidak mengalami keluhan apapun, tapi saat masuk usia 12 Minggu dia mulai merasakan mual yang hebat setiap mencium aroma tertentu.


Seperti saat dia mencium aroma parfum Chenle maka dia akan muntah, atau saat dia mencium bau nasi dan beberapa makanan lain. Alhasil selama beberapa hari terakhir Chenle pergi tanpa mengenakan parfum, selain itu dia juga meminta maid merekaulang isi kulkas agar Karamel mau makan.


Chenle merasa keputusannya untuk menyewa maid adalah hal yang tepat karena dia tidak bisa menemani Karamel sepanjang hari di rumah.


Selain itu kebutuhan makan Karamel dan Yue juga akan lebih terjaga.


Chenle secara khusus mendatangkan ahli gizi untuk mengecek isi dapurnya dan membuat menu-menu yang bisa dimakan Karamel.


Yang jadi masalah hanya Yue, bocah itu tidak suka diberi pengasuh baru. Dia ingin menempel pada Karamel setiap ada kesempatan. Tapi Chenle berusaha memberi Yue pengertian kalau mama nya itu sedang tidak sehat. Bocah itu akhirnya mengerti juga dan mau mengalah pada keadaan.


"Aku kerja ya..?"


Chenle mengusap kepala Karamel dengan sayang. Semalaman gadis itu tidur sambil memeluknya dan bersikap 3 kali lebih manja dari kondisi normal.


"Jangan... Disini aja.." Karamel membenamkan wajahnya di bawah lengan Chenle bahkan hampir mendekati ketiaknya.


"Mel aku 3 hari ga mandi loh, kamu ga kebauan?"


Gadis itu hanya menggeleng lalu mendongak menatapnya.


"Harusnya begitu kan ya?? Tapi gatau kenapa baunya malah enak."


Chenle tertawa mendengar pengakuan Karamel. Sepertinya bayi di perut Karamel benar-benar menyukai bau badan papa nya.


"Dia benar-benar anakku ya sampai bau papanya pun dia suka. "


"Ya kan cuma kamu yang nitip kecebong disini. Kalau bukan anak kamu anak siapa lagi?"


"Oh iya-ya..." Chenle tertawa seperti orang bodoh. Dia mencium bibir Karamel sebentar lalu kembali berujar,


"Kalau kamu gini terus aku bisa telat kerja Mel. "


"Kan kamu bosnya."


"Iya, tapi kan aku tetap harus ke kantor Mel. "


Karamel cemberut, dia melepaskan pelukannya dari Chenle lalu menggeser tubuhnya sampai ke pinggiran ranjang untuk menjauhi Chenle.


Melihat itu membuat Chenle tersenyum geli, entah kenapa Karamel dalam mode manja seperti ini sangat menggemaskan baginya.


"Kamu manja banget hmm?? Kalau gini ga tega aku mau pergi."


Karamel mendiaminya lalu memunggungi Chenle.


"Aku janji bakal pulang cepat deh. Jangan ngambek yah." Chenle mendekat, mencium pipi Karamel sebentar untuk membujuk gadis itu.


"Janji ya pulang cepat?"


"Iya sayang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Seperti yang Chenle bilang sebelumnya, Yue sangat rewel jika tidak bersama Karamel. Bahkan pengasuh barunya harus resign setelah Yue terus mengerjainya selama seminggu. Alhasil Chenle harus membawa Yue ke kantor saat dia pulang sekolah.


Chenle tidak terkejut ketika dia baru selesai meeting dan menemukan ruangannya telah berubah menjadi toko mainan.


Rel kereta lokomotif Yue terpasang di sepanjang ruangan, robot-robotnya berjejer di atas mejanya dan kumpulan action figur yang berserakan di lantai.


Chenle harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menginjaknya.


"Yue, kan tadi papa bilang bawa mainannya 1 aja." Chenle masih mencoba bersabar dan tidak memakai nada tinggi.


"Iya tapi Yue bingung mau bawa yang mana, jadi uncle Yangyang bantu Yue bawa semuanya."


Chenle langsung melirik Yangyang yang sedang merakit kereta lokomotif untuk Yue. Lelaki itu tersenyum datar dan mengangkat tangannya.


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin." Kata Yangyang. Laki-laki itu melambai pada Chenle dan kabur dari ruangan itu.


Sudah cukup pusing baginya mengurusi data perusahaan, dia tidak mau semakin pusing karena merangkai rel lokomotif Yue yang rumit.


Chenle menghela nafas untuk merileksasikan diri. Lelaki itu duduk dengan perlahan di kursinya tapi Yue tidak akan pernah membiarkannya tenang.


"Papaa...papaa...."


"Jangan teriak-teriak."


Yue berlari menuju mejanya dan naik ke pangkuan Chenle.


" Papa.." panggilnya sekali lagi karena Chenle masih belum menatapnya.


"Apa??"


Chenle bersandar. Dia memegangi pinggang Yue dan menatap iris mata berbinar Yue.


"Itu masih lama, sampai adik bayinya keluar."


"Memangnya siapa yang naruh adik bayi di perut mama?"


"Ya papa lah."


Mendengar itu Yue langsung memukul dada Chenle.


"Papa jahat, kenapa papa melakukannya dan membuat mama menderita."


Yue yang kritis selalu memberi hiburan tersendiri untuk Chenle. Bocah itu seringkali memakai kata-kata sulit yang dia contoh dari film yang dia tonton.


Chenle tersenyum lalu mencubit pipi Yue.


"Mama juga seneng kok sama adik bayi di perutnya."


Bocah itu terdiam cukup lama. Chenle pikir Yue mulai kehabisan pertanyaan, tapi ternyata dia salah. Yue hanya sedang mencari kata yang tepat untuk memuaskan rasa ingin tau nya.


"Gimana cara papa masukin adik bayi di perut mama ?"


Ddaeng~

__ADS_1


Chenle langsung terdiam. Lelaki itu menatap lurus dengan wajah berpikir.


Bagaimana dia menjelaskan ini ya?


"Mmm... Itu..papa masukin adik bayinya pas masih jadi benih." Chenle menggaruk-garuk belakang kepalanya, berharap Yue tidak akan bertanya lagi.


"Apa mama makan benihnya ?" Bocah itu berkedip-kedip lucu. Rasanya Chenle sangat gemas dan ingin meremas wajahnya.


"Yaaa....  bisa dibilang begitu."


Sudah cukup Chenle tidak mau memperjelas ini. Yue mungkin bisa berpikiran positif akan penjelasannya tapi Chenle tidak. Pemikirannya terlalu ambigu.


Di saat bersamaan Mark masuk ke ruangannya, lelaki itu sempat berhenti mendadak karena kakinya  menginjak action figur kurama milik Yue dan membuatnya terbelah 2.


"Upss~" Mark bergumam lalu menatap Chenle takut-takut.


"Sudah gapapa biarin aja."


"Yaahhh Kurama Yue... Aaaahhh papaaaa..." Yue merengek sambil menunjuk mainannya yang rusak.


"Nanti papa belikan lagi, sudah ga usah nangis."


"Yue mau kurama mode susanoo juga." Yue menatap Chenle dengan penuh tuntutan dan bibir merengut lucu.


Mark mendekati meja Chenle dan meletakkan sebuah map disana.


"Kakak punya kurama mode susanoo. Yue mau?" Kata Mark.


Chenle menatap Mark dengan mata memicing.


"Kakak? Harusnya Uncle." Kata Chenle.


Mark hanya tertawa.


"Aku terlalu muda buat di panggil Uncle."


"Yue mau, bawain yang besar yah Uncle."


Mark mengacak rambut Yue dan mengangguk.


"Besok ya, biar kak Echan yang bawain dari Chicago." Fokus Mark kembali pada Chenle yang sedang memeriksa map nya. Lelaki itu mulai terlihat serius.


"Orang-orang bibi Yue ramai-ramai mengajukan penjualan saham." Kata Mark.


"Ga masalah, masih banyak investor yang mau bergabung dengan King Head. Biarkan saja mereka melakukan hal dengan sia-sia."


"Oh ya.. " Mark mengeluarkan ponsel dari saku jas nya.


" Kakakku bilang ingin di belikan cheese cake dengan saus sambal di atasnya.


Hah? saus sambal??


Chenle menautkan alisnya dengan mata sedikit melotot. Melihat itu Mark hanya mengedikkan bahu lalu menjawab,

__ADS_1


"Bawaan bayi mungkin."


BERSAMBUNG.....


__ADS_2