Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Rumor 1


__ADS_3

Suasana kantor memang tidak selamanya kondusif. Semuanya terlihat seperti teman di depan tapi dibelakang situasinya bisa berbeda.


Seperti saat Karamel melintas di lobby pagi ini. Beberapa pegawai yang bertatap muka dengannya akan menyapa dengan segan, tapi kemudian berbisik-bisik ketika Karamel sudah menjauh.


Jangan dikira Karamel tidak tau itu. Bahkan dinding-dinding di kantor pun bisa menggemakan desas-desus yang tidak jelas.


Seperti apa katanya tadi, gosip tentang dirinya dan Chenle sedang hangat di bicarakan antara karyawan kantor. Ini karena dirinya yang sering pulang dan pergi ke kantor satu mobil dengan Chenle. Di tambah dengan perilaku Chenle yang terlampau akrab dengannya membuat kabar ini berkobar seperti api.


"Benar kan, kemarin juga dia pulang dengan Presdir Zhong. Satu mobil juga."


"Ah iya tempo hari katanya Karamel bertengkar dengan nona Shuhua di ruang CEO. Ada yang bilang dia tidak terima Presdir Zhong berduaan dengan nona Shuhua padahal kan nona Shuhua itu istrinya."


Karamel mengepalkan tangannya. Gadis itu berdiam diri di dalam bilik toilet dan tidak sengaja mendengar percakapan dimana dirinya adalah tokoh utama dalam percakapan itu.


"Sudah kubilang kan kalau pak Chenle itu selingkuh sama sekertarisnya."


Gadis itu lagi-lagi mendengus dengan sisa kesabaran yang coba dia tahan.


"Dasar ****** ga tau diri..."


Braaakkk....


Cukup sudah. Karamel tidak bisa bersabar lagi. Gadis itu menggebrak bilik toilet hingga engselnya patah.


Dia menatap tajam 2 karyawan yang tengah mengobrol di depan wastafel dan membuat keduanya melotot.


Karamel tidak mengatakan apapun tapi tatapannya yang mengerikan itu membuat 2 gadis tadi langsung pergi.


Mencari gara-gara dengan sekertaris Presdir itu bukan hal bagus. Karena jika Karamel sudah membuka mulutnya maka profesi mereka bisa hilang begitu saja.


"Sialan. Enak saja mengataiku ******." Karamel menggeram. Gadis itu membuka kran air dan mencuci tangannya dengan kasar.


Karamel langsung kembali ke lantai 7 tempat meja kerjanya berada, sebenarnya dia berencana untuk mampir ke cafetaria untuk membeli kopi tapi dia urungkan. Telinganya masih belum siap jika saja ada orang yang membicarakannya dibelakang seperti tadi.


"Dari mana?"  Chenle menatap bertanya pada Karamel yang baru saja tiba.


Lelaki itu sudah menunggu di depan meja Karamel selama 10 menit dan sempat menanyakan keberadaan gadis itu pada karyawannya yang lain tapi tidak ada yang tau.


"Toilet."


Wajah ketus Karamel menimbulkan kerutan halus di dahi Chenle.


"Kenapa?"


"Gapapa."


Jawaban singkat Karamel jelas membuat Chenle merasakan kejanggalan. Tapi lelaki itu tidak akan memaksa Karamel untuk bercerita jika dia tidak mau.


Chenle hanya mengulurkan tangannya berusaha mengusap kepala Karamel namun gadis itu menghindar. Tatapan Karamel tampak waspada dengan bola mata yang bergerak khawatir ke arah pegawai dari ruang HRD yang tengah melintas.

__ADS_1


"Kenapa sih??" Tanya Chenle keheranan.


"Kalau tidak ada hal lain yang perlu di bicarakan sebaiknya anda kembali ke ruang ceo."


Chenle mendengus. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman ketika Karamel menggunakan bahasa formal padanya. Padahal dulu Chenle tidak masalah dengan itu. Terlebih lagi gadis itu baru saja mengusirnya. Chenle jadi semakin kesal.


...🌷🌷🌷...


"Mama bikin apa?"


"Cumi asam manis, Yue mau?"


Bocah kecil itu menggeleng.


"Yue mau pie."


Kedua alis Karamel bertemu. Anak sultan satu ini memang sangat suka minta makanan yang aneh-aneh.


Apa dia tidak tau kalau kemampuan Karamel dalam bidang memasak itu sangat terbatas ?


"Mama ga bisa buat pie Yue, minta sama papa saja ya."


Bocah laki-laki itu menggeret kursi dan memanjatnya. Berdiri di sebelah Karamel dan menonton gadis itu memasak.


"Tapi mah, papa kan belum pulang."


"Iya, papa masih sibuk." Karamel meletakkan setetes bumbu tumisannya di telapak tangan lalu mulai mencicipinya.


"Enggak. Kenapa?"


"Biasanya kan papa pulang sama mama."


Karamel menghela nafas. Gadis itu mematikan kompor lalu berbalik menatap Yue.


Karamel memang sengaja pulang duluan menggunakan taksi. Dia tidak mau gosip di kantor jadi semakin buruk jika dia sering pulang bersama Chenle.


"Papa tadi masih ada urusan Yue, jadi mama pulang duluan."


Gadis itu menggendong tubuh Yue dan menurunkannya di lantai.


Bersamaan dengan itu suara pass code pintu yang di tekan berulang membuat Karamel menoleh kesana. Chenle muncul dari balik pintu.


Lelaki itu berjalan ke dapur dengan wajah tak bersahabat.


"Kenapa meninggalkanku?"


Karamel berkedip cepat lalu melirik kekanan dan kekiri, dia sedang mencari-cari alasan yang terdengar masuk akal.


"Cuma mau pulang cepat saja."

__ADS_1


Chenle terlihat tidak senang dengan jawaban Karamel, tapi toh lelah di tubuhnya membuat lelaki itu menahan sedikit emosinya dan memilih berlalu ke kamarnya.


Karamel duduk di meja makan lebih dulu, menunggu Chenle selama beberapa saat sambil memainkan ponsel.


"Yue makan duluan saja." Kata Karamel. Bocah kecil itu menggeleng.


"Yue mau nungguin papa." Katanya.


Karamel mengangguk. Dia kembali menatap layar ponselnya. Memeriksa semua notifikasi dan email masuk, lalu di buat tercengang pada laporan mutasi bank nya sendiri.


"Astaga.. apa-apaan dia.."


Ada alasan yang membuat Karamel langsung berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Yue tunggu disini ya." Katanya sebelum pergi.


Gadis itu berjalan ke arah kamar Chenle. Dia nyelonong masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan menyesal setelahnya.


Chenle baru saja selesai mandi dan hanya memakai boxer saat Karamel menerobos masuk. Gadis itu otomatis berbalik dengan wajah merona.


"Ada apa?" Tanya Chenle santai. Dia berjalan mendekati Karamel.


"Itu.. kenapa kirim uang sebanyak itu ke rekeningku?" Karamel menunjukkan ponselnya. Masih dengan posisi membelakangi Chenle.


"Ya itu uang belanjamu."


Karamel langsung berbalik dengan mata terbelalak.


"Uang belanja apaan yang nilainya 2M tuan Zhong Chenle???"


"Uang belanjamu sebagai nyonya Zhong memang segitu. Kenapa? Kurang?" Chenle tersenyum miring. Wajahnya terlihat menyombong dan sedikit menggoda.


Lelaki itu berjalan mendekati Karamel dan membuat gadis itu mundur selangkah saat jarak mereka sangat dekat.


"Kebanyakan. Aku ga mau terima."


"Kamu istri yang aneh ya, di kasih uang banyak malah nolak." Chenle melipat tangannya di depan dada. Sejenak lelaki itu tersadar jika dia belum mengenakan pakaian.


"Takut boros Chenle."


"Ya gapapa lah, perempuan kan kebutuhannya banyak. "


Karamel terdiam. Wajahnya masih tidak terima, dengan bibir mungil yang mengerucut lucu. Sungguh Chenle gemas ingin sekali menciumnya.


"Mel.."


Karamel tidak menjawab, tapi lirikannya pada Chenle seolah menjadi perwakilan atas jawaban gadis itu.


"temenin aku tidur ya..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2