![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"ini laporan pengeluaran bulan ini."
Yuqi meletakkan flash disk berwarna hitam di meja Karamel.
"Ada 3 pengeluaran besar bulan ini, 2 di antaranya adalah klaim asuransi karena kecelakaan dan butuh ACC Presdir Zhong segera. "
Karamel menautkan alisnya. Tampak was-was dengan berita ini.
"Ada kecelakaan? Sudah di investigasi?"
"Udah, kesalahan ada di pihak kita. Laporannya udah ada di dalam."
'waduh, ngamuk lagi ini lumba-lumba shanghai.'
"Oke, makasih ya Yuqi." Karamel menerima flashdisk itu dan mencolokkannya ke komputer. Gadis itu akan mempelajari laporannya dulu sebelum menyampaikannya kepada Chenle.
"Hati-hati, takutnya Presdir Zhong ngamuk lagi kayak kemaren." Yuqi menunduk dan setengah berbisik pada Karamel.
"Udah biasa itu." Jawab Karamel.
"Tapi kayaknya mood dia lagi bagus ya beberapa hari terakhir. Apa karena efek pengantin baru? Sumpah sih dia beruntung banget dapetin Yeh Shuhua."
Karamel menghentikan kegiatannya. Dengan mulut terbuka dia melirik Yuqi.
'sebenernya yang dia kawinin itu gue Yuqi bukan Shuhua.' batin Karamel.
Tentang batalnya pernikahan Chenle dan Shuhua memang tidak ada yang tau. Pihak keluarga menutup rapat berita ini.
Ingin rasanya Karamel memberitahu Yuqi tapi Karamel sadar diri dimana posisinya. Akan lebih baik jika tidak ada yang tau dengan siapa sebenarnya Chenle menikah.
"Ya bisa jadi. Shuhua kan aktris terkenal." Karamel tersenyum palsu.
"Heh ngobrol Mulu. Kerja !" Itu suara Renjun, ketua dari divisi keuangan. Lebih tepatnya atasan Yuqi.
Mendengar bentakan Renjun membuat Yuqi langsung pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal pada Karamel.
Wajah Renjun yang tegas dan terkesan ketus berubah sedikit ramah ketika menatap Karamel.
"Ini laporan pengajuan kompensasinya yah Mel, semoga dia ga ngamuk." Renjun Menaik turunkan 2 alisnya lalu pergi.
Karamel menghela nafas. Kakinya terasa nyeri lagi meskipun dia sudah bisa berjalan hari ini. Tapi nampaknya nasib baik masih enggan menghampirinya, Karena di tengah hari yang damai ini Karamel akan melihat kemurkaan Chenle lagi.
Sebenarnya sejak lama dia ingin semua komplain atau laporan langsung di antar ke meja Chenle tanpa melalui dirinya. Setidaknya jika ada kesalahan mereka akan dimarahi bersama-sama. Kalau begini kan jadinya seperti Karamel yang menjadi tameng para ketua divisi.
'Menyebalkan.'
Dia menarik nafasnya sekali lagi sebelum mengetuk pintu ruangan Chenle dan masuk kedalam.
Lelaki itu tengah memeriksa sesuatu di tabletnya sambil bersandar santai menghadap langit cerah di luar jendela.
__ADS_1
"Kenapa mukamu kusut begitu?"
"Ga usah banyak tanya, baca aja laporannya." Karamel nampaknya melupakan bahasa formal yang seharusnya dia pakai saat di tempat kerja.
"Yang barusan kamu kirim ke Email?"
Karamel mengangguk.
Chenle menegakkan tubuhnya. Menghadap kembali ke layar komputernya dengan wajah serius. Dia tidak terkejut, tidak juga menatap tajam, tapi helaan nafasnya yang gusar seolah menjelaskan kalau dia tidak senang sekarang.
"Kompensasi? Sudah di selidiki?"
"Ya, menurut penyelidikan kecelakaan itu akibat kesalahan pemasangan rem dan gagalnya airbag."
"Apa ada kesalahan dalam produksi lain? "
Karamel menscroll tablet di tangannya untuk memeriksa kembali.
"Sampai saat ini tim Checker masih melakukan pemeriksaan ulang. Tapi kemungkinan besar haya 3 mobil dari kasus itu saja yang eror."
Chenle meletakkan tablet di tangannya dengan cara membantingnya. Itu sedikit membuat Karamel terkejut.
"Ini artinya tim Housing melakukan kesalahan kan? "
"Kemungkinan iya, tapi untuk kesalahan pemasangan rem itu bisa jadi salah tim setting."
Chenle mengetuk-ngetukkan jarinya dengan gelisah. Alisnya sudah menyatu, Karamel tau lelaki itu tengah menahan amarahnya sekarang.
"Oke." Jawab Karamel singkat.
"Tau ga sih mereka kesalahan begini itu taruhannya nyawa? Ini menyangkut keselamatan orang lain loh." Chenle masih mengomel dan Karamel memilih diam mendengarkannya.
"Kalo gini caranya kita bisa di tuntut. Selain itu kompensasinya juga ga sedikit. " Chenle masih melanjutkan kemarahannya.
"Iya-iya tapikan itu bukan saya yang membuat kesalahan kenapa marah-marahnya ke saya??" Karamel mendengus. Ekspresi Chenle akhirnya berubah lebih tenang.
"Iya maaf aku emosi. "
Karamel mencebikkan bibirnya. Gadis itu memutar posisinya dan berjalan perlahan, cidera kakinya itu sungguh menghambat pekerjaannya.
"Tunggu. Mau kemana?"
"Balik keluar Lah."
"Disini aja." Kata Chenle. Lelaki itu menunjuk sofa di sisi ruangannya dan menyuruh Karamel duduk di sana.
"Kan udah aku bilang ga usah pakai heels. Kalau sakitnya tambah parah gimana ?" Chenle mendengus. Lelaki itu duduk di samping Karamel dan menarik kaki Karamel paksa lalu meletakkannya di atas pahanya.
"Sakit ! Pelan-pelan."
__ADS_1
"Makanya kalau suami ngomong itu di dengerin."
Mendengar kata Suami membuat Karamel sedikit merona. Kenyataan itu masih tidak bisa dia terima.
"Sst.. jangan keras-keras. Kalau ada yang denger gimana?"
Masalahnya adalah semua orang pikir Chenle menikahi Yeh Shuhua, bukan dirinya.
"Biarin aja." Chenle menaikkan rok Karamel dan melihat lebam di lututnya yang masih membiru.
"Pake sendal aja." Lanjut Chenle.
"Ga bawa. Lagian yang sakit lututnya bukan kakinya. " Kata Karamel. Chenle mendengus.
"Bandel ya kalau di bilangin suami."
Karamel mendengus, dia menurunkan kakinya dari pangkuan Chenle. Posisi itu membuat mereka terlihat ambigu.
Keduanya pun sama-sama terdiam, Karamel dan Chenle memang jarang mengobrol di luar topik pekerjaan. Kadang juga mereka merasa canggung satu sama lain.
"Besok hari ibu." Kata Chenle tiba-tiba.
"Lalu?"
"Ya.. kamu temenin Yue di sekolahnya." Chenle menatap Karamel, menunggu tanggapan gadis itu.
"Kenapa bukan bapak aja?"
"Kan kamu ibunya."
'aahhh..' karamel mendesah. Ingat akan status barunya sekarang.
"Lalu pekerjaanku?"
"Pekerjaan itu nomor 2, yang utama. Itu Yue."
Karamel mengangguk tanda kalau dia setuju.
"Yue kelihatan semangat banget soalnya punya ibu baru saat perayaan hari ibu di sekolah."
Chenle tersenyum. Karamel diam-diam menatapnya. Entah kenapa dia juga merasa bahagia ketika Yue bahagia. Meskipun bukan anak kandungnya tapi Karamel benar-benar menyayangi Yue.
Chenle tiba-tiba membalas tatapannya. Dua orang itu saling menatap dan mengalihkan pandangan karena canggung.
"Ayo pulang. "
Karamel melihat jam di tangannya.
"Masih belum waktunya pulang."
__ADS_1
"Aku bosnya, aku pengen pulang ya tinggal pulang aja."
Bersambung....