Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Keluarga


__ADS_3

...Ꮚ⁠˘⁠ ⁠ꈊ⁠ ⁠˘⁠ ⁠ᏊᏊ⁠˘⁠ ⁠ꈊ⁠ ⁠˘⁠ ⁠ᏊᏊ⁠˘⁠ ⁠ꈊ⁠ ⁠˘⁠ ⁠Ꮚ...


Family Gathering telah berakhir, itu artinya para pegawai harus kembali fokus bekerja setelah perusahaan memanjakan mereka.


Sesuatu berubah setelah Family gathering terutama suasana di kantor. Entah ini hanya perasaan Karamel saja atau bagaimana, karena setiap pegawai terlihat tunduk saat melewatinya.


Tidak ada yang berani berbisik-bisik di belakangnya lagi atau melirik sinis padanya. Apa ini efek dari kata-kata Chenle saat itu?


Ya pasti begitu.


"Eh.. Karamel." Yuqi menyapanya pagi ini, dengan sebuah map yang harus Chenle tanda tangani.


Gadis itu juga berubah, dia terlihat lebih canggung padanya.


"Biasa saja Yuqi jangan terlalu formal."


"Aku takut Presdir Zhong memecatku kalau bicara informal denganmu. "


"Ga akan, santai saja seperti biasanya hmm..."


Yuqi mengangguk. Dia menjelaskan apa yang dia bawa.


"Itu proposal pengadaan fasilitas kantor. Harus di tanda tangani hari ini." Kata Yuqi.


"Oke." Karamel menerimanya, lalu menatap Yuqi yang masih anteng di tempatnya seolah ada hal lain yang coba gadis itu utarakan.


"Jadi... Presdir Zhong benar-benar menikahimu? Bukan Yeh Shuhua???"


"Bukan. " Jawab Karamel singkat.


"Kenapa ga konfirmasi dari awal biar orang lain ga salah paham?"


"Aku cuma ga suka mengungkap urusan pribadiku."


Yuqi bergumam 'aaahhh' panjang disertai anggukan.


"Oke, nyonya Zhong mohon bantuannya ya..." Gadis itu mengerling dan melambai sebelum pergi.


'nyonya Zhong huh?'


Apa itu panggilan barunya?


Entah kenapa Karamel jadi terbebani dengan panggilan itu.


Gadis itu beranjak dari kursinya dengan membawa proposal dari Yuqi. Karamel mengetuk pintu ruangan Chenle dua kali sebelum masuk kesana.


Chenle mengalihkan tatapannya dari layar komputer saat melihat Karamel. Lalu memusatkan perhatian sepenuhnya pada sang istri.


"Ini proposal pengadaan fasilitas kantor yang harus di tanda tangani." Karamel meletakkan proposalnya di meja Chenle.

__ADS_1


Lelaki itu menatapnya serius.



"Bawa kesini."


Karamel mengangkat sebelah alisnya heran. Bukankah Karamel sudah menyodorkannya di meja Chenle?


Lalu apa lagi yang dia mau?


Gadis itu mendorong map proposalnya lebih dekat ke arah Chenle tapi lelaki itu tetap memprotesnya.


"Bawa ke sebelah sini." Kata Chenle lagi.


Karamel berdecak, dia mengambil kembali map itu dan berjalan ke samping kursi Chenle. Lalu Karamel meletakkan nya tepat di hadapan Chenle.


Chenle memutar kursinya menghadap Karamel, lalu menarik pinggang gadis itu hingga dia jatuh terduduk di atas pangkuannya.


"Presdir Zhong !!" Karamel memekik karena terkejut.


"Sebentar aja."


Chenle melingkarkan tangannya di perut Karamel lalu mulai menciumi pipi gadis itu.


Ahh.. iya...


selain suasana kantor yang berubah, perilaku Chenle di kantor dan di rumah juga berubah. Kantong hormon lelaki itu sepertinya sudah jebol hingga Chenle selalu ingin menempel dengannya tanpa tau tempat.


"Aku tau, aku cuma mau cium. Lagipula di rumah ada Yue jadi ga bisa bebas."


Karamel mendengus, dia membiarkan Chenle seperti itu selama beberapa saat lalu kembali protes ketika Chenle tidak bisa mengendalikan tangannya.


"Chenle !!"


"Apa aku buat kamar saja ya di sini biar kita punya tempat privasi untuk...."


"Jangan aneh-aneh... Kau sudah mendapat jatahmu kemarin." Keluh Karamel. Bahkan bekas kissmarknya saja masih belum hilang.


"5 menit itu kurang Mel." Chenle cemberut, dia meletakkan dagunya di atas pundak Karamel.


Dalam posisi itu dia masih bisa memeriksa proposal yang Karamel bawa dan menandatanganinya.


"Mel.." Chenle mulai merengek dan membuat perasaan Karamel tidak enak.


"Fast *** yuk Mel. "


"Ini di kantor tuan Zhong ! Ada cctv disini."


Bicara soal cctv Karamel jadi ingat kalau ruangan Chenle sekarang juga ada cctv nya. Security mungkin saja sedang melihat kemesraan mereka di monitor.

__ADS_1


Karamel buru-buru beranjak dari pangkuan Chenle tapi lelaki itu menahannya.


"Mau kemana ?"


"Keluar."


"Disini aja." Chenle memeluknya posesif. Lelaki itu menciumi rambut Karamel dan kembali meletakkan dagunya di pundak Karamel.


"Kalau ada yang lihat gimana???"


Belum juga Karamel tutup mulut, Yangyang masuk tanpa permisi ke ruangan Chenle. Lelaki berpredikat playboy itu terperanjat selama 3 detik lalu memasang wajah mencibir.


"Aiishh... Kalian ini ga tau tempat yah.."


"Kau yang ga tau tempat, main masuk aja ga pake ketuk pintu." Sindir Chenle. Lelaki itu lagi-lagi menahan tubuh Karamel yang akan beranjak.


Sementara Karamel sendiri wajahnya sudah memerah karena menahan malu.


"Ada apa?" Tanya Chenle to the point. Lelaki itu ingin Yangyang segera pergi agar dia bisa berduaan lagi dengan Karamel.


"Kenapa kau tidak mengangkat telepon kakek?" Yangyang bersedekap di depan pintu. Dia malas mendekat karena posisi Karamel dan Chenle yang ambigu.


"Malas."


"Dia mengundang kita makan malam nanti. "


"Katakan aku tidak akan datang."


2 sudut bibir Yangyang melengkung kebawah, dan dia mengangguk-angguk.


"Yah.. kurasa memang lebih baik kau ga usah datang. Jaga saja Karamel."  Tatapan Yangyang beralih dari menatap Chenle kini menatap Karamel yang menutupi wajah merahnya.


"Cepatlah hamil Mel. Itu akan menguntungkan posisimu." Yangyang menyeringai.


"Tapi jangan bikin anak di kantor juga.. ga etis banget." Yangyang terkekeh lalu meninggalkan ruangan Chenle.


Karamel langsung memukul lengan Chenle karena lelaki itu sudah membuatnya malu. Sementara Chenle bukannya marah dia malah tertawa.


"Jangan marah-marah nanti cantiknya hilang." Kata Chenle.


"Bodo amat."


Karamel beranjak dari pangkuan Chenle. Lelaki itu akhirnya melepaskan rengkuhannya.


"Tapi.. ngomong-ngomong.. apa tidak masalah kalau kamu ga datang di acara keluarga?"


Wajah Chenle seketika berubah serius.


"Kamu dan Yue adalah keluargaku. Aku ga butuh keluarga yang lainnya. "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2