Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
'I Want You"


__ADS_3

"Papa..."


Chenyue menatap Chenle dan Karamel bergantian, begitu juga dengan Yangyang.


"Kalian habis makan apa? Kenapa bibirnya merah-merah?" Yue menatap kedua orang tuanya bingung, sementara Yangyang yang sadar apa yang terjadi kini mulai tertawa sambil menutup mulutnya.


Karamel dan Chenle saling pandang dengan mata melotot lalu reflek mengusap mulut masing-masing. Lipstick Karamel belepotan kemana-mana. Baik itu di bibir Chenle maupun di bibir Karamel sendiri.


"Astaga.. jadi ini alasanmu menyuruhku membawa Yue tadi?? "


"Sst.."Chenle mendesis dan berusaha menginjak kaki Yangyang tapi lelaki itu sudah lebih dulu menghindar.


" Sulit ya berduaan kalau ada Yue??" Kali ini Yangyang menggunakan nada mengejeknya.


"Memangnya papa sama Mama mau kemana?"


"Ga kemana-mana Yue." Karamel langsung menggandeng Yue masuk kamar. Mengalihkan perhatian bocah itu menjadi prioritasnya sekarang.


"Pergi sana." Usir Chenle pada Yangyang lelaki itu mendengus sambil melipat tangan di dada.


"Aku mau berbaik hati memberitahumu hal baik, jadi berperilaku baiklah padaku "


"Apa?"


Yangyang melongok ke dalam sebelum dia mulai bicara. Lelaki itu memastikan Karamel tidak akan mendengar pembicaraan mereka.


"Bibi Ye sedang merencanakan sesuatu."


"Mama nya Shuhua?"

__ADS_1


Yangyang mengangguk.


"Setelah insiden kemarin kurasa dia akan membuat rencana untuk membujuk kakek lagi."


Dahi Chenle berkerut. Lelaki itu menatap Yangyang dengan serius.


"Kurasa tidak akan semudah itu membuat Kakek luluh. Shuhua sudah membuat kesalahan besar, dia mempermalukan keluarga."


"Iya-iya aku tau itu, tapi apapun bisa terjadi, aku hanya memperingatkan mu."


Chenle mengangguk mengerti, lelaki itu menepuk lengan Yangyang.


"Terima kasih."


"Berhati-hatilah, jaga Karamel baik-baik, kita semua tau bagaimana perangai bibi Ye. Aku pergi."


Selepas kepergian Yangyang, Chenle masuk ke kamarnya dan menemukan Karamel yang sudah tidur sambil memelukĀ  Yue.


Chenle menatap Karamel frustasi.


Dia akhirnya ikut berbaring di samping Karamel dan memeluk gadis itu dari belakang.


Lagi dan lagi, aroma shampoo yang Karamel gunakan benar-benar menyihirnya. Chenle rasanya seperti sedang mabuk saat wangi lavender itu menggelitik Indra penciumannya.


Chenle menyusupkan kepalanya di tengkuk Karamel, dia menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam sebelum mulai mengecup setiap sisinya.


Suara kecupan dan juga sensasi basah menggelikan yang Karamel rasakan membuat gadis itu kembali terjaga. Karamel sempat terkejut selama beberapa detik sebelum ia sadar siapa yang dengan kurang ajar memeluk dan menciumnya ketika dia tidur.


"Chenle, tidur sebelah sana." Perintah Karamel.

__ADS_1


Biasanya Chenle akan tidur di sisi lain ranjang dan membiarkan Yue berada di tengah.


Chenle tidak menjawabnya tapi Karamel bisa merasakan lelaki itu menggeleng. Bibir Chenle bergerak nakal di belakang lehernya dan mulai menghisap permukaan kulitnya. Karamel meremang seketika dan kehabisan kata-katanya. Gadis itu memejamkan mata untuk merasakan sensasi aneh itu selama beberapa detik sebelum kembali protes.


"Chenle..."


"Mel.. aku menginginkanmu." Gumam Chenle dalam suara parau.


Karamel sedikit melotot. Tanpa aba-aba dia melepaskan pelukan Chenle dan langsung duduk. Chenle jadi ikut duduk karena terkejut dengan respon Karamel.


"Kenapa?"


Karamel hanya melirik Chenle tapi dia tidak berkata apapun. Sampai akhirnya Chenle sadar kalau gadis itu menolaknya. Chenle jadi teringat kata-kata Renjun tempo hari.


"Maaf, kau pasti merasa aku sedang melecehkan mu ya?"


Karamel menatap Chenle. Dia tampak bimbang dan terlalu bingung untuk merespon.


"Tidurlah, aku akan tidur di sofa. Sekali lagi aku minta maaf." Chenle menyematkan senyumannya lalu mengusap kepala Karamel sebelum dia pergi.


Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu. Melamun selama beberapa saat dan memilih menyalakan televisi untuk membunuh suara bising di kepalanya.


"Kau kehilangan kendali Zhong Chenle." Gumamnya pada diri sendiri. Chenle menertawai dirinya yang tampak menyedihkan.


Terlalu lama menduda membuat Chenle hilang kendali. Lelaki itu mengusap wajahnya yang tampak frustasi. Mencoba mengendalikan libidonya yang sedang berada di puncak.


"Dia pasti kesal." Gumam Chenle lagi. Jelas dia merasa bersalah pada Karamel.


Chenle akhirnya memilih berbaring di sofa, tanpa bantal, tanpa selimut. Dia berusaha mengalihkan pikirannya dan menjaga sisi rasionalnya tetap bekerja sebagaimana mestinya. Membiarkan pikirannya kosong adalah cara yang terbaik untuk Chenle menemukan kantuknya, lalu dia akan melupakan segala yang terjadi hari ini dan mulai tidur.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2