![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Karamel merasakan kondisi fisiknya tidak seperti biasanya, gadis itu merasa lemas dan kelelahan padahal tidak melakukan apapun. Selain itu dia juga menjadi sedikit pelupa.
Seperti kemarin saat dia lupa membawa pakaian Chenle ke tempat laundry hingga membuat suaminya itu harus pergi bekerja dengan mengenakan setelan kaos dan jeans padahal hari ini ada meeting penting.
Beruntungnya Chenle tidak marah. Lelaki itu malah mencium puncak kepalanya dan berkata 'tidak apa-apa'.
Sebenarnya Chenle dalam balutan jas kerja itu sangat karismatik, tapi Chenle dalam pakaian casual justru terlihat lebih mempesona.
Karamel bahkan tidak bisa berhenti meliriknya saat dia menerangkan proyek mereka di depan kepala departemen.
Chenle tidak melakukan apapun selama presentasi, lelaki itu hanya menatapnya dengan intens hingga membuat Karamel salah tingkah.
"Jadi seperti itu.." Karamel sesegera mungkin menutup sesi presentasinya agar dia bisa cepat duduk.
"Baiklah.. aku pikir semua proyek bulan ini sudah dijelaskan oleh Karamel dengan sangat mendetail, aku harap kalian bisa berkerja dengan maksimal... " Chenle menatap Laptopnya sesaat sebelum menutup sesi rapat mereka.
"Sayang, kirimkan file yang barusan padaku."
Karamel langsung melotot mendengar panggilan dari Chenle. Bukan hanya dia saja tapi para kepala departemen juga terkejut dan saling berbisik.
Karamel menunduk sungkan saat melewati kursi mereka untuk menghampiri Chenle dan menyerahkan flashdisk nya.
"Kalian boleh kembali sekarang." Kata Chenle.
Tepat ketika semua orang sudah meninggalkan ruang rapat, Karamel mulai menampakkan wajah kesalnya.
"Chenle.. jangan memanggilku begitu di kantor." Karamel menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah menggemaskan.
"Memangnya kenapa?" Chenle menahan senyumannya.
"Malu tau."
"Biar saja, biar mereka semua tau." Chenle merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya, dia juga mengambil alih map yang di bawa Karamel agar gadis itu tidak kerepotan.
Lelaki itu berjalan beriringan dengan Karamel keluar ruang rapat dan selama berjalan itu pula Chenle tidak bisa menahan tangannya untuk tidak merangkul pinggang Karamel hingga gadis itu harus menghindar beberapa kali.
__ADS_1
Karamel dan Chenle masuk secara bersamaan ke dalam lift yang setengah penuh. Seluruh karyawan disana menunduk memberi salam dan menyingkir ketika melihat bos mereka masuk.
"Selamat pagi pak.."
"Selamat pagi.."
Chenle hanya mengangguk untuk membalas sapaan mereka. Lelaki itu berdiri di bagian paling belakang dan tangan yang masih setia merengkuh pinggang Karamel.
Gadis itu menahan napas ketika Chenle mengusap punggungnya dengan ujung jemari yang terasa menggelitik namun dia mulai mendengus ketika tangan Chenle bergerak turun ke bokongnya dan meremasnya.
"Chenle..!!" Karamel memperingatkannya namun dengan nada bisikan. Itu tidak terdengar mengancam dan malah terdengar lucu di telinga Chenle.
Chenle terkekeh melihat Karamel yang melotot padanya lalu menjauhkan tangannya dari gadis itu.
Sampai saat semua pegawainya turun dari lift, Chenle akhirnya kembali merapat. Dia berbisik di telinga Karamel.
"Main yuk Mel."
...****************...
Kejadian terakhir kali saat dia memergoki Chenle dan Karamel nyaris mesum di ruang CEO membuat Yangyang trauma. Lelaki itu jadi teringat untuk mengangkat tangan kanannya dan mengetuk pintu ruangan Chenle sebelum masuk.
Namun sebelum tangannya menyentuh permukaan pintu, seseorang membuka pintunya dari dalam.
"Karamel?" Gumam Yangyang.
Dia menatap Karamel dari atas kebawah dan merasa bingung pada penampilan Karamel yang berantakan. Selain itu cara berjalannya juga aneh.
Yangyang menggeleng dengan ekspresi aneh, lalu berjalan masuk ke ruangan Chenle tanpa bertanya apapun pada Karamel.
Nampaknya keanehan itu tidak hanya ada pada Karamel saja, tapi Chenle juga. Lelaki itu sedang memasang ikat pinggangnya saat Yangyang masuk, lalu berjalan dengan memegang pinggangnya ketika menghampiri Yangyang.
"Sakit pinggang??" Tanya Yangyang iseng.
"Iya. "Chenle duduk di samping Yangyang.
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Kebanyakan main sama Karamel."
Yangyang reflek terkekeh. Lelaki itu bersandar sambil menutup wajahnya saat tertawa.
"Habis menduda 4 tahun begitu punya istri baru rasanya jadi kayak manusia hiper ya."
"Jangan ngeledek." Chenle mendengus.
"Nomong-ngomong tumben kesini pagi-pagi?" Chenle menatap Yangyang yang datang dengan tangan kosong. Biasanya lelaki itu akan membawa file atau map saat memiliki kepentingan dengan dirinya. Tapi kali ini tidak.
"Ahh... Iya." Yangyang menegakkan tubuhnya sebelum kembali bicara.
"Aku mendengar para investor kubu bibi Ye sedang membujuk dewan direksi untuk membuat mosi pemecatan CEO."
Wajah Chenle berubah serius. Kedua alisnya menyatu ketika matanya memberi tatapan tajam pada Yangyang.
"Apa karena pernikahannya batal?"
"Itu salah satunya, namun hal lain yang membuat bibi Ye sakit hati adalah karena kau menolak datang saat acara keluarga kemarin."
Yangyang merapat ke arah Chenle lalu bicara dengan suara lirih.
"Kudengar Shuhua hamil dan bibi Ye meminta kakek untuk memaksamu bertanggung jawab."
Kerutan di wajah Chenle terbentuk ketika merasa jika dirinya diperlakukan tidak adil dan di tuduh sembarangan. Chenle membuka suara.
"Bukannya dia hamil sama pacarnya?"
"Itu sudah jelas tapi bibi Ye ga akan terima orang biasa melamar Shuhua, dia akan menuduhmu dan menggunakan kehamilan Shuhua sebagai senjata untuk melawanm."
Chenle akhirnya diam. Jika memang begitu rencana bibi Ye maka posisinya tidak akan menguntungkan untuk pihak Chenle.
"Pilihannya cuma dua.. kau mau kehilangan perusahaan atau kehilangan Karamel."
__ADS_1
BERSAMBUNG...