![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Rencana untuk menghancurkan perusahaanmu sendiri itu keputusan yang gegabah, menghancurkannya sama artinya dengan kau menghancurkan kepercayaan customer. Bahkan jika kau membangun perusahaan baru pun mereka akan sulit percaya lagi padamu."
Chenle terdiam, menatap kosong pada embun es yang membuahkan buliran air di luar gelas americanonya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja selagi otaknya memikirkan perkataan Johnny.
Ini masuk akal sebenarnya. Chenle membangun image yang baik selama dia berbisnis dan dia bekerja secara jujur hingga berhasil mendapat kepercayaan customer. Lalu... Apakah dia harus mengacaukan sesuatu yang sudah dia bangun dengan susah payah?
"Daripada menghancurkannya kenapa ga coba merebutnya kembali? "
"Merebutnya kembali bukankah sama artinya dengan membiarkan mereka mencampuri kehidupan pribadiku lagi?"
Johnny bergumam dengan telunjuk yang menempel di bibirnya. Gestur tubuhnya terlihat santai, namun Sel otaknya tengah bekerja keras untuk berpikir.
"Kau tau bagaimana cara herbivora bertahan hidup dari ancaman predator? " Tanya Johnny. Chenle menggeleng lemah.
"Mereka mengancam balik. Melakukan segala cara untuk bertahan hidup dan melindungi keluarganya. Itulah yang mereka lakukan. "
"Papa mau aku mengancam balik?" Sebelah alis Chenle terangkat. Dia menatap Johnny yang juga menatapnya.
"Ya. Kau bilang sebelumnya kau mengancam akan menyebarkan video putrinya kan? Kita cari bukti rekaman cctv itu lalu menggunakannya untuk mengancam bibi mu."
Chenle menarik nafas panjang. Lelaki itu terlihat tidak tenang, dia menggigit bibir bawahnya dan mencoba berpikir.
"Tapi aku cuma mengada-ngada saat itu, aku tidak tau apa Shuhua benar-benar tidur dengan pacarnya atau tidak. Mencari rekaman cctv di seluruh china tidak akan semudah itu."
"Itulah kenapa diciptakan pekerjaan sebagai detektif." Johnny menegakkan tubuhnya, lalu menunduk untuk meraih ice americano yang dia pesan.
Bongkahan ice batunya sudah meleleh, itu jelas mempengaruhi rasanya. Namun Johnny tidak mempermasalahkan itu dan tetap meminumnya.
"Aku akan menyuruh orangku mencari tau." Lanjut Johnny lagi.
Chenle tersenyum tipis. Merasa beruntung memiliki papa mertua yang sangat bisa di andalkan seperti ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Chenle dan Johnny baru pulang saat menjelang petang. Sebentar lagi waktunya makan malam, itulah kenapa Wendy dan Haechan sibuk di dapur.
Karamel tidak ada disana saat Chenle ke dapur, lelaki itu menduga kalau Karamel ada di kamar, untuk itu Chenle langsung menuju ke lantai 2.
Dan benar perkiraannya, gadis itu baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias.
Chenle memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya pada pundak Karamel dan tersenyum ketika menatap pantulan mereka di cermin.
"Chenle kita perlu bicara." Wajah Karamel tampak galak. Dia melepas paksa tautan tangan Chenle yang menyatu di perutnya.
"Kenapa hmm???" Chenle menegakkan tubuhnya dan bersiap mendengarkan apapun keluh kesah Karamel.
"Kembalilah ke Beijing."
Kedua alis Chenle bertaut.
"Kenapa?"
"Jangan pura-pura ga tau. Aku ga akan bahas kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, istri sekaligus sekertarismu. Aku cuma mau kamu kembali dan bertanggung jawab." Karamel kembali berbalik menatap cermin. Menatap wajah Chenle hanya akan membuat sisi egoisnya kembali bangkit.
Karamel hanya diam selama lebih dari 1 menit. Itu membuat Chenle tidak sabar dan akhirnya membalik tubuh gadis itu untuk menghadapnya.
"Mel...."
"Kamu hamili Shuhua, jangan pura-pura ga tau. Selain itu gara-gara aku juga kamu jadi kehilangan perusahaan."
"Mel..." Chenle baru saja akan membantahnya namun lagi-lagi Karamel memotong.
"Sepertinya aku terlalu banyak menyusahkanmu ya. Hidup denganku mungkin akan membuatmu kesulitan. Lebih baik kau pergi dan temui Shuhua."
"Karamel Zhong dengarkan suamimu dulu. Aku ga hamilin Shuhua. Dia itu hamil sama pacarnya. "
Karamel seketika diam matanya melebar dengan air matanya yang tertahan di pelupuk mata.
__ADS_1
"Apa bibi Ye meneleponmu??? Apa dia bicara yang aneh-aneh hmm??"
Karamel tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas lalu menunduk dan menggeleng lemah.
"Dengar ya. Bibi Ye mencoba menjebakku, dia memaksaku bertanggung jawab dan menjadikan perusahaaku sebagai ancaman."
"Jadi... Kau memilihku dan itu membuatmu kehilangan perusahaan???" Suara Karamel melemah, gadis itu tetap menunduk dengan air matanya yang mulai jatuh.
"Chenle.. bukankah Kinghead sangat berharga bagimu?"
Chenle ikut menghela nafas. Bahunya merosot dan wajahnya tampak murung.
"Iya. " Dia menjawab dengan suara lirih.
"Kalau begitu... Kau seharusnya pergi dan menuruti mereka kan? Bertanggung jawablah pada Shuhua dan dapatkan kembali perusahaanmu." Karamel mendongak menatap kilatan amarah yang mulai memercik dari kedua iris kelam Chenle.
"Kau menyuruhku bertanggung jawab atas anak orang lain lalu membuat anakku sendiri tumbuh tanpa seorang ayah??? Jangan bercanda Mel."
Karamel tau ini sangat kejam baik itu untuk Karamel, untuk Chenle dan juga Yue. Namun keberadaan Karamel justru membebani Chenle.
Persis seperti kata Shuhua, Karamel sudah membuat hubungan baik di antara keluarga Zhong rusak dan Karamel merasa bersalah dengan itu.
"Lalu kalau kamu sudah ga punya perusahaan mau kamu kasih makan apa aku dan anak-anakmu??" Karamel meninggikan suaranya. Ini adalah pertama kalinya dia memakai nada tinggi pada Chenle.
"Apa kamu cuma suka hartaku? Kau tidak mencintaiku??" Chenle pun terpancing dan ikut membalas dengan nada tinggi.
"Ya. Aku cuma suka hartamu. Aku ga suka punya suami pengangguran jadi kembalilah ke Beijing Zhong Chenle. "
Chenle diam dengan rahangnya yang mengeras. Lelaki itu berusaha menatap mata Karamel namun gadis itu selalu menghindarinya.
"Zhong Chenle....ayo kita berpisah. "
'aku tidak mau menghancurkan mu lebih dalam lagi.' tambah Karamel dalam hati.
__ADS_1
"Oke kalau itu maumu."
BERSAMBUNG....