![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Karamel ??"
"Lee Jeno??"
Terkaan Karamel memang tidak salah. Pria itu benar-benar Lee Jeno. Seseorang yang selalu Karamel tunggu kabarnya dan Karamel nantikan kedatangannya. Dia mantan kekasihnya sekaligus cinta pertama Karamel.
"Lagi apa disini???"
Jeno berjalan mendekat, senyumannya masih sama seperti dulu. Itulah ciri khas yang membuat Karamel bisa mengenalinya.
"Emmm.. itu, nemenin Mark beli Takoyaki." Kata Karamel. Sedikit melenceng dari fakta yang sesungguhnya.
Jeno tersenyum dan mengangguk,
"Aku dengar kamu kerja di luar negri ?"
"Eh.. iya, ini lagi liburan." Karamel tidak tau apa motivasinya berbohong. Yang jelas semua jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Ooh gitu.. mmm..." Jeno terlihat melirik kekanan dan kekiri, lelaki itu jelas merasa canggung. Tapi Karamel juga bisa menangkap maksud lain dari tatapan Jeno padanya. Dan benar saja sedetik kemudian Jeno menyodorkan ponselnya pada Karamel.
"Boleh minta nomor ponselmu ga ??"
Karamel menunduk, menatap ponsel Jeno sesaat lalu kembali mengangkat kepalanya untuk memandang Jeno. Wajah Karamel terlihat ragu bukan tanpa alasan, Karamel hanya sadar diri akan posisinya sekarang.
"Jen.. sebenarnya aku...."
"Kak.."
Mark datang disaat yang tepat. Lelaki itu terlihat bingung saat melihat Jeno namun berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Ayo pulang, sudah malam." Kata Mark.
__ADS_1
Tatapannya masih tidak beralih dari Jeno. Lelaki kekar di depannya itu juga membalas tatapan Mark. Bedanya Jeno masih menyelipkan senyumannya.
"Jeno, kita duluan ya." Kata Karamel.
Jeno mengangguk dan tersenyum meski sorot matanya tampak kecewa ketika dia menarik kembali ponsel yang dia ulurkan.
Karamel masih menatap Jeno ketika mobil yang dikemudikan Mark mulai berjalan perlahan, meninggalkan Jeno yang mematung sendirian di pinggir taman.
"Kakak udah punya suami." Mark bicara dalam nada rendah. Wajahnya terlihat tegas seolah dia tengah memarahi Karamel.
"Iya aku tau."
"Barangkali aja kakak lupa." Kata Mark lagi.
Mark mengenal Jeno tapi mereka tidak akrab. Mark juga masih ingat betul alasan kenapa Karamel putus dengan lelaki bermarga Lee itu.
"Aku ga terlalu kenal siapa itu Zhong Chenle, sejujurnya aku juga sempat membencinya karena dia menikahimu tanpa ijin...." Mark memberi jeda pada kalimatnya. Lelaki itu memutar kemudinya di persimpangan dan kembali fokus pada jalanan.
"... Tapi setelah melihat bagaimana dia menatapmu dan memperlakukanmu aku pikir memang lebih baik kau bersamanya dari pada bersama Lee Jeno."
"Dia akan memperjuangkanmu." Mark memotong ucapan Karamel dan membuat gadis itu menatapnya.
"Menurutmu begitu?"
Mark melirik Karamel sebentar lalu kembali menatap jalanan dengan senyuman yang tidak Karamel pahami.
"Aku tidak akan merelakanmu bersama laki-laki lain kecuali dia. Kurasa papa juga sama."
Karamel menunduk. Tak sedikitpun senyuman yang dia ukir di wajahnya meskipun dia mendapat restu dari keluarganya. Karena yang terpenting saat ini adalah restu dari pihak keluarga Chenle.
Karamel menghela nafas panjang. Dia menyandarkan kepalanya dan menutup mata. Satu tangannya bergerak untuk mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
'gimana ya kabar papamu? Apa dia baik-baik saja? Apa dia akhirnya melupakan kita? '
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti dengan sangat cepat tapi bagi karamel bumi terasa berotasi sangat lambat. Gadis itu tak tau sampai kapan dia akan menetap di Chicago yang jelas dia merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri.
Karamel merasa ada yang kurang dengan hidupnya dan ada yang salah dengan hari-harinya.
Apa ini karena Zhong Chenle?
Begitu besarkah peran lelaki itu dalam hidupnya hingga dia benar-benar merasa kehilangan??
"Kamu yakin dengan keputusanmu? "
"Iya pah. Karamel mau papa jadi pengacara Karamel untuk gugatan perceraian ini."
"Kamu ga mikir tentang Chenyue? Padahal papa seneng banget dapat cucu lucu kayak dia."
Benar, bagaimana dengan Chenyue ?
Aahh.... Karamel benar-benar merindukan bocah itu sekarang. Apakah Yue akan baik-baik saja tanpa Karamel nantinya?
"Keluarga Chenle mau Chenle menikah dengan orang lain."
Karamel bisa mendengar Johnny berdecak. Lelaki itu terlihat sedikit kesal namun masih berusaha mengendalikan diri.
"Apa perlu papa tuntut keluarganya karena telah menolak putri kesayangan papa?"
Karamel tidak menjawab, tidak juga bergeming dari posisinya. Gadis itu hanya menunduk dalam merasakan dadanya yang sesak.
Johnny jadi merasa iba pada putri kesayangannya. Pria itu mendekat untuk mengusap kepala Karamel.
__ADS_1
"Oke, papa akan ke Beijing besok dan mengurus perceraian mu. Kamu di Chicago aja ga usah kemana-mana. "
BERSAMBUNG....