![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Sudah ya kak.. Mark capek."
"Lagi Mark... Ini masih kerasa.."
Mark terus mengeluh, tapi dia tidak bisa menghindari paksaan Karamel. Gadis itu sedang merasakan kontraksi palsu selama beberapa kali dan meminta Mark mengusap perutnya.
Sebenarnya ini adalah tugas Chenle tapi lelaki itu masih mengantar Shuhua dan belum pulang.
"Wahh.. kenapa dia?" Mark melotot terkejut merasakan perut Karamel yang bergoyang-goyang.
"Itu dia lagi nendang, mungkin baby-nya mau menyapa uncle nya."
" Feels a little creepy huh… kau ga takut perutmu robek kak??"
Karamel tertawa keras dan sedikit melupakan nyeri perutnya. Wajah Mark benar-benar panik, 2 tangan lelaki itu memegangi perut Karamel yang bergoyang-goyang.
"Bayi memang begini Mark. "
"Woaahh. It's amazing."
Wajah takjub Mark kembali menjadi panik ketika Karamel merasakan kontraksi di perutnya lagi. Tidak lama, kontraksi palsu itu hanya berlangsung 2 menit dan sakitnya hilang.
"Kau yakin ga mau ke rumah sakit? Bagaimana kalau ini tanda-tanda melahirkan?" Tanya Mark.
"Belum, hari perkiraan lahirnya masih 2 Minggu lagi. Ahh.. aku mau berendam air hangat saja, punggungku sakit."
Mark mengangguk mengerti, lelaki itu bergegas mengisi bath tub tanpa banyak bertanya.
"Kakak bisa mandi sendiri kan? Atau nunggu suamimu aja?"
"Enggak, aku ga butuh dia." Ketus Karamel. Dia masih kesal dengan Chenle rupanya.
Mark membantu Karamel masuk ke kamar mandi, dia juga menaruh ponsel Karamel di rak sabun sebelah bath tub.
"Kalau ada apa-apa telepon aku okey."
Karamel tersenyum. Mark benar-benar menjaganya dengan baik, selain itu dia juga sangat perhatian. Betapa beruntungnya calon istri Mark kelak.
"Ahh.. Melisa, kau menitipkan suamimu yang ga peka padaku. Dia benar-benar menyebalkan." Karamel menggumam dengan dirinya sendiri saat dia menelanjangi tubuhnya.
Karamel itu tidak percaya pada hal mistik tapi setelah dia bicara begitu botol shampoo yang ada di rak sabunnya tiba-tiba terjatuh seolah Melisa benar-benar ada disana dan mencoba menjawab keluh kesahnya.
"Oww..ow.. aku cuma bercanda Melisa. Biar bagaimanapun aku mencintai suamimu...." Karamel sedikit takut saat mengambil botol shampoo nya tapi dia terus menekankan pada dirinya sendiri kalau hantu itu tidak ada.
".... Dan aku akan menjaganya untukmu, okey... Jadi kembalilah dengan tenang ke alam baka."
Hal lain yang membuat Karamel terkejut adalah ketika Chenle tiba-tiba membuka pintu kamar mandi dan menatapnya intense. Lelaki itu tiba-tiba bertanya.
"Bicara sama siapa?"
"Melisa." Karamel menjawabnya dengan wajah datar.
"Kau berhalusinasi?"
Karamel menggeleng cepat lalu menunjuk rak sabun dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Tadi Melisa menjatuhkan shampoo saat aku berkeluh kesah padanya."
Chenle menatap rak sabun di dekat bath tub, dia berkedip lambat lalu mulai bicara dengan nada ragu,
"Hai Melisa..." Katanya. Chenle diam sebentar dan menunggu tapi tidak ada respon apapun. Sekarang Chenle merasa bodoh atau mungkin dia sebenarnya sedang bodohi oleh Karamel?
"Usaha yang bagus nyonya Zhong, aku tetap akan membahas tentang pertemuanmu dengan mantan kekasihmu dan jangan mengalihkan topik."
Karamel mendengus karena tuduhan tak berdasar Chenle.
"Siapa juga yang mengalihkan topik."
Zhong Chenle kembali pada kemarahannya. Dia sangat kesal begitu dia melihat Karamel bertemu dengan pria asing tanpa sepengetahuannya. Dan Mark memberinya pesan singkat kalau laki-laki yang bertemu dengan Karamel itu adalah mantan kekasihnya di Chicago.
Dia baru saja akan mengutarakan kemarahannya tapi mata jelalatannya mengalihkan semua topik di kepalanya. Chenle melihat Karamel tak lagi canggung berjalan telanjang di depannya, gadis itu juga terlihat biasa saja saat melangkah masuk ke dalam bath tub dan mengacuhkannya.
"Kamu sengaja ya?"
Karamel menautkan alis, dia tidak mengerti apa yang sedang Chenle bicarakan.
"Apa?"
"Telanjang di depanku."
"Enggak, aku begini karena udah ga tahan dari tadi kontraksi palsu terus, mana punggungku juga sakit. Lagian kenapa juga kamu tiba-tiba masuk pas aku mandi?"
Bukan tanpa alasan sih, Chenle cuma sedikit panik saat mendengar Karamel bicara sendiri di kamar mandi.
"Mau kubantu?"
Gadis itu ternyata mengangguk senang.
Chenle melepaskan kaos hitamnya, lelaki itu mulai menelanjangi dirinya tanpa rasa malu lalu ikut bergabung bersama Karamel di dalam bath tub. Tidak ada hal lain yang Chenle lakukan selain hanya membantu Karamel menggosok punggung dan kakinya.
Chenle lalu meminta Karamel memunggunginya agar dia bisa memeluk istrinya dari belakang.
"Seneng ya ketemu mantan?"
"Kamu juga seneng kan ketemu mantan? Mantan calon istri." Balas Karamel.
"Jangan ngalihin topik." Chenle bicara dalam nada tegas seolah memberitahu Karamel kalau dia sedang kesal sekarang.
"Aku ga sengaja ketemu dia saat beli pizza. Lagi pula aku ga sendirian, ada Mark juga."
"Terus kenapa kamu ketawa-ketawa sama dia?"
Nada merajuk Chenle benar-benar membuat Karamel gemas. Gadis itu setengah mati menahan senyumannya.
"Ya masa aku harus nangis-nangis di depan umum."
Itu masuk akal. Chenle menghela nafas, okey dia akui dia cemburu tapi tampaknya dia hanya bersikap berlebihan. Padahal Karamel hanya tidak sengaja bertemu dan mengobrol saja.
Tapi... Kenyamanan Karamel saat mengobrol dengan mantan kekasihnya itu sungguh membuat Chenle cemburu buta. Dia masih tidak bisa menerima itu.
"Aku sama Jeno ga melakukan apapun, kita cuma ngobrol tentang pekerjaan masing-masing. Lagi pula dia tau aku hamil dan bersuami." Jelas Karamel.
__ADS_1
Chenle berusaha mengerti itu. Dia menenangkan dirinya dan mulai mengusap-usap perut Karamel dari belakang.
"Oke. "
"Dimana Yue ?" Karamel belum melihat jagoan kecil Chenle itu sejak pagi, untuk itu dia bertanya.
"Di rumah neneknya. Karena kehamilanmu sudah masuk fase ketiga jadi mama bilang mau bawa Yue, yah.. buat jaga-jaga kalau kamu tiba-tiba melahirkan."
"Oh ya... Shuhua menanyakanmu."
Wajah Karamel langsung berubah kecut. Gadis itu merengut dan bersikeras tidak mau dengar tapi Chenle tetap saja bicara.
"Aku bilang kamu ngambek gara-gara dia meminta tolong terus, dan dia bilang lain kali ga akan minta bantuan lagi."
"Bagus kalau dia sadar."
"Mel, ga boleh begitu." Suara teguran Chenle benar-benar sangat halus dan membuat Karamel terdiam.
"Oh ya, kehamilan kalian cuma beda 1 minggu."
"Kamu sayang ga sih sama aku?"
Chenle terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Karamel yang jauh dari topik mereka. Lelaki itu langsung memutar tubuh Karamel menghadapnya.
"Ya sayang lah, kalau ngga sayang ngapain aku hamilin."
"Ya kalau sayang jangan ngomongin cewek lain dong."
Chenle mengatupkan bibirnya dengan senyuman tipis yang tersungging manis.
"Ah.. istriku cemburu rupanya." Chenle menunduk dan memberi Karamel sebuah kecupan Singkat.
"Mel, katanya ****** bisa membantu merangsang leher rahim. Itu bagus jelang persalinan."
Karamel mengerutkan dahi, dia tau betul ke arah mana kalimat Chenle tertuju tapi gadis itu tidak mau memenuhi kemauan Chenle begitu saja. Di ingin sedikit menggoda suaminya.
"Ya... Terus ?"
"Mau coba ga?"
Karamel menggeleng cepat dan kembali memunggungi Chenle.
"Enggak ah, biar baby-nya kontraksi sendiri, ga perlu di paksa."
"Tapi aku udah tegang Mel." Chenle merengut sedikit memakai nada manja.
"Ya.. itu salahmu sendiri kenapa tegang. "
" Ya mana mungkin aku ga tegang orang kamunya aja sexy begitu."
Karamel terkekeh. Chenle mungkin hanya salah satu dari sekian banyak laki-laki yang melihat wanita hamil dengan perut buncit, Stretch Mark dan berlemak sebagai wanita yang seksi. Haruskah Karamel bersyukur sekarang?
"Iya, oke.. tapi setelah mandi ya."
Wajah Chenle berubah sumringah. Lelaki itu berdiri lebih dulu dan mengambilkan Karamel handuk.
__ADS_1
"Ayo sekarang."
BERSAMBUNG...