![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Karamel itu kuat mengenakan high heels sepanjang hari menaiki puluhan anak tangga atau bahkan berlari di jalanan menurun tapi untuk mengenakan flat shoes dan mendaki selama setengah hari saja rasanya kakinya sudah mau patah.
Karamel bersyukur Jaemin memberinya pilihan kamar yang bagus, karena kamar spesial ini memiliki Onsen outdoor pribadi yang ada di belakang kamar.
Lebih beruntungnya lagi karena Yue tidur lebih awal, Huang Renjun pasti mengajaknya berkeliling sangat lama hingga bocah itu kelelahan. Jadi Karamel bisa dengan leluasa berendam air panas di Onsen dan merilekskan otot-otot nya yang sakit.
Karamel melongok ke ruang tamu untuk memastikan Chenle tidak ada di kamar hotel mereka. Seingatnya tadi Chenle pergi dengan Yangyang dan belum kembali.
Melihat suasana yang sepi membuat Karamel tersenyum girang. Gadis itu keluar secara telanjang dan hanya mengenakan selembar handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Berendam di Onsen memang lebih baik kalau telanjang kan...
Gadis itu menggeser pintu bagian belakang yang menampakkan kebun buatan, meskipun suasananya dibuat outdoor tanpa atap tapi tempat ini dikelilingi pagar yang tinggi hingga orang lain tidak akan bisa mengintip.
Karamel kembali tersenyum, tidak sabar rasanya untuk membenamkan dirinya di dalam air panas.
Gadis itu melepaskan handuknya, bayangan telanjangnya terpantul indah di dalam air. Karamel menurunkan kakinya satu persatu dan akhirnya tubuhnya terendam sepenuhnya.
"Ahhh leganya.."
Saat Karamel bermain-main, sesuatu yang besar dan tinggi tiba-tiba muncul dari dalam air. Secara spontan Karamel berteriak dan bergerak menjauh hingga punggungnya menyentuh pinggiran kolam.
"Ka-Karamel...?"
Itu adalah Zhong Chenle yang baru menyelam di dalam air dan terkejut melihat Karamel.
Kedua mata Chenle terbuka lebar dengan bola mata bergerak jelalatan mengamati tubuh polos Karamel.
Sementara Karamel hanya bisa mematung saking terkejutnya. Detik berikutnya saat kesadarannya kembali memenuhi neuron otaknya, dia menyilangkan tangan di depan dada dan membenamkan tubuh nya hingga hanya kepalanya yang terlihat.
"K-kok kamu disini?? Bukannya keluar sama pak Yangyang?"
"Aku sudah pulang dari tadi." Kata Chenle. Lelaki itu masih tidak bisa mengendalikan matanya dan juga ekspresinya hingga membuat wajah nya merah padam.
Karamel yang juga masih terkejut akhirnya tersadar kalau Chenle juga telanjang. Gadis itu mengamati tubuh bagian atas Chenle yang polos sementara setengah tubuhnya terendam air.
"Ka-kamu pakai celana kan?" Tanya nya sedikit canggung.
Sialnya Chenle menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa?" Chenle balik bertanya ketika mendapati Karamel menghela nafas.
"Kalau begitu berbaliklah, aku akan keluar lebih dulu."
"Ga perlu." Sahut Chenle. Karamel menatapnya.
"Aku tau kamu capek dan butuh berendam."
Karamel mengangguk-angguk, Chenle memang sangat pengertian yah ..
Tapi setelah beberapa detik menunggu dan lelaki itu tak kunjung beranjak Karamel langsung mengajukan pertanyaan.
"Terus kamu ga keluar?"
"Ya enggak lah, aku kan juga capek, lagipula kolam ini besar, muat buat kita berdua. "
Okey, Karamel menarik kata-katanya yang menyebut bahwa Chenle itu pengertian. Ternyata Chenle itu perhitungan bukan pengertian.
Karamel menggigit bibir bawahnya. Merasakan bahwa tubuh telanjang mereka sedang berada dalam kolam yang sama, berdua saja di bawah sinar rembulan yang sendu, hal-hal gila mungkin saja terjadi kan...
'Berpikir positif Karamel!'
Chenle menuangnya segelas untuk Karamel dan gadis itu tidak menolak.
Ini adalah pertama kalinya Karamel menikmati minuman beralkohol. Sebelumnya papanya memang melarang Karamel minum karena alasan kesehatan.
Gadis itu meminumnya hingga habis, rasanya tidak terlalu buruk pikirnya.
"Yue tidur?" Tanya Chenle.
"Iya, sepertinya dia kelelahan, dia langsung tidur begitu menyentuh ranjang."
Karamel meletakkan gelasnya di pinggir kolam lalu merasakan kepalanya terasa ringan. Apa ini efek alkohol?
Oh... Ayolah, yang barusan itu hanya 2 teguk wine, tidak mungkin kan efeknya sekuat ini.
Gadis itu menghadapkan tubuhnya ke arah Chenle dengan pipi sedikit memerah. Lalu entah dapat dorongan darimana Karamel tiba-tiba saja tersenyum manis.
__ADS_1
"Mau lagi..." Karamel menyodorkan gelasnya kembali pada Chenle tapi lelaki itu menolak.
"No Mel. Kayaknya kamu sedikit mabuk."
Gadis itu menggeleng secara berlebihan, itu seperti menguatkan dugaan Chenle kalau gadis itu memang mabuk hanya karena 2 teguk wine.
"Aku masih sadar Chenle, aku masih bisa melihatmu. " Gadis itu meletakkan gelasnya. Dia berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada Chenle.
"Lihat kan, aku masih bisa menyentuhmu dan berjalan dengan benar. "
Cih.. dengan benar apanya, dia saja hampir terhuyung menubruk Chenle tadi.
"Mel..." Chenle menahan gerakan tangan Karamel. Ini mungkin akan menjadi situasi berbahaya untuknya. Jadi Chenle harus menjaga jarak.
Karamel diam sesaat, menatap Chenle dengan tatapan sendu. Kulit putih Chenle tampak berkilauan di bawah sinar rembulan, di tambah dengan rambut basahnya yang berantakan dan bibir pink nya yang menggoda.
Oh kenapa Karamel ingin sekali memakan bibir itu?
"Kenapa kau sangat tampan." Gumam Karamel.
"Hmm?? Katakan sekali lagi."
Karamel menggeleng dengan senyuman malu-malu di bibirnya. Gadis itu tak mengatakan apapun lagi saat tubuhnya berjalan semakin mendekat dan memojokkan Chenle di pembatas kolam.
Kedua tangan Karamel terulur untuk meraih leher Chenle dan memeluk lelaki itu. Tubuh polos mereka perlahan mulai bersinggungan, dan menimbulkan sengatan listrik luar biasa bagi Chenle.
"M-Mel... Ini berbahaya."
"Apanya?" Senyuman gadis itu masih belum luntur, sesungguhnya itu juga membuat Chenle tergoda. Dia semakin menunduk dan akhirnya mempertemukan bibir mereka.
Karamel yang setengah mabuk benar-benar berbahaya karena gadis itu tak akan segan bertindak agresif. Bahkan Chenle pun kualahan menghadapinya.
Gadis itu membalas setiap lumatannya dan bergerak seduktif menggesekkan tubuh mereka. Chenle sendiri juga tidak yakin bisa berhenti setelah ini.
"Mel.... " Chenle sedikit terengah. Lelaki itu mendongak menatap langit ketika Karamel mulai menciumi lehernya.
Tangan nakal gadis itu meraba dadanya naik dan turun melewati abs tipisnya. Chenle mencekal pergerakannya ketika Karamel hampir menyentuh miliknya.
__ADS_1
"Mel.. kau benar-benar cari masalah ya.. jangan salahkan aku kalau besok kamu sudah ga perawan lagi."
Bersambung...