Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Terulang Kembali


__ADS_3

"Mel... Aku..."


"Shuhua lagi?"


Chenle diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Karamel. Tapi akhirnya Karamel tau jawabannya tanpa Chenle harus menjawab.


Hari ini adalah minggu ke 38 kehamilan Karamel. Gadis itu sudah menahan diri untuk tidak menjadi wanita yang manja, namun jujur di kehamilan tuanya ini terasa lebih sulit.


Janin yang semakin membesar membuat Karamel kesulitan melakukan apapun, tubuhnya lelah dan nyeri terutama punggungnya. Kakinya juga pegal karena harus menopang beban lebih besar dari normalnya. Tidak ada hal lain yang Karamel butuhkan selain kehadiran Chenle.


"Shuhua mau melahirkan Mel, dia sudah kontraksi." Chenle mencoba berkata sehalus mungkin berharap Karamel akan mengerti.


"Aku juga mengalami kontraksi Chenle,


Ga bisa ya kamu dirumah aja?"


Ini pertama kalinya Chenle benar-benar mengabaikan Karamel. Lelaki itu sibuk memakai jaketnya dan mengemasi keperluannya untuk pergi tanpa mengindahkan permohonan Karamel.


"Kontraksi mu kan masih kontraksi palsu Mel, sementara Shuhua sudah mau melahirkan. Lagipula... Kamu punya Mark disini sementara Shuhua..."


"Kenapa kau terus membandingkan apa yang kupunya dan apa yang ga Shuhua punya? Apa yang dia ga punya itu kan tanggung jawabnya sendiri bukan tanggung jawabmu, jadi kenapa kamu harus peduli?" Karamel mulai memakai nada tingginya.


Chenle mendesah, dia benar-benar tidak suka situasi ini. Saat dia mulai peduli pada Shuhua Karamel pasti akan bertingkah berlebihan seperti ini.


"Oohh... Apa jangan-jangan kamu benar-benar menghamili Shuhua? Dan anak di kandungannya itu adalah anakmu?"


"Mel.."


"Terserah, pergi saja aku ga peduli."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karamel benci harus melakukan ini sekarang. Dia bilang dia tidak peduli jika Chenle mau pergi tapi nyatanya gadis itu malah menunggu Chenle sampai pukul 11 malam.


Karamel menangis seorang diri di kamar. Merasakan hatinya yang terluka juga sakit di perutnya yang semakin terasa.


"Aahh.. kenapa ini lebih sakit??"


Karamel merasakan perutnya menegang dan nyeri selama beberapa menit, lalu ketegangan itu hilang. Beberapa menit kemudian perutnya kembali sakit lagi.


Nyeri di perutnya terus berulang, hilang dan timbul dengan intensitas lebih sering dan lebih sakit. Apa dia juga mau melahirkan??

__ADS_1


Karamel tidak tau pastinya, dia hanya menghubungi Mark karena sudah tidak tahan dengan sakitnya.


Mark yang dalam keadaan tidur lelap di apartemen Karamel langsung lari tunggang langgang ke apartemen Chenle.


"Kak.. are you okay?"


Karamel sudah tidak mampu menjawab. Dia hanya bisa menggeleng dengan wajah meringis kesakitan.


"Ayo." Mark menggunakan gestur untuk menggendong Karamel tapi baru satu tarikan lelaki itu sudah menyerah.


"Ga bisa kak berat. Kakak jalan aja ya?"


Karamel mengangguk. Dia menguatkan diri untuk berjalan ketika nyeri perutnya mereda, dan langsung terduduk ketika nyerinya kembali.


"Mark.. rasanya aku kayak mau mati." Keluh Karamel.


"Jangan mati dong kak, kita masih harus hadir di pembagian warisan papa jadi kakak ga boleh mati disini."


Karamel tidak tau apakah Mark sedang bercanda atau sedang menyemangatinya yang jelas gadis itu sama sekali tidak mampu merespon.


"Sakit..."


Mark berlari ke arah basement dan kembali beberapa menit kemudian. Tubuh bagian bawah Karamel sudah basah ketika dia kembali dan itu membuat Mark bertambah panik.


"Kakak mengompol???" Laki-laki itu melotot menatap celana Karamel yang basah.


Karamel hanya menggeleng sebagai responnya. Gadis itu tau air ketubannya sudah merembes, dia tak ingin membuang waktu lagi. Dia benar-benar akan segera melahirkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mark mengemudi seperti pengendara gila. Dia panik, ini pertama kalinya dia mengantarkan orang yang hendak melahirkan.


"Your husband is such a jerk."


Dia juga mengumpat sepanjang jalan menyumpahi Chenle dengan segala sumpah serapah yang pernah Mark tau.


"Bagaimana bisa dia ninggalin istrinya demi menemani wanita lain? Ah..**** !"


"Berhentilah mengumpat, berdoalah untuk keselamatan kakakmu ini." Kata Karamel. Dia merasa sedikit tenang di antara jeda kontraksinya.


Tapi itu tidak lama, 2 menit kemudian dia kembali menggila dan menggigit seatbeltnya dengan keras.

__ADS_1


"Rumah sakitnya di depan. Sabar kak."


Beberapa orang perawat langsung menolong Karamel dan membawa gadis itu ke ruang bersalin. Karamel ingin sekali membawa Mark masuk tapi para perawat tidak mengijinkannya. Hanya suami pasienlah yang diijinkan masuk.


"Siapa namamu nona?" Seorang perawat senior berwajah keriput dan bertubuh pendek menanyainya, tidak peduli Karamel sedang kesakitan, wanita tua itu terus menuntut jawaban darinya.


"Karamel.. s-suh.." kata Karamel terbata.


"Nama suami?"


"Aakkk..." Karamel meringkuk, mengabaikan wanita tua itu.


Dia menunggu dengan sabar dan membantu memijat punggung Karamel saat dia kesakitan.


"ZHONG CHENLE BRENGSEK !!!" itu adalah jawaban sekaligus umpatan darinya.


Entah kenapa perawat tua itu justru tersenyum lalu menanggapinya.


"Aah... tuan Zhong menikah lagi rupanya. Aku ingat saat membantu istri pertamanya melahirkan dia juga tidak datang. Dia baru datang saat istrinya sudah terbujur kaku."


Deg~


Karamel langsung terdiam dengan kedua mata melebar. Benarkah itu?


Chenle juga membiarkan Melisa kesakitan seorang diri ?


Bola mata Karamel bergetar diiringi dengan air matanya yang mulai merembes di sarung bantal rumah sakit.


Apakah dia telah menikah dengan pria brengsek?


"Jangan stress nona Suh, kau tidak akan bernasib sama dengannya. Grafikmu bagus, tidak ada hipertensi, tekanan darah sistolik dan distolikmu normal. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. "


Wanita tua itu kembali memijat pinggang Karamel saat kontraksinya kembali. Dia berusaha menenangkan Karamel agar tidak panik dan histeris.


Tidak lama kemudian dokter datang. Dia seorang wanita muda dengan paras anggun yang tertutup masker. Dokter itu melakukan VT untuk Karamel dan memberitahunya bahwa pembukaan serviks sudah lengkap. Bayinya akan segera lahir.


Karamel harusnya senang karena rasa sakitnya akan segera berakhir. Namun nyatanya gadis itu malah menangis, meratapi nasibnya sendiri.


'Jadi... Chenle benar-benar ga datang ya?? Dia benar-benar memilih Shuhua daripada aku? '


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2