![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Berdasarkan perhitungan hpht usia janinnya sudah 9 Minggu. Namun dari ukurannya dia tampak seperti 7 Minggu."
Dokter Nakamoto menatap layar hitam putih di depannya. Dia menjelaskan selagi tangannya memegang kursor untuk mengukur besar kantung janin.
"Ini masih di anggap normal untuk kehamilan awal. Namun tekanan darah ibu harus lebih di perhatikan." Jelasnya. Lelaki berdarah Jepang itu menatap Karamel.
"120/90 itu cukup tinggi, apa kau sulit tidur? Atau stress?"
"Keduanya dok." Wendy yang mewakili Karamel untuk menjawab karena Karamel hanya diam saja sejak awal.
"Ibu hamil tidak boleh stress yah, meskipun asupanmu bagus tapi kalau stres itu akan berpengaruh pada janin."
"Iya." Karamel mengangguk mengerti.
Segampang itu mengatakan 'tidak boleh stres' nyatanya mengenyahkan stres itu sendiri lebih sulit daripada berpura-pura bahagia.
"Oh ya, kau mau mendengar detak jantungnya???"
Yuta kembali menatap layar hitam putihnya dan menekan tombol disana. Suara gemericik yang di barengi dengan detakan lantang terdengar begitu jelas.
Karamel terkejut, perasaannya campur aduk seketika. Gadis itu bahagia, namun juga ingin menangis. Naluri keibuannya pasti membuat perasaannya sedikit melankolis sekarang.
"Detakannya normal ya. Namun jika ibunya stres detak jantung janin bisa meningkat karena dia ikut stres..."
Dr. Nakamoto memberi jeda, dia kembali menatap Karamel.
"... Itulah kenapa seorang ibu tidak boleh egois. Dia tidak boleh sedih meskipun sangat terluka. Seorang ibu juga harus merelakan banyak hal demi kesehatan janinnya."
"Iya.. aku mengerti."
Dokter bernama lengkap Nakamoto Yuta itu memberikan resep pada Karamel dan meminta gadis itu banyak beristirahat.
Wendy meminta Karamel menunggu beberapa saat di ruang tunggu selama dia menebus obat. Dan Karamel menurut pada ibu sambungnya tersebut.
Gadis itu duduk menatap danau buatan rumah sakit yang tampak berkilauan diterpa cahaya matahari. Dia kemudian menunduk menatap foto hitam putih dari janinnya.
Malaikat kecilnya itu masih berbentuk seperti bulatan, besarnya mungkin sama dengan kacang kedelai namun entah bagaimana Karamel begitu bahagia saat menatapnya.
Terbersit sebuah pertanyaan dalam benaknya. Apakah Chenle juga akan bahagia saat melihat anak mereka ?
Senyuman Karamel memudar. Sudah satu Minggu sejak kepergian Chenle ke Beijing dan tidak satu pun pesan yang Karamel dapatkan dari pria itu. Apa yang Karamel harapkan? Bukankah dia yang meminta Chenle pergi dan menceraikannya? Lalu kenapa Karamel masih berharap pria itu akan mengabarinya?
Karamel menghela nafasnya yang benar-benar berat. Chenle mungkin sedang mengurus berkas perceraian mereka sekarang. Atau mungkin berkas pernikahannya dengan Shuhua.
__ADS_1
Lalu...
Bagaimana dengan Chenyue?
Apakah dia menangis? Apa dia merindukan Karamel?
Karamel yakin Yue adalah satu-satunya orang yang akan menentang pernikahan Chenle tapi bocah itu tak berdaya. Bahkan pernikahan Karamel dan Chenle saja tidak ada apa-apanya di mata keluarga besar Chenle. Apalagi cicitan tidak setuju Yue.
"Karamel.. kamu gapapa kan?"
Wendy sudah kembali dengan satu plastik vitamin dan susu ibu hamil yang harus Karamel konsumsi mulai sekarang.
"Iya."
"Ayo pulang." Kata wanita itu.
"Hmm.."
Wendy berjalan di samping Karamel dan terus memandang gadis itu. Gurat kesedihannya benar-benar kentara. Sejujurnya Wendy sangat mengkhawatirkannya.
"Aku tau betul bagaimana perasaanmu." Wendy membuka suara. Dia menatap lurus pada lorong panjang rumah sakit yang tampak lengang.
Karamel menoleh padanya, menunggu cerita selanjutnya yang akan Wendy ungkapkan.
"Ayah Haechan menceraikanku saat aku masih hamil Haechan. Dia menuduhku berselingkuh dan tidak mau mengakui Haechan."
"Dalam keadaan hamil aku di tinggalkan, dalam keadaan hamil pula aku harus mencari makan sendiri. Aku sedih tapi apa kamu tau kenapa aku bertahan?" Wendy menghentikan langkahnya dan menatap Karamel dengan senyuman keibuan khas nya.
"Lee Haechan??" Karamel hanya menebak-nebak.
"Ya. Bagaimana aku bisa menyerah pada hidupku jika ada sosok lain yang juga bergantung hidup padaku? " Wendy meraih kedua tangan Karamel.
"Bagaimana pun nanti akhir dari hubungan kalian, bayimu tidak salah apapun, dia pantas merasakan kehidupan. Dan dia membutuhkanmu untuk tetap hidup. Jadi kau harus tetap hidup untuk bisa menjaga dan membesarkannya."
Karamel sedikit tersenyum. Gadis itu mengangguk lemah dan menunduk menatap perutnya yang masih rata.
"Tapi menurutku Chenle tidak akan setega itu menceraikanmu." Lanjut Wendy lagi.
"Tatapan matanya sangat tulus. Dia juga terlihat sangat mencintaimu."
Karamel tidak pernah menutupi fakta bahwa dia dan Chenle memiliki perasaan yang sama.
Mengenai kehamilan Shuhua itu lain cerita, sejujurnya Karamel sempat sakit hati dan berprasangka buruk namun setelah mendengar penjelasan Chenle, tidak ada yang bisa Karamel lakukan selain percaya padanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Chan.." Karamel menggoyang-goyangkan tubuh Haechan yang tengah tidur di sofa ruang tamu. Ini pukul 8 malam, bisa di bilang terlalu sore untuk Haechan tidur namun kata Wendy lelaki itu baru pulang dari pendakian dengan klub mendakinya jadilah Haechan menghabiskan waktu hari ini untuk hibernasi.
Lelaki itu persis seperti orang mati. Tidak bergeming sama sekali meskipun Karamel mencubit perutnya.
Karamel akhirnya menyerah membangunkan Haechan. Gadis itu duduk di sofa lain dengan wajah lesu. Selama kehamilannya memang karamel tidak merasakan mual, namun dia selalu merasa aneh saat tiba-tiba ingin makan sesuatu dan itu tak bisa di tunda sama sekali.
Seperti malam ini, dia benar-benar ingin makan takoyaki gurita yang dulu di jual di depan SMP nya. Karamel tidak mau menunggu sampai besok, dia benar-benar menginginkannya sekarang. Bahkan memikirkannya saja sudah membuatnya mengeluarkan air liur.
"Kakak kenapa??" Sosok lain baru saja keluar dari kamar mandi.
Karamel menoleh dan mendadak semangatnya kembali bangkit.
"Mark !!!" Karamel langsung menghampiri Mark dan menarik paksa lengannya.
"Anterin kakak beli Takoyaki yah.."
"Sekarang??"
Karamel mengangguk semangat.
"Iya."
Karamel tau Mark adalah anak yang baik, berbeda dengan Haechan yang tengil dan pembangkang. Mark tidak akan setega itu membiarkan Karamel menahan keinginannya dan menderita semalaman.
"Oke."
Mark mengantar Karamel ke pusat kota tepatnya ke sekolah lama Karamel. Beruntung kedai Takoyaki itu masih ada dan masih buka, jika tidak Mark mungkin harus berkeliling kota lebih lama untuk sekedar mencari Takoyaki di jalanan Chicago.
"Kakak disini aja, biar Mark yang beli."
Karamel mengangguk. Mark pergi ke seberang jalan dan Karamel menunggunya di luar mobil. Gadis itu menatap kesekitar, ke tempat dimana dulu dia sering bermain.
Bangunan sekolahnya dulu sudah banyak berubah. Suasana jalannya juga terlihat lebih modern. Hanya beberapa kedai di pinggir jalan saja yang masih tampak sama seperti dulu.
Tempat ini penuh kenangannya bersama teman-teman lamanya dan juga....
Kenangan akan cinta pertama Karamel yang masih membekas di hatinya.
"Karamel???"
Suara berat yang terdengar familiar itu memanggil nama Karamel. Gadis itu berbalik, menatap sosok pria yang samar-samar bisa dia kenali.
__ADS_1
"Lee Jeno..??"
BERSAMBUNG....