Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Mission


__ADS_3

Karamel bangun terlambat, bahkan ini sudah terlalu siang untuk disebut kesiangan. Jarum pendeknya sudah berada di angka 10 dimana seharusnya dia kerja pukul 8 pagi.


Ini semua salah Chenle yang memaksanya melanjutkan adegan panas mereka yang sempat tertunda karena Yue. Dan akhirnya mereka tidur nyaris dini hari.


Karamel buru-buru berpindah dari ranjang dan memunguti pakaiannya dengan wajah panik.


"Tuan Zhong... Kita kesiangan." Serunya. Namun Chenle enggan merespon. Lelaki itu bahkan tidak bergerak dari posisinya.


"Zhong Chenle..." Karamel menggoyang-goyangkan tubuh Chenle untuk membangunkan lelaki itu.


"Kita cuti hari ini Mel."


"Apa ?? Kata siapa??" Karamel menatap Chenle dengan mata melotot.


"Kata Presdir Zhong barusan." Jawab Chenle.


Ah.. iya. Karamel lupa jika lelaki itu pemimpin perusahaannya. Dan tentu saja dia bisa cuti sesukanya.


Gadis itu kembali duduk dengan wajah lesu. Matanya masih mengantuk, tubuhnya lemas dan persendiannya sakit. Sebenarnya gaya apa yang Chenle pakai semalam kenapa bisa selelah ini???


"Tapi kita harus tetap mandi, penerbangannya jam 12 siang."


"Iya."


Karamel berkedip lambat. Satu kali... Dua kali... Dia memikirkan kembali kalimat Chenle lalu...


"Hah?? Penerbangan apa?"


"Ke Chicago."


"APA???"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa jahat." Yue merajuk. Dia terus memukuli Chenle sepanjang penerbangan menuju Chicago.


"Kenapa ? Hey??? Papa jahat kenapa??"


"Kenapa papa buat mama luka.. itu lihat." Yue menunjuk leher Karamel yang penuh bekas kissmark lalu bocah itu berkaca-kaca.


"Yue."


Karamel dan Chenle beradu pandang. Chenle dengan pandangan bersalah sementara Karamel menahan tawa.


"Yue benci papa !!"


"Iya memang papamu jahat Yue. Dia juga ga kasih tau kita tentang penerbangan mendadak ini." Karamel menimpali dan semakin memperkeruh suasana.


Chenle berdecak. Tatapan matanya terlihat kesal. Dia mulai memprotes.


"Lagipula...." Suara Karamel melemah hingga membuat Chenle kembali menatapnya.


".... Rasanya aku belum siap ketemu papa." Bahu Karamel merosot. Wajahnya terlihat antara takut dan khawatir sekaligus.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kamu rahasiain ini hm?? Apa nunggu adiknya Yue jadi dulu baru kamu bilang?"


"Yue mau punya adik??? Yesss!!!" Bocah itu ikut campur dalam pembahasan serius orang tuanya.


Membuat Chenle tersenyum dan mencubit pipinya dengan gemas.


"Yue mau punya adik hmm?? "


"Iya.. Yue mau pa.... Yang cowok 1 yang cewek 1 ya.."


"Okey.. itu gampang, papa akan buat 2 di perut mama."


Karamel langsung melemparkan tatapan horornya pada Yue dan Chenle. Memangnya melahirkan seorang anak semudah memuntahkan makanan hmm? Seenaknya saja mereka bicara.


Karamel duduk diam dan menemani Yue menonton film selama 5 menit sampai dia merasakan hasrat buang air kecil yang mendesak. Gadis itu pergi ke toilet di pesawat sebentar dan kembali dengan perasaan lebih lega.


Namun baru 10 menit dia duduk dan pesawat mengalami turbulensi, gadis itu secara mendadak ingin buang air kecil lagi.


"Mau kemana lagi?" Chenle sampai menatapnya heran.


"Toilet."


"Bukannya barusan......"


Karamel tak mau menunggu sampai Chenle menyelesaikan kalimatnya karena air seninya seperti sudah di ujung.


Sama seperti sebelumnya Karamel hanya butuh waktu 5 menit di toilet dan kembali ke tempat duduknya.


"Kita ke apotik setelah landing nanti." Chenle memasang kacamata hitamnya dan bersedekap. Lelaki itu membentuk posisi nyaman untuk bersiap tidur.


"Buat apa?"


"Beli testpack."


"Yue mau beli ice cream." Yue berseru dengan semangat tapi tampaknya dia belum bisa menengahi obrolan serius orang tuanya.


"Kayaknya ga perlu deh. Aku ga hamil."


"Yue mau ice cream." Ulang Yue lagi.


"Ya itu kan menurutmu, kita perlu tes biar tau." Chenle bersikukuh.


"Halooo.. Yue mau ice cream.."


Karamel akhirnya menoleh pada bocah malang yang terabaikan itu. Gadis itu tersenyum lembut dan sengaja mengacuhkan Chenle yang keras kepala.


"Iya-iya nanti kita beli ice cream yah."


Perjalanan panjang mereka akhirnya berakhir ketika rembulan sudah berada di tengah-tengah. Ini sangat larut dan Yue pun tertidur dalam gendongan Karamel.


Chenle sudah memesan taksi tapi dering di ponselnya membuat lelaki itu sedikit was-was. Chenle meminta Karamel dan Yue untuk menunggu di lobby sementara dirinya beralasan mau ke toilet.


"Hmm... Yangyang.."

__ADS_1


"Dude.. kau benar-benar mau menyerahkan perusahaanmu? Apa otakmu masih waras?" Yangyang terdengar frustasi. Sangat kentara dari suara nafasnya yang gusar.


"Iya. Apa meetingnya sudah selesai?"


"Iya. Mosi pemecatan CEO disetujui, dan kau tau apa... "


"Suami bibi Ye mengambil alih perusahaan?" Tebak Chenle.


"Kau sudah memprediksi itu?? Oh.. **** ini benar-benar gila."


"Ya aku sudah menduganya."


"Lalu... Apa rencanamu?" Yangyang berharap-harap cemas. Lelaki itu benar-benar tau kalau dia akan segera menderita jika pamannya yang memimpin perusahaan.


"Ga ada."


"ZHONG CHENLE !!!"


Chenle menjauhkan ponselnya karena teriakan melengking Yangyang. Detik berikutnya lelaki itu mulai mengomel dan menyuarakan sumpah serapahnya yang tak ingin Chenle dengar. Chenle tersenyum sarkastik lalu mematikan ponselnya secara sepihak.


Lelaki itu baru saja akan memasukkan ponselnya ke kantong namun benda persegi itu kembali berbunyi. Kali ini Huang Renjun yang menelepon.


"Ya??"


"Zhong Chenle dimana kau?" Suara Renjun terdengar panik.


"Chicago."


"APA??? Bisa-bisa kamu pergi saat perusahaan sedang kacau. Apa kau tau.. seluruh karyawan terkejut dengan pemberhentian CEO yang mendadak." Renjun mulai menggebu-gebu. Persis seperti Yangyang tadi.


"Iya aku tau, lagipula yang ganti cuma CEO nya, kalian kan tetap bekerja dan di bayar."


"Bukan begitu Chenle.... " Renjun terdengar putus asa dan emosi. Chenle tersenyum, dia bisa membayangkan wajah stress Renjun sekarang.


"Lalu apa?"


"Ahh sudahlah." Renjun menutup teleponnya sepihak.


Chenle menghela nafas. Rautnya sedikit muram meskipun dia berlagak tenang.


Baginya Kinghead seperti seorang anak yang dia jaga sejak kecil hingga sekarang dia sudah menjadi perusahaan besar bahkan tanpa bantuan siapapun.


Meskipun keluarga Chenle kaya, namun saat itu dia tidak pernah sekalipun meminta bantuan keluarganya, baik itu orang tuanya maupun kakeknya, semua itu karena Chenle ingin membesarkan perusahaan dengan usahanya sendiri.


Namun saat perusahaan itu sudah menjadi perusahaan superior, dengan seenaknya orang lain merebutnya. Yang lebih keji lagi, orang-orang menggunakan Kinghead untuk memaksakan kehendak pribadi mereka.


Ini tidak adil. Mereka tidak memiliki jasa apapun dalam membangun Kinghead, maka dari itu Chenle tidak akan merelakan perusahaannya dengan mudah. Jika dia tidak bisa memiliki Kinghead, maka orang lain pun tidak bisa.


Chenle menekan dial number di ponselnya lalu mulai bicara dengan nada suara rendah.


"Xiao Dejun... Kita mulai misi penghancuran Kinghead."


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2