Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
'kau takut aku selingkuh?'


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Johnny, Chenle memenangkan gugatannya. Lelaki itu mendapatkan kembali perusahaannya dan membuat para investor kembali memihaknya.


Shuhua benar-benar hancur ketika rekaman cctv kencannya dengan seorang pria menyebar ke media dan membalikkan opini publik. Nama Yeh Shuhua menjadi headline semua artikel di internet dan itu membuat karirnya hancur.


Chenle sebenarnya merasa iba akan hal itu. Biar bagaimanapun, Shuhua adalah sepupunya dan mereka sering bermain bersama saat kecil. Shuhua juga bukan orang yang buruk hanya saja keadaan yang menempatkannya pada situasi sulit.


"Maafkan aku." Chenle maju selangkah demi selangkah, menghampiri tubuh ringkih yang tengah menangis di hadapannya.


"Aku sudah hancur Chenle."


Shuhua menangis, tubuhnya gemetar, dia tak mampu lagi menatap dunia karena rasa malu yang tidak bisa dia atasi.


Shuhua hanya korban, Chenle tau itu. Shuhua sama sekali tidak ingin mengusiknya ataupun menghancurkan hubungan Chenle dan Karamel, hanya saja orang tuanya telah memanfaatkan keadaan. Menjadikan kehamilan Shuhua dan memanipulasi fakta. Pada akhirnya gadis itu juga yang harus menjadi tumbal keegoisan dari tetua keluarga Zhong.


"Aku benar-benar minta maaf." Chenle mengulurkan tangannya dan memeluk Shuhua. Menenangkan gadis itu adalah salah satu cara yang bisa Chenle lakukan untuk menebus rasa bersalahnya.


Disaat itu Mark dan Yangyang masuk ke ruangannya dan membuat Chenle reflek melepas pelukannya karena terkejut.


Mark langsung menatap Chenle dengan tajam dan menusuk seolah baru saja memergoki kakak iparnya selingkuh.


"Kenapa?" Tanya Chenle


"Ibumu menelepon, dia bilang Chenyue sakit. "  Kata Yangyang.


"Apa ??" Chenle terkejut. Dia buru-buru mengambil ponselnya dari Mark dan membaca pesan chat yang dikirim Irene.


"Shuhua maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang."


"Biar aku saja." Yangyang menawarkan diri. Lelaki itu menatap Shuhua dengan tatapan sendu dan bertukar kontak mata.


"Oke, terima kasih Yangyang. Tolong jaga dia." Chenle lalu menatap Mark.


"Ayo Mark."


Selama di Beijing, Mark lah yang menggantikan pekerjaan Karamel. Lelaki itu bisa di bilang cukup profesional meskipun dia belum lulus dari kuliahnya.


"Apa hubunganmu dengan perempuan tadi?" Mark terus menatap curiga pada Chenle bahkan ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Dia sepupuku. Kenapa? Kau takut aku selingkuh?" Chenle membalas lirikan tajam Mark.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengampunimu jika sampai kau menyelingkuhi kakakku."


Chenle terkekeh, lelaki itu menyahuti,


"Sebenarnya aku harus menikahinya, tapi ga jadi."


"Dia yang di jodohkan denganmu?" Mark kembali memelototi Chenle.


Berbeda dengan Haechan yang lebih santai, sejak awal bertemu, Mark terkesan sangat melindungi Karamel.


Chenle membalas tatapan Mark lalu mengangguk dengan senyuman.


"Iya, tapi aku tidak menyukainya."


"Apa alasanmu menjadikan kakakku sebagai penggantinya? "


"Karena aku merasa nyaman di dekat Karamel."


Chenle tidak mungkin mengatakan kalau Karamel mirip dengan mendiang istrinya, walau memang benar itu satu-satunya alasan yang membuat Chenle merasa nyaman di dekat Karamel.


Tapi jika Mark sampai tau itu mungkin pipi Chenle akan lebam-lebam sekarang.


Chenle bersandar pada kursi mobilnya.


Perasaannya sekarang jelas berbeda. Yang Chenle rasakan bukan lagi sekedar rasa nyaman, melainkan telah berubah menjadi rasa cinta dan takut kehilangan. Dan Chenle terus meyakinkan dirinya bahwa rasa itu benar-benar untuk Karamel bukan untuk bayangan Melisa.


"Jangan pernah menyakiti kakakku. Aku mohon. " Mark tiba-tiba berujar dengan suara lemah, membuat Chenle kembali menatapnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak, ayo makan." Haechan melongokkan kepalanya kedalam kamar Karamel. Menatap kakaknya yang tengah berbaring dan tidak melakukan apapun.


"Aku malas makan."


"Tapi bayimu ingin makan. " Kata Haechan. Lelaki itu bisa mendengar Karamel menghela nafas lalu bangun dari ranjangnya.


"Oke, aku turun." Kata Karamel.

__ADS_1


Gadis itu membawa serta ponselnya sebelum dia bergegas turun.


"Apa ada kabar dari papa?" Karamel menghampiri Wendy di dapur, lalu menarik salah satu kursi di meja makan.


"Ga ada. Kenapa? Kamu khawatir?"


"Bukan begitu, aku memintanya mengurus perceraian harusnya dia mengabariku kan?"


Wendy tersenyum, dia meletakkan lauk pauk di atas meja lalu mengusap kepala Karamel.


"Aku ga paham sama jalan pikiranmu. Kalau kau mencintainya lalu kenapa harus berpisah?"


Haechan duduk dengan tenang lalu mengambil nasi yang tersedia di meja. Dalam diam lelaki itu menatap wajah sendu Karamel yang menjelaskan semua perasaannya. Menunggu jawaban kakaknya dengan sabar karena Haechan juga penasaran.


"Seandainya bisa aku..."


"Kalau ga bisa ya perjuangkan." Potong Wendy.


"Ga semudah itu Bun." Karamel mendesah frustasi. Wendy pasti tidak paham dengan situasinya hingga dengan entengnya dia bicara begitu.


"Kenapa kamu menyerah segampang itu sementara Chenle berusaha memperjuangkanmu sendirian?"


Karamel menatap Wendy tidak mengerti. Alisnya bertaut dengan kerutan di dahi yang semakin kentara.


Apa maksud Wendy Chenle sedang memperjuangkannya?


Bukannya Chenle kembali ke Beijing untuk mengurus perceraian mereka?


"Papamu ke Beijing bukan untuk mengurus perceraian. Tapi dia sedang mengurus gugatan untuk perusahaan Chenle."


Bola mata Karamel bergerak ke kanan dan kekiri dengan lambat, gadis itu terlihat berpikir dengan keras.


"Ga usah dipikirkan, kamu bisa kembali kesana saat keadaannya lebih baik."


"Tapi..."


Belum sempat Karamel menyelesaikan kalimatnya, satu panggilan telepon dari Mark mengejutkan Karamel. Gadis itu buru-buru mengangkatnya.


"Halo... Mark.."

__ADS_1


"Apa?? Yue masuk rumah sakit??? "


BERSAMBUNG....


__ADS_2