![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Karamel merasa kondisi tubuhnya lebih baik ketika memasuki usia kehamilan 36 minggu tapi tidak untuk psikisnya. Dia merasa sensitif, mudah tersinggung dan mudah menangis.
Sialnya Chenle tak sesabar itu menghadapi mood nya yang berantakan. Memang Chenle tidak pernah memarahinya atau menyuarakan komplain dengan nada tinggi.
Saat Karamel mulai kelewat manja dan bertindak berlebihan Chenle biasa hanya mendiamkannya lalu pergi. Dia mati-matian menahan mulutnya agar tidak mengumpat atau sekedar memarahi Karamel. Sebenarnya ini hal yang bagus, tidak ada percekcokan di antara mereka. Tapi justru ini menimbulkan luka lain untuk Karamel.
Gadis itu jadi merasa tidak di perhatikan. Itu saja.
Perasaan yang sederhana bagi orang normal tapi menyakitkan untuk wanita hamil.
"Mau kemana ??" Karamel menegur Chenle yang baru ganti baju.
Lelaki itu mengacuhkannya lagi setelah Karamel mengomelinya karena pulang terlambat. Padahal Chenle pulang terlambat karena menemani Yue beli mainan. Tapi Karamel tidak mau mengerti keadaannya.
"Shuhua meminta tolong padaku untuk mengantarnya cek kehamilan."
"Kenapa harus kamu?"
Lagi dan lagi, Karamel memakai nada tingginya untuk berbicara. Chenle sudah tidak tahan. Dia mulai terpengaruh pada emosinya.
"Karena dia ga punya suami, beda sama kamu yang setiap saat di perhatikan, di antar kemana-mana, di manjain setiap waktu."
"Jadi kamu ga tulus melakukan itu sama istrimu sendiri?? Ini anakmu loh yang aku jaga...."
Chenle memijit pangkal hidungnya dan setengah mati menahan diri untuk tidak terlibat percekcokan dengan Karamel.
".... Kamu ga tau kan seberapa berat rasanya ini? Tubuhku berat, punggungku sakit dan aku ga bebas mau melakukan apapun. Aku minta di perhatikan karena aku mau kamu tau gimana penderitaan ku. Tapi denger keluhanku aja kamu ga peduli malah peduliin cewek lain."
"Mel... Sudah cukup aku ga mau kita bertengkar karena ini."
Chenle mengambil nafas dalam lalu berjalan mendekati Karamel. Gadis itu duduk di tepi ranjang dan Chenle berjongkok di hadapannya. Kedua tangan Chenle memegang perut besar Karamel dan lelaki itu mencoba untuk kembali tersenyum.
"Bukannya aku ga tulus merhatiin kamu. Aku cuma mau kamu sedikit mengerti kondisiku Mel. " Chenle mendongak menatap Karamel. Gadis itu melengos tidak mau beradu pandangan dengannya.
"Okey, aku minta maaf mungkin ucapanku tadi kasar....." Tangan Chenle terulur untuk menyentuh pipi Karamel. Dia kembali berbicara,
".... Aku sayang banget sama kamu, sama anak kita juga. Dan bukannya kamu sudah dapat semuanya? Apapun yang kamu mau aku belikan, kamu mau aku nemenin kamu seharian juga aku lakukan, bukan berarti sehari aja aku ga di rumah artinya aku ga sayang sama kamu Mel."
Karamel mulai menatap Chenle dengan pipinya yang basah karena air mata. Gadis itu masih tampak merajuk, bahkan moodnya lebih buruk dari Yue saat tantrum.
"Aku sudah nemenin kamu dari kemarin, sekarang aku cuma mau minta kelonggaran waktu buat Shuhua, dengan mengesampingkan statusnya yang dulu, biar bagaimanapun Shuhua itu sepupuku, dia keluargaku. Dan aku ga tega biarin keluargaku kesulitan."
"Tapikan.. dia..."
__ADS_1
"Dia juga hamil sama kayak kamu, dia ga punya suami, dia ga punya orang yang merhatiin dia. Aku yakin kamu paling mengerti gimana perasaan dia karena kamu juga lagi hamil." Chenle buru-buru menyela sebelum Karamel memakai nada tingginya lagi. Gadis itu merengut sekarang.
"Kalau kamu cemburu kamu bisa ikut, sekalian saja kalian berdua periksa bareng."
Mungkin orang asing yang melihat mereka pergi bertiga akan berpikir Chenle beristri 2.
Karamel menggeleng lemah. Pandangannya jatuh kebawah melihat sebelah tangan Chenle yang masih mengusap perutnya.
"Yaudah tapi jangan lama-lama."
"Iya sayang."
Chenle berdiri, dia menunduk untuk memeluk Karamel sebentar dan memberikan ciuman singkat di bibir cemberut Karamel sebelum dia pergi.
"Aku minta Mark ke rumah buat nemenin kamu di rumah. Ada mobil juga kalau kamu mau jalan-jalan. "
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mark kamu dengerin ga sih??" Karamel berteriak kesal karena merasa di abaikan.
Sejak tadi dia terus berkeluh kesah kepada Mark tapi adiknya itu tidak berkomentar apapun dan membuat Karamel merasa di abaikan.
"Iya-iya ini Mark dengerin kok."
Mark mendahului Karamel untuk membukakan pintu. Hari ini Karamel mengajaknya pergi makan siang di luar sebagai pelampiasan gadis itu atas kekesalannya pada Chenle.
"Lagian tujuan kita keluar kan mau melepas stres, kalau kakak marah-marah terus ya sama aja tetep stres."
"Iya-iya."
Karamel merengut. Dia masuk lebih dulu dan menunggu Mark untuk mengikutinya. Gadis itu duduk di salah satu meja bundar di restaurant pizza favoritnya. Lalu memesan 2 porsi sekaligus.
"Memangnya ibu hamil boleh makan pizza?" Mark mengangkat sebelah alisnya, menatap Karamel yang mengelus perutnya dengan tenang.
"Boleh. Ibu hamil bukan orang sakit."
"Tapi kan pizza ga sehat."
"Semua hal di dunia ini punya efek samping." Jawab Karamel enteng.
Gadis itu tersenyum pada seorang pelayan yang membawakan pesanannya lalu mengucapkan terima kasih. Mata Mark yang lelah langsung terlihat bersemangat ketika melihat pizza jumbo dengan full toping. Lebih bagus lagi semua toping itu adalah favorite nya Mark.
"Jadi keinget Haechan ya.." kata Karamel.
__ADS_1
"Cih.. ngapain juga mikirin dia. Haechan pasti lagi bahagia dimanja papa sama bunda. Mendadak jadi anak tunggal dia di Chicago."
Karamel mengangguk setuju. 2 bibirnya melengkung kebawah dengan wajah meremehkan. Gadis itu lalu melahap sepotong pizza dengan wajah bahagia.
"Iya bener, mana papa selalu manjain dia, apa-apa selalu belain Haechan. Kita mah kayak anak tiri."
"Nah kan..."
"Karamel ???"
Karamel dan Mark mendadak berhenti mengunyah. Keduanya menoleh bersamaan pada sosok laki-laki tampan yang sangat tidak asing.
"Lee Jeno..??"
"Kamu kerja di Beijing yah...??" Jeno tersenyum memamerkan eye smilenya yang lucu. Lelaki itu menatap Mark sesaat lalu kembali menatap Karamel dan berakhir terkejut melihat perut Karamel yang membesar.
"Iya, tapi sekarang sudah ga kerja. "
"Loh.. Karamel.. kamu kena busung lapar??" Jeno menunjuk perut buncit Karamel dengan wajah bodoh. Mulut ceplas-ceplos lelaki itu memang selalu mengatakan hal yang tidak bisa di terima hati nurani orang lain.
"Jangan sembarangan ya, kakakku itu lagi hamil. " Mark yang sejak jaman dulu tidak menyukai Jeno membalas pertanyaan lelaki itu dengan ketus.
"Kamu sudah menikah ya? "
"Iya, sama orang kaya baik hati." Lagi-lagi Mark menyahutinya meski Karamel yang di tanya.
Jeno terlihat kesal saat melirik Mark tapi wajah tersenyumnya tidak pernah berubah. Kalau bisa jangan sampai berubah karena Jeno menyeramkan saat sedang marah.
"Karamel, bisa ga kita pergi berdua aja? ga seru sama dia." Jeno sama sekali tidak melirik Mark, tapi dia sangat berani bicara begitu di depan Mark.
Karamel tertawa, dia terlihat kecewa saat menolak permintaan Jeno.
"Ga bisa, aku harus kemana-mana sama dia." Katanya.
Mark juga tidak tau apa motivasi Karamel bicara demikian, apakah dia benar-benar ingin pergi dengan Jeno tapi takut Mark akan mengadukan ini pada Chenle??
Bicara soal mengadu, itu ide yang bagus. Mark menyeringai ketika Karamel dan Jeno asik mengobrol seperti sedang reunian. Sementara dirinya melakukan panggilan video pada Chenle.
Karamel tidak menyadari kamera Mark yang mengarah ke dirinya dan Jeno. Karamel baru sadar itu ketika dia mendengar suara teriakan Chenle dari speaker ponsel Mark.
"KARAMEL ZHONG !!! PULANG SEKARANG !!!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1