Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Failed Threat


__ADS_3

"Bagaimana tentang staf produksi?" Chenle bersandar di kursi kebesarannya dengan jemari bertaut dan pandangan yang tertuju pada pendulum Newton yang saling bertubrukan.


"Ada beberapa masalah di bagian material supply dan housing. Beberapa material missing dan hampir separuhnya deffect. "


"Missing??" Chenle menautkan alisnya.


"Ya, terjadi pada terminal A dan C. Tim security dan audit sedang menyelidiki siapa pelakunya."


Chenle menghela nafas. Selalu saja ada kejadian seperti ini setiap tahun. Beberapa pegawai bertindak nakal dengan mencuri material lalu mengirimnya ke pasar gelap.


"Oke." Chenle menegakkan tubuhnya.


Tangan kanannya terulur untuk memutar cangkir kopi yang masih mengepulkan asap.


Lelaki itu menghirup aromanya sebelum menyeruput kopi susu buatan Karamel sambil menatap sang pembuat yang tengah mengalihkan tatapan karena salah tingkah.


Oh.. ayolah, mereka sudah hampir 2 bulan menikah tapi Karamelnya masih malu-malu.


Karamel terlihat sedikit terkejut ketika suara dentuman keras berasal dari pintu. Seorang wanita paruh baya masuk tanpa permisi.


Wanita itu terlihat elegan dengan kemeja mahal dan rok span ketat, juga clutch bag merk terkenal yang membuat dirinya terlihat seperti ibu-ibu Kaya.


Karamel menoleh ke arah Chenle dengan wajah tegang. Gadis itu tau betul siapa wanita kurang ajar itu.


Dia adalah bibi Chenle, tepatnya ibu dari Yeh Shuhua.


Chenle yang tampaknya paham akan ke khawatiran istrinya itu berdiri dan menghampiri Karamel. Chenle mendekatkan bibirnya ke telinga Karamel lalu berbisik...


"Keluar dulu ya, wanita ini berbahaya untukmu."


Karamel mengangguk mengerti. Dia sempat beradu pandang dengan wanita itu dan menerima tatapan yang tidak menyenangkan darinya. Karamel berusaha acuh, lalu menunduk dengan sopan sebelum pergi.


"Silahkan duduk." Kata Chenle dengan sopan.


Wanita itu duduk di sofa tamu ruangan Chenle dan Chenle pun begitu. Mereka duduk di sisi berlawanan hingga membuat mereka bisa saling memandang dengan tajam.


"Dia wanita itu?? Huh... Tampilannya tidak lebih bagus dari Shuhua putriku."


"Setidaknya dia bertanggung jawab." Sahut Chenle. Dia berusaha mengulas senyumannya meskipun dia tidak ingin.


"Kau pasti sudah tau maksudku." Katanya. Namun Chenle justru menatapnya tidak setuju.


"Aku tidak tau kalau kau tidak mengutarakan maksudmu bibi."


"Kau tidak tau???" Bibi Ye tertawa meremehkan.


"Aku mau kau ceraikan dia. Bagaimana bisa kau menikahi wanita lain setelah menghamili putriku." Wanita itu berkata ketus. Bibirnya yang terpoles lipstick teracota menyala tampak menipis dan terkesan jahat.


"Menghamili putrimu? Hahah... Bibi lucu, bahkan mencium Shuhua saja aku tidak pernah."


" Yaa...yaa... Begitulah yang dikatakan bajingan jika mau lari dari tanggung jawab."


Chenle menegakkan tubuhnya, dia terlihat tidak senang tapi masih berusaha mengendalikan emosinya. Jari jemarinya bertaut, berusaha saling meremas satu sama lain. 


"Aku tidak pernah lari dari tanggung jawab. Karena kehamilan Shuhua memang bukan tanggung jawabku..." Chenle menjeda, menyempatkan diri menatap bibi nya dengan pandangan angkuh.


Neuron otaknya berpikir cepat, merangkai barisan skenario yang dia balut dalam kalimat-kalimat skeptis.

__ADS_1


"Ahh.... Apa bibi tidak tau kalau Shuhua tidur dengan seorang pengangguran? mau aku tunjukkan video saat mereka masuk hotel???" Chenle menyeringai dengan wajah menyindir.


Dia membuat ekspresi terkejut yang dibuat-buat. Matanya melotot, mulutnya menganga tapi terselip senyuman sinis di tengah ekspresinya yang campur aduk.


"Waaahh .. ini pasti akan menjadi berita internasional yang menakjubkan. Aktris Yeh Shuhua tertangkap Kamera sedang berbuat mesum dengan seorang pria pengangguran." Seringaian Chenle semakin melebar ketika melihat wajah Bibi Ye yang khawatir.


Wanita itu terlihat goyah. Tuduhannya pada Chenle tak cukup kuat untuk menyerang Chenle. Atau mungkin dia tak bisa memprediksi bahwa Chenle bisa melemparkan serangan balasan.


"Aku yakin akan membalas perbuatanmu." Kata wanita itu pada akhirnya. Wajahnya kesal, bibirnya merapat dengan geram.


Dia berdiri dengan gestur angkuh lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan. Chenle sengaja mengikutinya saat dia melewati meja Karamel, takut-takut kalau dia menyerang wanita kesayangannya itu.


Namun ternyata Yangyang juga ada di meja Karamel. Dia berdiri tanpa melakukan apapun seolah dia juga sedang membantu Chenle menjaga Karamel dari amukan gorila betina.


Stelah kepergian bibi Ye, Yangyang tampak sangat tertarik untuk mengikuti Chenle. Sederet pertanyaan memenuhi kepalanya. Dan Yangyang mungkin tidak akan bisa tidur jika dia belum mendapat jawabannya.


"Ceritakan padaku." Dia mendorong Chenle kembali masuk ke ruangannya.


"Persis Seperti dugaanmu."


"Dia mengancammu kan? Lalu kenapa dia kelihatan kesal?" Yangyang terlihat sangat tertarik.


"Yah... Aku mengancamnya balik lah. Aku bilang akan menyebarkan video putrinya yang sedang berbuat mesum di hotel."


Yangyang diam dengan mata berkedip-kedip cepat. Dia kembali menatap Chenle.


"Memangnya kau punya videonya?"


Chenle tertawa dan menggeleng.


"Enggak. Aku cuma mengada-ada aja."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Mulai sekarang Karamel akan selalu ingat untuk tidak memberikan Chenle kacamata hitam saat mereka ada di ruang publik.


Bagaimana tidak, setiap wanita yang berpapasan dengan mereka akan menoleh 2 kali hanya untuk mengagumi betapa tampannya seorang Zhong Chenle.


Zhong Chenle dengan pakaian casual berwarna gelap, jidat terbuka dan kaca mata hitam sungguh memikat siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Karamel Suh. Gadis itu sendiri mengagumi ketampanan suaminya tapi dia masih tau diri untuk tidak menampakkannya dengan jelas.


"Waahh... Dia luar biasa. Haruskah aku menanyakan nomor ponselnya?" Kata beberapa gadis remaja yang berpapasan dengan mereka.


Karamel reflek merengut. Dirinya yang jalan di belakang Chenle dengan menggandeng Yue mungkin terlihat seperti ibu Chenle yang tengah menggandeng adik Chenle. Itu menyebalkan.


"Mereka menggoda papa." Gumam Yue. Bocah kecil itu cukup peka dengan apa yang terjadi. Dan dia juga merasakan apa yang Karamel rasakan.


"Iya. Sangat menyebalkan." Jawab Karamel.


"Mau Yue bantu?" Bocah itu mendongak, menatap Karamel dengan mata berbinar.


Karamel tidak tau pasti apa yang sedang Yue rencanakan tapi gadis itu mengangguk begitu saja.


Setelah mendapat lampu hijau, Yue segera berlari menghampiri Chenle dan berteriak dengan keras....


"PAAPAAAAA....."

__ADS_1


Gadis-gadis itu mendesah kecewa mendengarnya, sebaliknya Karamel tersenyum bahagia. Kini gilirannya untuk bersandiwara....


"Sayang~" dengan wajah penuh drama Karamel menghampiri Chenle dan merangkul pinggangnya.


Chenyue tertawa dalam gendongan Chenle. Sementara Chenle nya sendiri  langsung tersenyum begitu sadar dengan tingkah Karamel yang janggal.


"Mama yang terbaik." Kata bocah itu.


"Iya.. mamamu memang terbaik." Kata Chenle.


"Ayo cepat mau belanja apa?" Lanjut Chenle. Lelaki itu melipir ke stan makanan. Seolah menjadi kebiasaan karena Chenle itu sangat suka dengan camilan.


"Kita butuh beberapa daging dan sayur, lalu sabun-sabun."


"Yue mau permen kapas." Yue menunjuk salah satu makanan favorite nya dan Chenle langsung menurutinya begitu saja.


"Jangan banyak-banyak nanti sakit gigi. "  Kata Karamel.


"Aahh.. tapi kurang kalau beli satu." Rengek Yue.


"Dengerin kata mama Yue." Chenle akhirnya menengahi. Lelaki itu mengambil beberapa biskuit dan Snack kesukaan Yue. Sementara Karamel pergi melihat-lihat daging.


Gadis itu kembali ke troli mereka beberapa saat kemudian dan dia melotot melihat kumpulan camilan yang membentuk anak gunung di dalam troli.


"Kenapa belinya banyak banget? Kamu mau buka warung di rumah?"


"Buat persediaan Mel." Kata Chenle.


Karamel tidak bisa mencegahnya. Gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang dan meletakkan beberapa daging, sayur dan buah yang baru dia ambil.


Chenle bertugas mendorong troli sementara Yue tampak bahagia bermandikan Snack di dalam troli. Karamel berjalan beriringan dengan Chenle.


Ada yang mengganjal di hati wanita itu sejak mereka pulang dari kantor. Namun Karamel masih menahannya dan menunggu saat yang tepat untuk bertanya pada Chenle.


"Chenle..."


Chenle menoleh padanya dan bergumam.


"Apa bibimu memarahimu?"


"Enggak." Chenle mengelak. Dia memutar kepalanya ke arah lain agar Karamel tidak melihat kebohongannya.


"Jangan bohong."


"Iya Mel. Tenang saja. "


"Apa nona Shuhua minta ganti rugi?"


"Enggak."


"Kalau begitu pasti ibunya ga terima lalu mengancammu?"


"Enggak Mel. Ga ada apa-apa, bibi cuma mengunjungiku."


Karamel akhirnya diam. Percuma saja bertanya pada Chenle, lelaki itu akan menutup masalah keluarga nya rapat-rapat dan tidak membiarkan Karamel ikut campur.


Helaan nafas Karamel membuat Chenle menoleh. Gadis itu pastilah sangat khawatir, tapi Chenle tidak mau membuat Karamel lebih khawatir lagi jika Karamel tau masalahnya.

__ADS_1


"Ga usah khawatir, apapun yang terjadi  aku ga akan lepasin kamu."


BERSAMBUNG...


__ADS_2