![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
"Ka-karamel...?" Chenle mencubit lengannya sendiri untuk memastikan dia tidak sedang berhalusinasi.
"Chenle.." Karamel menegakkan tubuhnya dengan tangan memegang pinggang.
Ini sangat melelahkan, selain itu mendaki tebing dengan flat shoes bukan pilihan yang tepat. Sepatu diskonan yang dia beli bulan lalu itu langsung bercerai dari solnya.
"Kenapa kamu kesini?"
" Mencarimu lah."
Raut Chenle berubah khawatir.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Chenyue?"
Karamel menggeleng. Gadis itu duduk di samping Chenle dan mengambil nafas dengan rakus.
" Enggak. Cuma mau bertemu denganmu saja."
Wajah lega itu seketika terpancar dari mimik Chenle. Lelaki itu menatap wajah Karamel yang penuh peluh, memperhatikan tetesan keringat gadis itu yang meluncur turun melalui pelipisnya dan berhenti di rahang.
Tatapan Chenle lalu beralih ke bibir peach Karamel yang semalam membuatnya hilang kendali. Lelaki itu langsung menyadarkan dirinya dan mengalihkan pandangan.
"Kan bisa di hotel."
"Kau menghindari ku. " Sahut Karamel.
"Sejak pagi kau sibuk dengan pekerjaan dan sedikit mengacuhkanku. Kenapa? Kamu marah?" Karamel menatap Chenle dengan segenap rasa ingin tahunya.
"Enggak."
"Bohong. Kamu marah kan.. karena aku tidak mau melakukan.... Mm..." Karamel tidak bisa melanjutkan kata-katanya, gadis itu mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Aku ga marah Mel."
"Lalu kenapa mengacuhkanku?"
Chenle menghela nafas. Lelaki itu kembali menoleh dan menatapnya.
"Aku cuma takut lepas kendali saat menatapmu. "
Entah kenapa Karamel jadi merasa bersalah. Padahal sudah jelas dia punya hak untuk menolak.
" Maafkan aku." Gumam Karamel.
"Bukan salahmu. Aku tidak akan memaksa kalau kamu belum siap." Chenle kembali mengalihkan pandangannya pada hamparan luas pepohonan yang tampak seperti rumput kecil dari atas sini.
'bukan aku ga siap Chenle, aku cuma takut. Takut kau akan meninggalkanku suatu saat nanti. Terutama karena aku tau kau tidak punya perasaan apapun padaku.'
Karamel menatap Chenle yang tak menatapnya. Perasaan bersalahnya kembali muncul. Biar bagaimanapun juga Chenle adalah suaminya, entah ada cinta atau tidak dalam pernikahan mereka seharusnya Karamel tidak berlaku egois seperti ini.
__ADS_1
"Ga perlu merasa bersalah." Gumam Chenle. Lelaki itu berusaha tersenyum meskipun kekecewaannya tergambar jelas.
Suasana berubah menjadi sunyi, dengan deru angin yang menjadi backsound di antara mereka. Chenle sibuk dengan pikirannya begitu juga dengan Karamel. Namun sesekali gadis itu masih menatap Chenle. Memikirkan kembali tentang janjinya yang dia ucapkan pada Yue tadi.
"Chenle.. jika suatu saat nanti kau menikahi orang lain, apa aku masih boleh menemui Yue ?"
Chenle langsung menoleh, tatapannya terpaku dan terlihat tidak suka dengan pertanyaan Karamel.
"Apa maksudmu aku menikahi orang lain?"
"Ya.. barangkali saja..."
"Tidak akan pernah." Potong Chenle cepat.
"Tapi keluargamu tidak merestui kita."
"Aku tidak peduli." Mood Chenle langsung berubah drastis. Dia tidak tau apa yang sebenarnya Karamel pikirkan hingga dia harus bertanya seperti itu.
"Aku tidak akan menceraikan mu." Lanjut Chenle.
"Kau mencintaiku??"
Chenle terdiam. Tatapan bingung dan ragu-ragu itu bisa Karamel tangkap dengan jelas pada sorot mata Chenle. Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum bahkan sedikit tertawa datar.
"Ga perlu di jawab, kurasa aku tau jawabannya." Karamel berdiri dan mengusap bagian belakang celananya yang kotor.
Karamel tidak perlu menunggu persetujuan Chenle karena gadis itu langsung berjalan pergi dengan kaki tertatih. Karamel sempat menoleh kebelakang, mencoba memastikan apakah Chenle mengikutinya atau tidak. Dan dia kecewa ketika tidak mendapati sosok itu di belakangnya.
"Kenapa aku bertanya sesuatu yang sudah jelas? " Gumamnya.
Karamel berpegangan pada akar-akar pohon yang melintang disisi tebing. Berulang kali dia mengeluh karena sol sepatunya dan juga karena air matanya yang membuat penglihatannya buram.
"Kenapa dia sangat egois? Dia menolak menceraikan ku tapi dia tidak memiliki perasaan padaku. Apa dia mencoba menyiksaku huh..??"
Karamel mengusap air matanya dengan kasar. Dia sempat berhenti berjalan dan mendongak ke atas untuk menahan tangisannya. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya yang gontai, menuruni batuan curam yang terasa licin.
Kondisi emosi yang tidak stabil membuatnya sedikit ceroboh. Karamel tidak memilih pijakan dengan benar dan akhirnya membuat gadis itu terpeleset. Karamel hampir saja jatuh namun seseorang menangkap tubuhnya.
"Hati-hati."
Karamel menoleh dan menatap Chenle yang berdiri di sampingnya. Gadis itu buru-buru menghapus jejak air matanya.
"Mel... "
"A-aku harus segera turun, Yue pasti mencariku."
"Berhenti. Aku belum selesai bicara." Chenle mencekal pergelangan tangan Karamel.
"Jangan berlagak sok tau dengan perasaan orang lain. Aku bahkan belum menjawab pertanyaanmu, kenapa kau langsung mengambil kesimpulan seperti itu?" Nada suara Chenle terdengar lebih tinggi. Untungnya situasinya sedang sepi.
__ADS_1
"Tidak perlu di jawab. A-aku tidak siap mendengarnya."
"Aku mencintaimu." Kata Chenle singkat.
Karamel langsung menatapnya.
"Ga percaya??" Chenle menaikkan sebelah alisnya.
"Kemarilah." Lelaki itu menarik tubuh Karamel hingga menubruk dada bidangnya.
Chenle memeluk kepala Karamel, dan membuat telinga kanan gadis itu menempel tepat di dada kirinya.
"Jantungmu berdetak sangat cepat." Gumam Karamel.
"Kau dengar kan? Itu adalah irama jantungku setiap kali aku bersamamu."
Chenle menunduk, melihat sepatu Karamel yang sudah tak layak pakai. Dia menghela nafas lalu akhirnya berjongkok di depan Karamel.
"Ayo cepat naik." Katanya.
"Heh.. jangan gila ya, ga mungkin kamu turun bukit sambil gendong aku."
"Kamu ngeremehin aku?"
Karamel menatap mata Chenle dan menggeleng.
"Yaudah cepet naik, makin siang makin Panas disini."
Karamel akhirnya menurut dia naik ke punggung Chenle dan memeluk leher lelaki itu dari belakang.
"Lagian udah dikasih uang belanja 2M juga kenapa masih beli sepatu jelek begini sih?"
Karamel mendengus tapi tidak berniat membalas argumen Chenle. Sampai mereka sampai di dekat resort dan Chenle masih enggan menurunkannya hingga membuat setiap pasang mata yang melewati mereka menatap sambil berbisik.
"Chenle, aku mau turun." Bisik Karamel.
"Tanggung bentar lagi sampai."
"Tapi itu karyawan kamu pada ngeliatin kita." Karamel berusaha menutupi wajahnya.
Sebagian besar penghuni resort memang berisi karyawan dari Kinghead company dan mereka berbisik-bisik melihat bos mereka menggendong Karamel.
"Mereka cuma iri." Kata Chenle enteng.
"Duuh... mentang-mentang sudah go public sekarang bisa seenaknya pamer kemesraan di tempat umum." Huang Renjun menghadang mereka dengan menggandeng Yue.
"Jomblo ga boleh iri ya....."
Bersambung....
__ADS_1