Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]

Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]
Kesalahan Yang Sama


__ADS_3

Chenle menemani Shuhua sampai di depan ruang bersalin. Dia menatap khawatir pada gadis itu sebelum pintu ruang bersalin tertutup.


Yangyang datang tidak lama kemudian dan menghampiri Chenle dengan wajah lebih panik.


"Kau meninggalkan ponselmu??"


Chenle menatapnya datar lalu mulai mengecek isi tasnya.


"Sepertinya iya."


"Bodoh!!! Istrimu mau melahirkan kenapa kau malah disini???"


Kedua mata Chenle langsung membulat. Lelaki itu berdiri dengan panik sekaligus bingung.


"APA?? BENARKAH? "


Yangyang mengangguk dan menunjukkan isi chat nya dengan Mark.


Chenle tidak bertanya apapun lagi dan langsung saja berlari pergi, namun detik berikutnya dia kembali menghampiri Yangyang dengan wajah bodoh.


"Di rumah sakit mana dia sekarang??"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chenle merasa sangat bodoh dan menyesal. Harusnya dia menemani Karamel di kehamilan tua nya, harusnya dia tidak meninggalkan gadis itu saat dia butuh.


Harusnya....Harusnya.. Chenle tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dia lakukan kepada Melisa.


'Mel... Kumohon bertahanlah..'


4 tahun lalu saat Melisa hamil tua, gadis itu meminta Chenle tetap di rumah dan menemaninya. Permintaannya itu sama seperti permintaan Karamel. Saat itu Chenle mendapat panggilan darurat bahwa clientnya ingin mengadakan meeting mendadak untuk menyelamatkan perusahaannya dan akhirnya Chenle harus pergi meninggalkan Melisa.


Ini bukan sekali dua kali, Chenle bahkan jarang mengantar Melisa cek kehamilan karena kesibukannya di kantor. Itulah kenapa gadis itu bisa sampai terkena pre-eklamsia dan pergi dengan menyedihkan.

__ADS_1


Chenle berlari tergopoh-gopoh saat melewati lorong. Lorong ini adalah lorong yang sama yang dia lewati 4 tahun  lalu. Chenle tidak bisa berpikir apapun selain hanya harapannya agar Karamel tetap bertahan hidup.


"Tuan Zhong?" Seorang perawat tua menahannya di depan ruang bersalin.


Mark juga ada disana, dia menatap tajam ke arah Chenle.


"Iya, aku suami Karamel Suh." Kata Chenle dengan panik. Lelaki itu hendak menerobos tapi perawat tua itu menahannya.


"Bayinya sudah lahir, dia perempuan dan sehat."


"Bagaimana istriku?"


Perawat tua itu menghela nafas dan menatapnya galak.


"Dia menangis sedih karena suaminya tidak ada, dia kesakitan, dia mendapat robekan di vaginanya dan harus di jahit luar dalam, dia menderita selama berjam-jam sendirian dan kau sebut dirimu seorang suami??"


Chenle langsung menunduk dengan rasa bersalah. Kedua tangannya mengepal, dia tidak bisa berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri.


"Biarkan aku melihatnya. "


"Tolong jangan biarkan pria ini menyentuhku."  Karamel bicara dengan suara lemah pada 2 orang perawat itu.


Kedua perawat itu langsung menatap curiga pada Chenle.


"Aku Zhong Chenle suaminya."


Mereka berdua akhirnya mengangguk dan berpesan padanya,


"Tolong jangan membuat pasien stres, karena itu akan mempengaruhi produksi asi nya. "


Chenle mengangguk mengerti. Dia berdiri di sisi ranjang Karamel namun gadis itu langsung mengelak darinya. Karamel sama sekali tidak mau menatap Chenle.


"Pergi, aku akan membersihkan tubuhku sendiri. "

__ADS_1


"Mel.." Chenle meraih tangannya tapi Karamel berusaha menepis dengan tenaganya yang tersisa. 


Karamel benar-benar kehabisan tenaga bahkan melepas genggaman tangan Chenle saja dia sudah tidak mampu.


"Aku minta maaf."


"Aku ga butuh suami."


Chenle tau Karamel sudah kehilangan banyak tenaganya, bahkan untuk berdebat pun gadis itu berusaha payah.


Untuk itu Chenle tidak lagi bersuara. Lelaki itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh telanjang Karamel. Gadis itu tetap berusaha menepisnya namun dia yang sudah tak berdaya itu bahkan tidak mampu menggenggam tangan Chenle.


"Jangan menyentuhku Zhong Chenle."


"Diamlah, simpan tenagamu, aku akan melakukan tugasku mulai sekarang."


Karamel tidak lagi bertindak. Dia benar-benar terkulai lemas dan hanya bisa memejamkan mata saat Chenle mulai menyeka tubuhnya dengan handuk basah.


"Akk..." Karamel  meringis ketika Chenle mengangkat kakinya dan membersihkan paha dalamnya. Jujur jahitan di vaginanya terasa sangat sakit saat dia bergerak.


Gadis itu kembali membuka mata ketika mendengar suara isakan. Dan benar saja, Chenle sedang menangis saat memandangi jahitan di daerah kewanitaannya.


"Kau pasti sangat menderita. Aku benar-benar minta maaf aku bersalah telah meninggalkanmu."


Chenle menunduk untuk memeluknya. Tidak peduli dengan tubuh Karamel yang bau keringat bercampur bau anyir darah dan air ketuban, Chenle tetap memeluknya dengan erat dan menciuminya sambil menangis.


"Henti...kan.." ketus Karamel. hanya itu yang bisa dia lakukan karena Karamel terlalu lemas untuk mendorong tubuh Chenle.


"Maaf..."


Karamel tidak lagi meresponnya, membiarkan Chenle menangisinya dengan semua penyesalan yang dia punya. Gadis itu tidak kuat lagi, dia mulai memejamkan mata karena tubuhnya sangat lemas. Karamel butuh tidur beberapa jam sampai tenaganya terisi kembali untuk menampar Chenle atau mungkin memukulinya sampai babak belur.


Karamel tidak ingat  apa yang terjadi setelah itu, dia juga tidak ingat apa Chenle memakaikannya baju dan pembalut dengan benar atau tidak karena gadis itu langsung tertidur begitu saja.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2