![Suddenly We Got Married [ Zhong Chenle ]](https://asset.asean.biz.id/suddenly-we-got-married---zhong-chenle--.webp)
Chenle menjadi sangat diam hari ini. Lelaki itu sudah sibuk mengecek pekerjaannya bahkan sejak pagi buta.
Ini masih di tempat yang sama dimana perusahaan mengadakan Family gathering. Tapi bukannya menikmati liburan, Zhong Chenle malah sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku mau mengantar Yue sarapan, mau titip sesuatu?"
Chenle mendongak dengan wajah datar. Menatap Karamel sesaat lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Ga perlu, nanti aku kesana sendiri." Kata Chenle acuh tak acuh.
Karamel menghela nafas. Dia sangat peka terhadap perubahan sikap Chenle.
'apa dia marah?' pikirnya.
'apa karena semalam aku menolak jadi dia marah???'
"Mama.." tegur Yue ketika Karamel tak kunjung bergerak dan malah melamun.
" Ahh.. iya maaf ya Yue, ayo kita pergi. Yue sudah lapar hmm??"
Bocah kecil itu menggeleng.
"Tidak terlalu. Mah... Apa papa marah?"
Karamel hanya menggeleng untuk menjawab rasa penasaran Yue.
"Apa kalian bertengkar semalam? Yue lihat bibir kalian merah-merah, apa papa marah sampai menggigit mama?"
Karamel berkedip cepat dengan mata setengah melotot. Gadis itu lalu tersenyum gugup.
"Yu-yue... Bukan begitu.."
"Lalu apa??"
Karamel berdecak. Dia heran bagaimana Chenle bisa memproduksi putra yang kritis dan cerdas seperti Yue ini. Sering sekali Karamel kualahan menjawab pertanyaan bocah itu.
"Oh.. Yue lihat, tonkatsu kita sudah datang... Waaaa...." Karamel bertepuk tangan kecil dan berakting kegirangan melihat pelayan membawakan pesanan mereka. Ini semua demi mengalihkan perhatian Yue.
"Waahh.. baunya enak." Gumam bocah itu.
"Benar kan, makan tonkatsu pagi-pagi itu memang enak." Karamel mencubit pipi Yue dengan gemas.
Yue menatapnya, sejenak dia tersenyum tapi detik berikutnya senyuman Yue memudar.
"Mah.." panggilnya dengan pancaran mata murung.
"Hmm? Apa Yue mau makan yang lain?"
__ADS_1
Chenyue menggeleng lemah, dia kembali bicara.
"Mama Mel ga akan ninggalin Yue kan??"
Hati Karamel langsung mencelos mendengar penuturan bocah 4 tahunan itu. Karamel langsung memutar tubuhnya dan menggenggam kedua tangan Yue.
"Kenapa Yue bicara begitu?"
Bibir Yue melengkung kebawah. Dia mengalihkan pandangannya kebawah dan terlihat seperti akan menangis.
"Papa bilang, mama Yue dulu pergi saat Yue masih bayi. "
"Itu karena Tuhan lebih sayang mama Yue." Karamel mencoba memberi pengertian pada bocah itu.
" Yue juga sayang mama, tapi mama tetap pergi."
"Yue.."
"Mama Mel janji ga akan ninggalin Yue kan???"
Mata Karamel langsung berkaca-kaca. Gadis itu mendekat dan memeluk Yue dengan erat. Mencurahkan kasih sayangnya dalam setiap sentuhannya pada tubuh Yue.
"Iya, Mama janji."
'tapi mama sendiri ga yakin bisa terus di sisi Yue.' tambah Karamel dalam hati.
Karamel tau betul Keluarga besar Chenle tidak menerima kehadirannya. Karamel juga tau mereka tidak akan diam saja membiarkan Karamel berada di tengah keluarga ini. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah putri orang biasa yang jauh dari kata layak untuk mendiami posisi sebagai nyonya Zhong.
Jika suatu saat mereka meminta Karamel untuk pergi, maka gadis itu akan melakukannya.
Karamel melepaskan pelukannya. Menatap Yue yang sudah kembali tersenyum. Melihat wajah polos putranya itu membuat air mata Karamel sulit sekali untuk di bendung.
Gadis itu menatap arah lain. Mengusap kasar air matanya agar Yue tidak melihatnya menangis.
"Nah.. sekarang Yue makan ya.. nanti keburu dingin."
"Oh... Karamel..." Huang Renjun melambai dari jauh begitu dia melihat Karamel.
Lelaki berkacamata itu mendekat dan menyapa mereka.
"Halo Yue..." Renjun mencubit pipi Yue gemas dan membuat bocah itu merengut.
"Hai om." Jawab Yue.
"Pak Renjun mau sarapan?" Karamel sebenarnya tidak ingin tau, dia hanya basa-basi saja.
"Sebenarnya aku sudah makan, aku cuma mau ngomong sesuatu sama kamu." Renjun tertawa datar pada Karamel lalu melirik Yue dengan penuh arti.
__ADS_1
"Bisa kan???" Renjun berkedip-kedip memberi kode.
Karamel mengangguk, tau betul maksud Renjun.
"Yue disini dulu ya, mama Mel mau bicara sebentar sama om Renjun."
Untungnya Yue mengangguk menurut.
Karamel berjalan beberapa meter dari mejanya. Mengambil jarak yang cukup agar Yue tidak mencuri dengar.
"Kenapa pak??" Tanya Karamel. Wajah Renjun berubah serius tapi kecanggungannya sama sekali tak bisa disembunyikan.
"Mel.. mm... Kamu marahan sama Chenle???"
Kedua alis Karamel terangkat, dia menatap Renjun heran.
"Mm... E-enggak pak.."
Sebenarnya Karamel juga ragu dengan jawabannya sendiri. Dia tidak marah dengan Chenle tapi sebaliknya, Chenle lah yang seperti sedang kesal padanya.
"Kenapa memangnya?"
"Chenle terlihat emosional sejak pagi. Moodnya buruk. Dia mendaki sendirian ke gunung dan menolak saat aku mau menemaninya. "
'mendaki?? Kenapa tiba-tiba mau mendaki ?' pikirnya.
"Terjadi sesuatu pada kalian kan?? " Renjun mencoba menebak sekali lagi tapi tak mendapat pengakuan dari Karamel.
"Bicaralah dengan Chenle, selesaikan masalah kalian, biar aku yang menjaga Yue. "
...ʕ ꈍᴥꈍʔʕ ꈍᴥꈍʔʕ ꈍᴥꈍʔ...
Chenle tidak tau mau melakukan apa hari ini. Semua pekerjaan sudah dia periksa, grafik saham juga off di akhir pekan.
Chenle sempat memutuskan untuk menonton film namun yang terjadi adalah dia terus terbayang-bayang ciumannya dengan Karamel dan akhirnya membuat nafsunya kembali naik.
Pada akhirnya Chenle memilih aktifitas di luar. Sekedar berjalan-jalan ringan dan tanpa sadar membawanya ke atas tebing. Chenle duduk di pinggiran tebing curam itu selama seperempat jam, sendirian di temani deru angin yang cukup kencang. Melamun selama beberapa saat dan mencoba untuk tidak memikirkan Karamel. Namun dia gagal.
Karamel terus muncul di dalam benaknya, terutama cuplikan-cuplikan adegan 'nyaris panas' yang hampir mereka lakukan kemarin malam. Ini sungguh menyiksanya, bahkan hanya mengingat itu pun sudah membuat celananya sesak.
"Arghh.. ****... Bisa ga sih kamu ga usah ngerepotin." Omel Chenle pada tubuhnya yang sedang ereksi.
Chenle mengusap wajahnya kasar lalu kembali termenung. Kala itu tanpa sengaja dia mendengar deru nafas lain yang terengah-engah dari arah belakang. Lelaki itu pun menoleh dan melihat Karamel berjalan jongkok dengan nafas tersengal.
"Ka-karamel..."
Bersambung ...
__ADS_1