
...***...
Waktu berlalu. Satu Minggu sudah, dirinya mempersiapkan diri sebelum terbang ke Venesia.
Pagi itu, Lucio bangun lebih awal karena Ciro menginap dirumahnya untuk memastikan jika ia tidak terlambat bangun. Ciro yang sudah mempersiapkan segala keperluannya hanya tinggal mengurus sarapan untuk mereka saja, setelah itu beriap dan pergi.
"Sekarang cepat bersiap. Kita harus datang tepat waktu," ujar Ciro pada Lucio ketika pria itu baru saja selesai menikmati sarapannya.
"Baiklah," Lucio beranjak dari tempat duduknya. Melangkah menuju arah tangga agar bisa tiba di kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.
Sepeninggalnya Lucio, Ciro kini mulai di sibukkan berkutat dengan membersihkan piring kotor. Mencucinya hingga benar-benar bersih, setelah itu menaruh dan menatanya di tempat biasa. Entah mengapa, mengurus Lucio seperti ini, membuatnya teringat akan kejadian masa lalunya saat dirinya masih susah. Sang ibu yang bekerja sebagai penyalur maid, membesarkan dirinya seorang diri tanpa kehadiran ayahnya. Dan Ciro yang sering melihat ibunya melakukan banyak kegiatan maid, membuatnya terampil dalam semua kegiatan rumah tangga walaupun dia adalah seorang pria.
Selesai mencuci piring kotor, Ciro lalu beranjak pergi dari sana untuk mempersiapkan dirinya sebelum mereka berangkat pagi ini.
...*...
"Siete pronti?" Tanya Ciro memastikan begitu Lucio baru saja tiba di ruang tengah dengan berpakaian rapi. Pakaian yang telah ia siapkan dan ia pilihkan sebelumnya.
(Siete pronti?/ Apakah kau sudah siap?)
"Sì, sono pronto. Andiamo adesso," sahut Lucio seraya menghampiri Ciro yang kini tengah sibuk dengan tabletnya. Pria yang menjadi manajer nya itu tengah sibuk mengecek semuanya, ia tidak ingin jika sampai ada yang tertinggal.
(Sì, sono pronto. Andiamo adesso/ ya, aku siap. Ayo kita pergi)
"Sebentar, aku masih harus mengecek beberapa hal dulu. Lebih baik kau tunggu di dalam mobil saja. Aku sudah mempersiapkan mobil untuk kita berangkat," ucapnya tanpa melirik.
"Baiklah kalau begitu, aku akan tunggu di dalam mobil." Lucio beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiri pintu depan hendak menunggu Ciro selesai dengan tugasnya. Sementara menunggu di dalam mobil, Lucio diam seraya memainkan ponselnya. Pria itu kini tengah sibuk berkirim pesan chat dengan Analia. Sejak satu Minggu terakhir, mereka berdua mulai dekat dan cukup akrab. Hampir setiap hari mereka berkirim pesan dan saling mengabari satu sama lain.
"Oke semuanya sudah siap, sekarang tinggal berangkat," Ciro berucap seraya menggeret beberapa koper besar yang hendak ia masukkan ke dalam bagasi mobilnya. Setelah memasukkan semuanya ke dalam bagasi dan mengunci pintu rumahnya, ia lantas masuk ke dalam mobilnya. Duduk bersama dengan Lucio yang kini tengah asik mengobrol lewat media chat bersama dengan Analia di seberang sana.
"Tampaknya kalian semakin dekat," ucap Ciro yang kemudian menjalankan mesin mobilnya keluar dari dalam pekarangan rumahnya, lalu melajukan mobilnya menuju tempat dimana mereka akan bertemu dengan Ilario, crew dan pemain lainnya.
__ADS_1
"Ya, begitulah," sahut Lucio yang terus mengetik pesan, membalas chat dari Analia.
"Oh, omong-omong apakah Analia sudah tiba di sana?"
"Belum, dia juga masih di perjalanan. Tapi dia bilang sebentar lagi dia akan sampai."
"Benarkah?"
"Iya. Kau juga lebih baik percepat jalannya jangan seperti ini. Kau ingin aku terlambat?"
"Kau tidak akan terlambat. Lagipula jika pun kau terlambat, mereka akan menunggumu. Karena apa? Karena kau adalah tokoh protagonis pria nya, jadi tidak mungkin mereka akan pergi tanpamu," ucap Ciro yang terus berusaha fokus menyetir.
"Ya-ya, kau benar," sahut Lucio yang kembali disibukkan berkirim pesan dengan Analia di seberang sana.
...*...
Pria itu memarkirkan mobilnya tepat di lahan parkir kosong yang ada disana. Begitu mobil itu berhenti, ia lantas keluar bersamaan dengan wanita yang duduk di jok depan samping kemudi. Pria itu membukakan pintu untuk wanita yang duduk di jok belakang.
Analia. Melangkah keluar begitu supir pribadinya itu membukakan pintu untuknya. Analia berdiri disana, di samping Elvera yang kini sibuk mengecek barang-barangnya.
"Kau baru tiba?" Sapa Fella pertama kali saat mereka sudah berada tepat di hadapan Analia.
"Ya, seperti yang kalian lihat. Aku baru saja tiba," sahut Analia.
"Wah, barang bawaanmu banyak sekali," Sienna beralih pandang pada beberapa barang yang dikeluarkan oleh Elvera dari dalam bagasi mobilnya dengan bantuan supir disana.
"Ya, karena banyak sekali yang dibutuhkan Analia untuk di Venesia," sahut Elvera yang kemudian menggeret satu koper besar ke dekat Analia.
"Oh ya, omong-omong siapa saja yang sudah tiba?" Analia mengalihkan pembicaraan.
"Tadi aku lihat yang sudah tiba sejak tadi, ada Dario, Jolanda, Natala, Cristian, dan Zeta," sahut Giorgia.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pak Ilario? Apakah beliau sudah tiba?"
"Sudah sejak tadi, beliau sedang mengecek crew-nya memastikan agar mereka tidak lupa mengambil barang-barang yang di butuhkan mereka."
"Eh, omong-omong Piero, Fito, dan Lucio belum tiba ya?" Sienna mengalihkan topik. Pandangannya mendengar mencari ketiga orang pria yang baru saja di sebutkan nya.
"Ah ya, kau benar. Lucio belum tiba, dimana dia? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia sangat tampan," Fella mengagumi Lucio dalam bayangannya.
"Ah ya, kau benar. Dia sangat tampan, aku jadi tidak sabar untuk melihatnya hari ini," Sienna menyahut. "Oh, menurutmu gaya pakaian seperti apa yang akan di kenakan Lucio?"
"Entah. Tapi aku yakin dia pasti akan sangat tampan dan tentunya keren seperti saat pertama kali kita bertemu," Fella heboh.
"Ya kau benar. Ahhh!! Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya, dimana dia?"
"Iya, dimana dia ya?" Fella masih mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil pria yang tengah mereka bicarakan.
"Lucio masih di perjalanan," sahut Analia yang membuat mereka bertiga spontan menoleh ke arahnya.
"Huh? Darimana kau tahu?" Tanya Giorgia.
"Ya, darimana kau tahu?" Sienna menimpali bersama dengan Fella yang menganggukkan kepalanya.
"A-ah, seminggu yang lalu aku dan dia sempat bertukar nomor ponsel jadi aku tahu. Tadi dia mengabari jika dia masih di perjalanan," jelas Analia.
"Huh? Benarkah kau memiliki nomor ponselnya?" Sienna dan Fella berucap serentak.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Ah kau curang sekali! Kau sudah melangkah lebih dulu dibandingkan kita!" Ujar Sienna.
"Ya benar. Kau curang, bagaimana kau bisa mendapatkan nomor ponselnya semudah itu?" Fella menimpali.
__ADS_1
"Tentunya aku meminta secara langsung."
...***...