Superesse

Superesse
Storia


__ADS_3

...***...


"Huft~" Piero menghela napasnya kasar. Ia benar-benar kesal karena lagi-lagi ia gagal mendapatkan Analia. Itu membuatnya frustasi.


Saat ini Piero tengah menyendiri, menghirup udara laut yang segar berusaha meredakan sedikit gemuruh dalam dadanya.


"Analia! Semakin kau menolak ku, semakin ingin aku memilikimu."


"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum aku mendapatkan diri mu seutuhnya."


"Aku tidak akan membiarkan mu menjadi milik pria lain."


"Kau hanya milikku!"


"Dan kau takkan pernah bisa lepas dari cengkraman ku!"


Piero bergumam pelan di sana, memonolog dengan dirinya sendiri yang tengah di landa rasa kesal dan amarah yang amat luar biasa bergemuruh dalam dadanya.


"Omong-omong apakah kau tahu? Kalau tidak salah sebentar lagi kita akan melewati pulau Poveglia."


Antensti Piero beralih ketika salah satu awak kapal di sana berujar, mengobrol seraya menatap ke arah laut lepas. Keduanya berbicara dengan suara yang cukup kencang, angin besar yang berhembus membuat mereka harus sedikit berteriak kala mengobrol bersama dan percakapan nya itu, secara tidak sengaja di tangkap oleh telinga Piero yang begitu tajam pendengarnya.


"Poveglia?" Beo salah satu awak kapal.


"Ng." Yang satu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Maksudmu adalah pulau angker berhantu tak berpenghuni itu?"


"Iya. Kau tahu kan? Orang bilang itu adalah pulau paling angker di Eropa."


"Ya, tentu saja aku tahu. Pulau itu adalah salah satu pulau paling bersejarah yang benar-benar menakutkan. Terdapat bangunan rumah sakit di sana yang masih berdiri kokoh, di tambah lagi dulunya tempat itu di jadikan tempat untuk pengasingan orang-orang yang terkena wabah penyakit kan?"


"Benar. Saat itu wabah penyakit Pes dan kolera tengah menyebar luas di Italia, kemudian Poveglia di jadikan sebagai tempat penanganan nya sampai kemudian pulau itu berhasil di kuasai oleh Napoleon Bonaparte kemudian di jadikan sebagai gudang senjata."


"Iya. Dan kalau tidak salah pada tahun 1922, pemerintah mendirikan bangunan rumah sakit jiwa disana. Tapi di sanalah cerita paling menyeramkan nya terjadi."


"Menurut cerita yang beredar, para pasien yang di tangani di sana di siksa. Para dokternya melakukan tindakan kekerasan terhadap para pasiennya, di tambah lagi ada juga yang di jadikan manusia percobaan. Yang paling menakutkan aku dengar salah satu dokter menggergaji kepala pasiennya demi menyembuhkan penyakit kejiwaan nya. Jika ada yang tidak mau maka mereka akan di dorong dari menara."

__ADS_1


"Benar-benar menakutkan. Aku jadi merinding mendengarnya."


"Aku juga. Oh dan kalau tidak salah dokter yang melakukan penyiksaan itu akhirnya meninggal di sana juga. Ada dua versi cerita menurut kabar yang aku dengar. Ada yang bilang jika dokter itu memutuskan bunuh diri dengan cara melompat dari atas menara setelah dia di hantui oleh suara-suara teriakan dari roh pasien yang telah di bunuhnya, tapi ada juga yang bilang jika dokter itu di dorong dari atas menara oleh salah satu pasiennya hingga tewas."


"Sudahlah. Jangan membicarakan hal ini lagi, aku mulai takut. Apakah ini sudah hampir sore."


"Kau benar. Ayo kita kembali ke dalam saja."


"Baiklah ayo."


Kedua awak kapal itu lantas beranjak pergi dari sana.


Piero terdiam sesaat, ia melamun. Entah mengapa secara tiba-tiba kepalanya di penuhi dengan sebuah ide. Pria itu mengulum senyum, ia lantas menatap ke arah laut lepas sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk pergi dari sana.


...*...


"Aku mulai bosan," ucap Zeta seraya merebahkan kepalanya di atas meja di ruang makan.


Saat ini dirinya tengah duduk bersama dengan Jolanda dan Cristian, menikmati camilan untuk mengganjal rasa lapar mereka. Mumpung manajer mereka yang cerewet itu tidak ada untuk mengatur mereka, jadi mereka memutuskan untuk makan sepuasnya.


"Ya. Kau benar, aku juga mulai bosan," sahut Jolanda.


"Mungkin dalam dua hari nanti aku akan benar-benar bosan. Sebenarnya memang menyenangkan bisa melihat pemandangan laut yang indah, tapi tetap saja. Jika terlalu lama dan kita tidak memiliki pekerjaan lain selain duduk bermalas-malasan tanpa bisa internetan tentu saja membosankan," gumam Zeta.


"Kau benar. Apalagi di tengah laut seperti ini benar-benar sulit untuk mendapatkan signal," kata Jolanda.


"Hm. Kalian benar," sahut Cristian seraya meneguk air minumnya.


CEKLEK!


Pintu di sana tiba-tiba saja terbuka, membuat mereka bertiga terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu masuk. Di sana mereka dapat melihat dua orang awak kapal yang kini berjalan memasuki ruangan yang di tempati ketiganya.


"Huh? Aku kira tidak ada orang di sini," salah satu awak kapal itu berucap. Menatap Zeta, Cristian dan Jolanda dengan raut wajah terkejut.


"Kami lapar jadi memutuskan untuk mencari camilan di sini," sahut Cristian seraya tersenyum.


"Aah, ya sudah kalau begitu silahkan di nikmati. Kami kemari hanya untuk memastikan persediaan bahan-bahan untuk membuat makan malam," kata satu awak kapal lainnya di sana.

__ADS_1


"Ooh, begitu."


"Kalau begitu kalian lanjutkan saja kegiatan kalian, anggap saja kami tidak ada. Jangan terlalu hiraukan keberadaan kami," ujarnya seraya melangkah bersama dengan temannya menuju kulkas di sana. Ia hendak mengecek isi di dalamnya.


Sementara itu, Zeta dan kedua temannya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka kembali mengobrol di sana.


"Aku benar-benar bosan. Apakah kalian tidak memiliki topik untuk di bahas?" Kata Cristian pada kedua temannya.


"Aku tidak punya. Tapi bagaimana jika kita cerita?" Usul Jolanda.


"Cerita?"


"Iya. Bagaimana?"


"Boleh."


"Cerita apa?" Tanya Zeta dengan sedikit malas, ia melirik ke arah Jolanda.


"Karena ini sudah sore bagaimana jika kita cerita tentang yang seram-seram? Pasti menyenangkan! Apalagi kita tengah berada di tengah laut seperti ini!"


"Baiklah, kalau begitu kau yang cerita. Aku tidak memiliki cerita yang seram-seram," sahut Zeta yang kemudian membenarkan posisi duduknya, meraih gelas minumnya lalu menyeruputnya pelan.


"Aku juga tidak punya," sahut Cristian yang kemudian melahap camilannya.


"Ahh… aku kira kalian punya, padahal aku ingin dengar," gumam Jolanda.


"Jadi kau juga tidak punya?"


"Tidak," Jolanda menggelengkan kepalanya.


Salah satu awak kapal yang sedang membantu mengecek bahan makanannya itu lantas tersita perhatiannya. Ia menghampiri meja mereka di sana.


"Maaf… aku tidak sengaja dengar jika kalian sedang bosan dan ingin mendengar cerita yang seram?" Ucapnya hati-hati.


"Ng. Iya, memangnya kenapa?" Tanya Jolanda mengalihkan perhatiannya.


"Apakah kalian mau mendengarkan cerita ku? Kebetulan aku juga memiliki cerita yang sangat seram," Ucapnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2