Superesse

Superesse
Baik-baik saja


__ADS_3

***


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanyanya. Pria itu lantas beralih pandang. Menatap ke arah yang di pandang rekannya, dan ia begitu terkejut saat melihat apa yang di lihatnya.


Seorang awak kapal yang tidak lain adalah salah satu rekannya. Tengah terbaring di lantai dalam keadaan berlumuran darah. Tubuhnya lemas, ia seakan kehilangan energinya dalam seketika. Mereka sekarang bahkan tidak bisa berkata-kata saat melihat apa yang ada di hadapannya.


Di sisi lain, tanpa mereka sadari, Piero tengah mengintai keduanya. Menunggu timing yang tepat untuk membunuh keduanya. Pria itu terdiam di dalam lokernya, mencengkeram erat kapak yang ada dalam genggamannya. Sementara kedua matanya mengintip lewat celah pintu loker yang tertutup.


Kedua awak kapal itu melangkah menghampiri mayat temannya. Berjalan dengan kedua kaki gemetar dan wajah yang pucat.


"A-apa yang sebenarnya terjadi," gumam satu di antaranya. Berucap dengan suara gemetar.


"S-sepertinya dia di serang," yang satu menjawab dengan suara yang tidak kalah gemetar. Keduanya berhenti seketika di hadapan mayatnya. Darah terus bergerak keluar dari bekas sayatan kapak yang berada di beberapa bagian tubuhnya.


"A-aku mau muntah," gumamnya saat mencium bau amis yang begitu jelas menusuk hidungnya. Ia menutup mulut nya berusaha menahan rasa ingin muntah nya.


KRIEETTTT…


Perlahan salah satu pintu loker itu terbuka, namun tidak ada satupun di antara mereka yang sadar akan suara yang mereka dengar. Keduanya terlalu sibuk memperhatikan jasad rekan mereka yang kini terbujur kaku di hadapan mereka.


Pintu loker yang baru saja terbuka adalah pintu yang di dalamnya Piero gunakan untuk bersembunyi. Ia keluar secara perlahan, berjalan mengendap-endap di belakang mereka. Gerakannya nyaris tanpa suara sama sekali dan dengan amat pelan, ia berjalan menghampiri kedua awak kapal yang kini berdiri di sana.


Di belakangnya, Piero mengangkat kapak itu perlahan di atas kepalanya. Dan dalam satu kali hantaman…


CRATTTTT!


Salah satu awak kapal itu tewas seketika, terjatuh ke lantai dalam keadaan kepalanya yang mengeluarkan darah. Melihat hal itu, spontan membuat satu awak kapal yang tersisa disana terkejut. Ia menoleh spontan, tapi begitu ia baru saja menoleh kebelakang, Piero sudah lebih dulu menyerangnya tepat di bagian kepalanya.

__ADS_1


BRUKKK!


Tak butuh waktu lama baginya menghabisi dua orang itu, hanya satu pukulan keras penuh tenaga, menghantamnya di bagian yang tepat.


Tak sampai disana, Piero terus menyerang keduanya. Memastikan mereka benar-benar sudah dalam keadaan tewas.


*


Dario masih terus melangkah dengan kedua kaki gemetarnya. Sebelah tangannya terus bertumpu pada dinding di sepanjang koridor yang ia lewati. Sejak tadi ia sudah mencari ke segala penjuru kapal, tapi tidak ada satupun tanda dimana ia menjatuhkan gelang pemberian dari pujaan hatinya itu. Entah dimana gelang itu hilang dan jatuh dari pergelangan tangannya, dan entah kapan juga gelang itu lepas; Dario tidak tahu pasti.


"Huft~" ia menghela napas panjang, ia sudah lelah terus mencari. Apalagi kakinya terus gemetar dan otaknya terus di hampiri oleh ingatan mengenai apa yang baru saja di lihatnya. Membayangkan hantaman keras dari kapak bantuan yang tajam dan bau amis yang begitu lekat membuat Dario serasa ingin muntah, apalagi Dario adalah tipikal orang yang sangat benci dengan sesuatu yang berbau amis.


BRUKKK!


Dario sudah tidak kuat lagi berjalan. Ia lantas memutuskan untuk berhenti sejenak, terduduk di lantai sembari bersandar pada dinding di belakang nya. Ia masih berusaha mengatur gemuruh di dadanya, dan ia masih berusaha menjernihkan otak serta pikirannya dari apa yang terus tergambar dalam memori ingatannya.


*


"Hahh… hahh… hahh…" Piero berusaha untuk mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia terdiam, menurunkan tangannya yang kini mencengkeram erat gagang kapak di tangannya yang kini semakin banyak mengeluarkan darah. Piero menatap mereka bertiga tajam, ketiga awak kapal yang baru saja ia habisi itu kini telah dalam keadaan tewas.


Piero berbalik, beranjak pergi dari tempat nya berada saat ini. Melangkah menghampiri pintu keluar lantas menutup pintu ruang tersebut dengan keadaan sedikit terbuka.


Ia melangkah menyusuri koridor, tergetnya selanjutnya hanya tersisa beberapa awak kapal yang sejak tadi bersama dengan sang nahkoda kapal yang sibuk mengendalikan benda besar itu.


Ia terus melangkah sampai tiba dikoridor menuju keluar, kemudian arahnya tertuju pada lantai atas dimana ruang kendali berada.


*

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa kapalnya terasa berbeda?" Sang nahkoda berujar saat menyadari kalau kapal yang tengah ia kendalikan sedikit berbeda dibandingkan sebelumnya. Kapalnya terasa berat dan mulai melaju secara perlahan.


"Memangnya kenapa? Apakah ada yang salah?"


"Kapalnya terasa berat, coba kau cek pada awak kapal yang lain. Minta mereka cek mesinnya, takutnya ada kerusakan yang membuat lajunya jadi seperti saat ini," titahnya pada satu awak kapal yang sejak tadi bersama dengannya di ruang kendali.


"Baik," sahut pria itu yang lantas menghampiri satu alat komunikasi yang menghubungkan dengan berbagai ruangan di sana. Ia segera berusaha menghubungi rekan-rekan nya yang lain yang berada di ruang mesin untuk mengecek apa yang terjadi, tapi tidak ada satupun yang menjawab panggilan nya.


"Bagaimana? Kau sudah minta mereka untuk mengecek?" Tanya sang nahkoda pada pria itu.


"Tidak ada yang menjawab."


"Maksudmu?"


"Mereka tidak menjawab sama sekali panggilan dariku, mungkin alat komunikasinya rusak."


"Apa? Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Aku akan mengecek ke ruang mesin untuk memastikan alat komunikasinya dan mengecek apakah ada yang rusak atau tidak, dengan mesinnya."


"Baiklah kalau begitu cepat."


"Iya," sahut pria itu yang lantas beranjak pergi dari sana meninggalkan sang nahkoda seorang diri yang masih terus berusaha untuk mengatasi kapalnya. Fokus mengemudikan benda besar yang di tumpangi nya itu, dan memastikan bahwa kapal itu terus dalam keadaan berjalan di atas air laut.


Satu awak kapal itu terus melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah, namun begitu tiba di bawah. Tepat sesaat sebelum ia hendak masuk, ia sudah lebih dulu di kejutkan dengan kehadiran Piero yang secara tiba-tiba menyerangnya. Menghantam kepalanya keras hingga ia tewas. Piero menyeret mayatnya menuju salah satu ruangan di dekat sana. Menyembunyikan mayat yang kini berlumuran darah itu di dalam ruangan tersebut kemudian pergi meninggalkan nya di dalam dengan keadaan pintu tertutup.


***

__ADS_1


__ADS_2