
...***...
"Tunggu… ada satu hal yang ingin aku pastikan juga."
"Huh?"
"Aku ingin memastikan apakah kapak ini…" Piero menjeda sejenak kalimatnya, mengusap ujung mata kapak nya. Menggores sedikit bagian sisinya. "…Tajam atau tidak," lanjutnya seraya melirik kearah sang awak kapal.
"H-huh?" Awak kapal itu terbata, ia mulai merasa jika ada yang tidak beres dengan Piero.
"Aku sangat ingin memastikannya, tapi… apa yang bisa aku pakai untuk mengetesnya?" Piero melangkah perlahan menghampiri pria itu. Sementara yang di dekatinya kini bergerak mundur secara perlahan.
"A-apa maksudmu?" Tanya pria itu dengan raut wajah pucat, ia terus melangkah mundur. Entah mengapa tatapan Piero terhadapnya terasa berbeda.
Piero mengencangkan cengkeramannya pada kapak yang di genggam olehnya itu. Ia terus melangkah, tatapannya tajam menatap ke arah pria itu.
"B-behenti. Apa yang akan kau lakukan?" Pria itu menelan saliva-nya susah payah. Terus berjalan mundur membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas keadaan lantai yang di pijaknya sampai tanpa sadar ia tersandung dan jatuh di lantai dengan keadaan bokongnya lebih dulu yang menghantam kasar lantai keras di sana.
BRUUKKK!!!
Pria itu terjatuh. Matanya masih menatap sosok Piero yang terus menghampiri nya di sana. Tangannya mulai gemetar, dan ia terus berusaha melarikan diri. Menyeret tubuhnya yang masih berada dalam posisi terduduk itu.
Keringat dingin mulai mengucur di keningnya. Bersamaan dengan itu, jantungnya bergemuruh bersamaan dengan wajahnya yang kini tampak pucat. Matanya membulat menatap sosok Piero yang terus mendekat dengan tatapan menakutkan.
"Mari kita coba, apakah ini tajam atau tidak?" Gumam Piero pelan.
"T-tidak," pria itu berbalik hendak berlari tapi Piero lebih dulu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Berhenti disana! Kau tidak boleh pergi begitu saja," gumamnya yang kemudian mengangkat kapak di tangannya ke atas kepalanya. Mengayunkan nya dan dalam satu kali hantaman…
CRATTTTT!
Dario yang melihat itu seketika menutup kedua mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar ketakutan. Ia bersembunyi di balik dinding sana, tubuhnya lemas, jantungnya bergemuruh, wajahnya pucat, dan bersamaan dengan itu ia berusaha memproses setiap kejadian yang baru saja di lihatnya.
"A-apa itu tadi?" Batinnya dengan tangan yang masih gemetar. Dario mulai kehilangan keseimbangan nya. Ia bersandar dan perlahan tubuhnya mulai jatuh terduduk dalam posisi bersandar pada dinding di belakang nya. Ia merasa lemas bukan main, apalagi melihat apa yang baru saja terjadi di sana.
Di sisi lain, pria yang baru saja di hantaman keras itu terdiam tak bersuara di tempatnya. Ia terpaku, bersamaan dengan itu tubuhnya mulai mengeluarkan darah yang begitu banyak, membasahi lantai yang semula bersih itu.
Piero menginjak tubuhnya, tangannya terulur untuk melepaskan kapak yang kini tertancap tepat di bagian punggungnya. Meninggalkan bekas di sana yang mengeluarkan lebih banyak darah di bandingkan sebelumnya.
Piero mencengkeram erat kapak yang baru saja di tariknya lepas dari punggung pria itu. Ia terdiam sesaat dengan napas yang terengah-engah, menatap ke arah salah satu awak kapal yang di serangnya.
Tangannya bergerak mengelap darah yang sempat membasahi wajahnya dengan menggunakan sapu tangan yang selalu di bawanya di dalam kantong celananya.
"A-aku harus pergi dari sini," batinnya seraya beranjak bangun dengan susah payah. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menjauh dari sana, namun karena kakinya yang gemetar dan tidak seimbang membuatnya seketika terjatuh menghantam keras dinding di lorong itu.
BRUUKKK!!!
Suara nyaringnya berhasil membuat perhatian Piero yang tengah terdiam di sana beralih. Matanya mengedar ke sekeliling, mencari asal suara yang di dengarnya.
Piero beranjak perlahan dari tempatnya. Berjalan menuju arah suara yang di dengarnya. Tangannya masih mencengkeram erat kapak yang di bawanya.
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki berirama itu tampak menakutkan bagi Dario yang kini di landa rasa takut. Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Dario bergegas bangun dari jatuhnya.
__ADS_1
"D-dia kemari? Aku harus lari!" Dario mempercepat langkah kakinya, namun sebisa mungkin ia mengatur langkahnya agar tidak dapat di dengar oleh Piero yang kini berjalan ke arahnya. Langkah kakinya semakin jelas di dengar oleh Dario. Suaranya semakin mendekat ke arahnya.
"Aku harus bersembunyi," gumamnya dengan suara bergetar. Dario bergegas mencari tempat untuk bersembunyi, hingga ia menemukan lorong yang mengarah ke salah satu ruangan yang tidak terlalu terlihat. Ia bersembunyi di balik pintu sana, berjongkok seraya menahan napasnya dengan kedua tangan yang gemetar.
Di sisi lain. Piero terus berjalan mencari asal suara yang di dengar olehnya. Pria itu terus melangkah sampai kemudian tiba di lorong yang masih tampak sama sepinya seperti sebelumnya.
"Dimana dia?" Gumamnya. Matanya masih mengedar ke sekeliling. Tapi ia tidak dapat menemukan seorang pun di sana kecuali dirinya sendiri.
"Aneh, padahal aku benar-benar merasa jika ada orang di sini," gumam Piero dengan suara yang amat pelan. Ia berhenti tepat di perempatan lorong yang mengarah ke berbagai ruangan. Tapi semuanya kosong. Tidak ada seorang pun yang di lihatnya di sana.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya. Piero lantas beranjak pergi dari sana. Melenggang meninggalkan tempat yang semula di cek nya.
Hening untuk sesaat di rasakan olehnya. Dario yang bersembunyi di dalam sana lantas mulai bisa merasa sedikit lega, karena langkah kaki Piero sudah tidak lagi di dengarnya.
"Apakah dia sudah pergi?" Batin Dario. Ia terdiam sesaat, menurunkan kedua tangannya yang semula di pakainya untuk menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian dari Piero.
"Tampaknya dia benar-benar sudah pergi," gumam Dario yang kemudian menghela napas nya lega.
"Secepatnya aku harus pergi dari sini. Aku harus temukan gelang itu secepatnya setelah itu segera melaporkan apa yang aku lihat ini pada yang lain," innernya. Dario beranjak dari sana. Membuka pintu itu perlahan. Dengan berpegangan pada dinding, ia berusaha memastikan lebih dulu bahwa keadaan aman baginya.
"Dia tidak ada. Itu berarti aku bisa pergi sekarang," Dario melenggang menuju arah ke luar, ia harus menghirup udara segar untuk menenangkan dirinya yang dalam keadaan syok berat itu.
Dario terus melangkah dengan sedikit sempoyongan. Ia berjalan sambil menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuan berjalan, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding sepanjang lorong menuju pintu keluar.
"Hahh… hahh… hahh…" napas Dario terengah-engah, ia masih berusaha mengatur semuanya agar kembali seperti semula.
Tiba di luar, Dario segera berjalan menuju arah yang sepi, yang cocok baginya menenangkan diri dari apa yang baru dilihatnya.
__ADS_1
...***...