
...***...
Piero menghentikan langkah kakinya kala ia menemukan yang tengah di carinya. Pria itu saat ini tengah berada di lorong sepi yang mengarah menuju tempat dimana para awak kapal yang tengah sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Ia tersenyum menatap sebuah benda yang tergantung di dinding, menempel dan terbingkai indah dengan sebuah kotak berlapis kaca yang bagian pintu nya di kunci dengan gembok.
"Finalmente ti ho trovata bellissima," gumamnya seraya tersenyum simpul menatap benda di hadapan nya itu. Benda yang di carinya, yang akan membantunya menjalankan aksi yang telah di rancang oleh otaknya.
(Finalmente ti ho trovata bellissima,/ Akhirnya aku menemukan mu cantik)
Piero mengedarkan pandangannya, mencari benda lain untuk membantunya membebaskan benda itu dari dalam sana.
"Aahhh, trovata!" Ujarnya yang kemudian melangkah menghampiri alat pemadam kebakaran yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
(Aahhh, trovata!/ Aahhh, ketemu!)
Sebelum meraihnya, Piero mengedarkan pandangannya lebih dulu. Memastikan jika tidak ada orang yang melihat setiap pergerakannya. Begitu merasa semuanya aman, Piero lalu meraih dan membawa alat pemadam kebakaran itu di tangannya.
BRAKKKK!!!
Ia menghantamkan benda itu keras ke arah kotak yang di lihatnya. Tapi tidak berhasil membuat kotaknya pecah.
"Sekali lagi. Dan kau akan bebas," bisiknya. Ia lantas mengayunkan benda di tangannya itu sekali lagi. Kali ini lebih keras dan lebih bertenaga, dan kemudian…
PRANGGG!!!
Kaca nya pecah dan berjatuhan di lantai. Piero terdiam sesaat, ia tersenyum melihat aksinya berhasil.
"Akhirnya, datanglah padaku manis," Piero menaruh benda di tangannya ke arah lantai dan membiarkannya begitu saja. Ia kemudian melangkah menghampiri kotak yang baru saja di pecahkan olehnya.
Perlahan tangannya bergerak meraih benda di dalamnya. Benda dengan gagang yang cukup berat dan bagian kepala yang tajam. Benda di tangannya itu adalah kapak.
Piero menggenggam nya erat seraya tersenyum memandangi benda yang di cengkeramnya erat itu.
...*...
"Oh, tunggu. Aku melupakan sesuatu," ujar Dario secara tiba-tiba sembari menghentikan langkah kakinya membuat Lucio seketika beralih menatap nya di sana.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku sejak tadi mencari barang ku yang hilang."
"Barang?"
"Hm," Dario menganggukkan kepalanya.
"Barang seperti apa?"
"Itu sebuah gelang pemberian kekasihku. Aku tidak tahu menjatuhkannya di mana, maka dari itu sejak tadi aku berusaha mencarinya tapi tidak ketemu."
"Apakah mau aku bantu cari?"
"Tidak perlu. Tidak apa-apa aku bisa mencarinya sendiri. Lagipula akan sulit untuk mengenalinya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya.
"Mungkin aku akan mencarinya di sekitar jalan yang aku lewati."
"Ooh, mau aku temani?"
"Tidak perlu. Kau kembali saja ke ruang tunggu lebih dulu, aku akan kembali setelah menemukannya. Kau berlatihlah dengan yang lain dan jika ada scene yang harus aku baca, lewati saja."
"Ah, baiklah kalau begitu."
"Iya. Sampai jumpa," sahut Lucio seraya tersenyum ke arah Dario yang kini mulai melangkah pergi meninggalkan nya seorang diri di tempatnya berdiri saat ini.
Lucio terdiam sesaat memandangi Dario yang kini semakin jauh dari pandangannya sampai sosoknya menghilang di balik pertigaan lorong di sana.
Sejurus kemudian Lucio baru melangkah meninggalkan tempat nya berdiri saat ini. Ia harus berlatih sebelum syuting di lakukan dalam dua hari lagi, begitu pula dengan artis dan aktor lain nya.
Di sisi lain, Dario mulai di sibukkan mencari gelang pemberian kekasihnya yang amat berharga itu. Entah dimana ia menjatuhkan benda itu, ia tidak tahu. Tapi yang pasti, Dario harus menemukannya secepatnya. Karena bisa-bisa pacarnya marah kalau tahu ia menghilangkan gelang pemberian darinya.
"Astaga, dimana aku menjatuhkannya?!" Dari mengacak-acak rambutnya kesal. Ia terus mencari sepanjang lorong yang di laluinya, tapi tak kunjung di temukan olehnya benda tersebut. Tapi Dario sebisa mungkin berusaha untuk tidak menyerah dan terus berusaha mencari benda itu.
BRAKKKK!!!
Tiba-tiba suara yang di dengarnya membuat langkah kakinya terhenti dalam seketika. Dario membatu di tempatnya.
"Suara apa yang baru saja aku dengar itu?" Gumamnya pelan dengan kedua mata yang terbelalak.
__ADS_1
"Apakah sedang ada perbaikan?"
"Dari suara yang aku dengar, asalnya tidak terlalu jauh dari sini," gumam Dario memonolog. Ia kembali melangkah seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari asal suara yang di dengarnya.
PRANGGG!!!
Lagi. Dan kali ini berhasil membuatnya berhenti di tempatnya seketika.
"Itu… suara apa itu sebenarnya?"
Merasa penasaran, akhirnya Dario memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya menuju arah asal suara yang di dengarnya. Langkahnya kembali berhenti saat kedua manik mata nya secara tidak sengaja menangkap sosok Piero yang tengah berdiri seorang diri di lorong sepi.
"Piero?" Gumamnya. Dario hendak berjalan menghampiri pria itu, tapi ia mengurungkan niatnya dalam seketika dan memutuskan untuk mengawasi lebih dulu apa yang tengah di lakukan pria itu.
Dario bersembunyi di balik dinding di sana. Matanya menatap ke arah Dario yang baru saja menghancurkan tempat kapak bantuan dengan menggunakan alat pemadam kebakaran di sana.
"Kenapa dia menghancurkan kotak itu? Dan untuk apa Piero mengambil kapak bantuan di dalam nya?" Dario memonolog dengan dirinya sendiri. Matanya terus mengamati, dan ia baru menyadari keganjilan yang di lihatnya di sana.
"Sarung tangan?"
"Apa yang sebenarnya akan dia lakukan? Kenapa dia mengenakan sarung tangan untuk mengambil nya?"
Dario mulai di sibukkan dengan pemikiran nya. Tapi atensi nya tersita saat secara tiba-tiba ia mendengar suara salah satu pria di sana.
"Maaf, apa yang kau lakukan? Kenapa kau ada di sini, dan kenapa kau menghancurkan kotaknya?" Ujar salah satu awak kapal yang baru saja tiba di sana. Pria itu berbicara dengan suara nyaring yang spontan membuat fokus Piero beralih menatap ke arahnya.
"Kau bertanya apa yang sedang aku lakukan?" Piero mengeluarkan smirk-nya, menatap sosok awak kapal di hadapan.
"Iya. Apa yang kau lakukan?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memastikan apakah kapak ini asli atau tidak," gumamnya sembari memainkan kapak ditangannya.
"Tentu saja itu asli. Tapi untuk apa kau lakukan hal itu? Lebih baik kau kembalikan kapak itu padaku sekarang," tutur si awak kapal dengan suara yang masih terdengar dilembutkan.
"Tunggu… ada satu hal yang ingin aku pastikan juga."
"Huh?"
"Aku ingin memastikan apakah kapak ini…" Piero menjeda sejenak kalimatnya, mengusap ujung mata kapak nya. Menggores sedikit bagian sisinya. "…Tajam atau tidak," lanjutnya seraya melirik kearah sang awak kapal.
__ADS_1
"H-huh?" Awak kapal itu terbata, ia mulai merasa jika ada yang tidak beres dengan Piero.
...***...