
...***...
TOK! TOK!
Pintu itu di ketuk dua kali, membuat Analia yang tengah terbaring seketika menoleh ke arah pintu di sana. Spontan ia terkejut saat mendapati Piero yang berdiri tepat di depan sana. Ia tampak tersenyum di jendela kecil berbentuk bulat yang ada di pintu.
"Tidak!" Analia hampir menjerit di buatnya. Wanita itu bergegas bangun dari tempat pembaringan nya. Berlari menuju pintu dan menguncinya cepat sebelum Piero berhasil masuk dan melakukan hal yang sama.
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
Piero menggedor keras pintu itu saat menyadari Analia mengunci pintunya. Raut wajahnya tampak kesal.
"An! Buka pintunya sayang," ia berucap halus.
Analia berusaha tenang walau jantungnya bergemuruh dan tangannya gemetar ketakutan. Ia beranjak dari pintu, berjalan mundur kemudian menarik kursi terdekat di sana dan menaruhnya di depan pintu sebagai penghalang.
"Pe-pergi!!!" Analia memekik keras. Kakinya di bawah sana tampak jelas gemetar. Matanya berkaca-kaca dan napasnya mulai tak beraturan.
"Jangan seperti ini. Buka pintunya selama aku bersikap halus padamu!" Ucapnya kesal. Ia menggedor keras pintu masuk, tapi tak berhasil membuat pintu itu terbuka.
"Pergi kau! Brengsek! Aku tidak pernah ingin bertemu lagi denganmu!" Analia terus berjalan mundur sampai tanpa sadar sebelah kakinya menginjak sepatunya yang lain membuat dirinya terjatuh di sana.
"ANALIA BUKA!!! BUKA ATAU AKU DOBRAK PINTUNYA!!!" Pekiknya yang mulai marah di sana. Analia semakin ketakutan.
"Tidak! Pergi! Pergi dari sini! Pergi! Pergi kau!!!"
"Analia buka! Aku ingin bicara denganmu! Analia!"
"Pergi! Aku bilang pergi! Jangan ganggu aku!!! PERGI!!!!" Teriaknya keras. Melihat Piero yang seperti itu membuat Analia semakin teringat akan kejadian yang sudah hampir di lupakan olehnya. Perlahan potong ingatan itu kembali terekam dalam memorinya, satu persatu bermunculan membuat dirinya merasakan sesak dan rasa sakit yang amat sangat dalam dirinya.
Analia memejamkan matanya, menjambak rambutnya sendiri berusaha untuk menghilangkan setiap kenangan itu dari otaknya. Tapi gagal. Bayangannya semakin jelas terekam dalam ingatannya, membuat ia semakin ketakutan dan mulai menangis, meracau tidak jelas seraya terus berteriak histeris.
Di sisi lain. Piero yang mendapati Analia yang mulai berteriak membuat kebisingan, membuatnya kesal. Di tambah lagi pintu yang tak dapat di bukanya membuat ia semakin emosi.
__ADS_1
DUKKKK!
Di tendangannya keras pintu masuk itu. Mau tidak mau ia harus pergi dari sana dan menahan hasratnya untuk memiliki Analia. Gairahnya benar-benar tidak bisa di tahannya lagi. Semakin lama, ini malah membuatnya semakin gila.
"Analia… kenapa kau terus menolakku," gumamnya penuh amarah. Tangannya di sana terkepal erat, dan dalam satu kali hentakkan tangannya, ia memukul keras dinding hingga hampir penyok.
Ia terdiam seketika saat secara tidak sengaja, ia mendengar suara teman-temannya yang mulai berdatangan menuju arahnya. Hal itu tentu membuatnya was-was dan secepatnya pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku harus bersabar sedikit lagi," gumamnya yang lantas berjalan dan menghilang di balik lorong pertigaan di sana. Piero tak sadar, jika sejak tadi seorang pria yang bersembunyi di dekat koridor menuju toilet terus menatap ke arahnya. Memperhatikan setiap gerak-geriknya yang tampak mencurigakan sampai sosoknya hilang di tempat dimana ia berbelok.
"An! Kau kenapa?" Giorgia di sana berteriak paling kencang. Menatap Analia dengan raut wajah khawatir. Di belakang nya, teman-teman artisnya yang lain berdiri. Sama khawatir nya dengan Giorgia.
"An? Kau baik-baik saja? Buka pintunya!" Teriak Zeta yang tak kalah khawatir.
"Bagaimana ini? Pintunya terkunci dari dalam," kata Sienna panik.
Semuanya resah, apalagi saat menyadari Analia yang tampak meracau dan menjambaki rambutnya sendiri di sana. Mereka bingung bercampur khawatir padanya. Takutnya terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Kalian sedang apa?" Tanya Lucio yang tiba di sana seorang diri, membuat atensi orang-orang yang berdiri di ambang pintu beralih menatap ke arahnya.
"Apa?" Lucio terkejut mendengarnya. "Kalau begitu cepat buka pintunya!"
"Pintunya terkunci dari dalam! Kami tidak bisa membukanya!" Kata Sienna.
"Kalau begitu menyingkir lah, biar aku dobrak pintunya!" Ujar Lucio. Orang-orang di sana bergegas menyingkir dari arah pintu dan membiarkan Lucio untuk menangani pintu yang menghalangi mereka.
BRAKKKK!!!
Satu kali hantaman, Analia semakin memekik ketakutan di sana.
BRAKKKK!!!
Kedua kali hantaman, pintunya mulai tampak terbuka sedikit. Analia semakin panik. Ia bergerak mundur menuju dinding di belakangnya. Berhenti di sana, Analia semakin gencar berteriak ketakutan. Membuat teman-temannya khawatir.
__ADS_1
BRAKKKK!!!
Dan ketiga kalinya, pintu itu berhasil di bukanya.
"An!" Teriak teman-temannya seraya berlari menghampiri Analia di dalam sana. Lucio berjalan mendekat ke arahnya. Tapi begitu semua orang itu tiba di sana, Analia malah berteriak ketakutan.
"Tidak! Pergi!!!" Pekiknya seraya terus menjambaki rambutnya.
"Kau kenapa An? Sadarlah! Kami di sini!" Ucap Giorgia mengguncang tubuhnya keras, berusaha menyadarkan Analia. Tapi gagal.
"Tidak! Pergi!!! Pergi!!!" Teriaknya lagi. Lucio yang melihat itu tak bisa tinggal diam. Bergegas ia meminta Giorgia menyingkir dari hadapan Analia. Sementara itu ia berjongkok cepat di sana. Memegangi tubuhnya dan meminta Analia untuk tenang.
"An! Tenanglah! Ini aku!" Ucap Lucio menenangkan.
"Tidak! Pergi!!! Pergilah!" Pekiknya lagi.
"An! Hey! Lihat aku! Ini aku, Lucio!" Lucio memegangi wajah Analia. Mendongakkan kepalanya dan meminta sang empu menatap kedua matanya.
Analia mulai sedikit tenang begitu mereka beradu pandang.
"L-lucio," gumamnya lirih.
"Iya. Ini aku, Lucio. Tenanglah," ucap Lucio seraya menatap nya semakin lekat. Menyelam lebih dalam di antara kedua manik mata indahnya.
"Lucio!" Analia spontan memeluk tubuh pria itu erat. Tangisnya pecah begitu dalam pelukan Lucio.
Lucio tersentak di buatnya. Ia terdiam seketika, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Bukan hanya Lucio yang terkejut, teman-teman sesama artisnya yang ada di sana juga tak kalah terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Analia semakin terisak, ia lantas mengerat kan pelukannya. Dan di sana, Lucio dapat merasakan tubuh Analia yang bergetar hebat. Tampak jelas jika wanita itu benar-benar ketakutan.
"Te-tenanglah," Lucio terbata. Tangannya mulai bergerak membalas pelukannya, mengusap pelan punggung Analia. Berusaha untuk menenangkan wanita itu agar lebih baik.
"A-aku takut," gumam Analia tepat di telinganya. Suaranya amat pelan. Pelan bagai bisikan. Sampai-sampai hanya Lucio saja yang bisa mendengar suara Analia yang membisik kan kalimat itu.
__ADS_1
"Takut? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Analia? Kenapa dia bilang dia takut?" Lucio membatin.
...***...