Superesse

Superesse
Nuovo giorno


__ADS_3

...***...


"Tega sekali kau meninggalkan aku sendiri di bar," ujar Ciro begitu dirinya tiba di dalam sana dan mendapati Lucio yang tengah sibuk melepaskan dasi yang mengikat kedua kerah kemeja putihnya.


Lucio yang baru saja mendengar Ciro lantas menoleh padanya. Sementara tangannya masih sibuk melepaskan dasi di lehernya.


"Oh, maaf. Aku lupa soal itu. Lalu barusan kau pulang dengan siapa?" Tanya Lucio. Ciro beranjak menghampiri sofa yang ada disana lalu duduk seraya merebahkan kepalanya pada sandaran sofa yang tengah di dudukinya. Kedua kakinya saling bertumpang satu sama lain.


"Aku pulang bersama dengan beberapa artis lain yang masih berada disana."


"Piero maksudmu?"


"Salah satunya. Tapi maksudku adalah artis lain seperti Zeta, Giorgia, dan yang lainnya."


"Ah. Begitu," Lucio menanggapi.


"Oh ya, aku harus menyiapkan piyama tidur dan tempat tidurnya untukmu," Ciro beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Apakah kau tidak lelah terus mengurusku? Kau bisa istirahat lebih dulu jika kau mau," teriak Lucio pada Ciro yang kini menghampiri kamar tidur disana. Tapi langkah kakinya seketika berhenti tepat diambang pintu, ia lantas menoleh pada Lucio disana.


"Sudah menjadi tugasku sebagai manajer sekaligus satu-satunya orang yang harus menjaga dan mengurusimu," sahutnya yang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar tidur tersebut untuk mempersiapkan segalanya sebelum Lucio tidur.


Lucio diam terpaku di tempatnya. Fokusnya kini menatap sosok Ciro yang baru saja masuk ke dalam kamar tidurnya.


"Aku benar-benar beruntung bisa memiliki manajer sebaik dan sangat perhatian seperti dia," gumam Lucio seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


...*...


"Huft~" wanita itu menghela napas panjang sebelum kedua tangannya mendorong knop pintu yang berada tepat di hadapannya.


Wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan mata yang indah, rambut yang senantiasa tergerai menutupi punggungnya, dan gurat wajah yang tegas. Usianya sudah hampir menginjak usia tiga puluh tahun tapi ia sibuk mengurusi adiknya dan bahkan tidak memiliki waktu barang sedetikpun untuk mengurus kehidupan percintaannya.


Kemeja putihnya berbalutkan jas berwarna navy yang senada dengan rok pendek yang di kenakan olehnya, dan tidak lupa High heels dengan warna serupa setinggi lima centimeter melekat di kaki jenjangnya.


Flavia Clestino namanya. Bekerja sebagai manajer seorang artis ternama yang mana merupakan adiknya sendiri.


Setelah sesaat terdiam di depan pintu itu, ia lantas memutuskan untuk mendorong knop pintunya membuat pintu itu terbuka dan menampakkan ruang tengah dari kamar hotel yang di pesan sang tamu hotel. Dengan langkah besar, Flavia melangkah masuk melewati ruang tengah begitu saja dan berjalan menuju pintu lain di seberang sana.


Tanpa pikir panjang ia mendorongnya lalu berjalan masuk menampakkan sebuah ruang tidur yang kini tampak gelap. Di atas ranjang sana ia dapat melihat adiknya yang masih tergelung dalam balutan selimut dengan seorang wanita. Ya, kau tidak salah dengar. 'dengan seorang wanita' tekankan itu.


"A-argh! Siapa yang mengizinkan kau membuka tirainya?! Tutup lagi! Aku masih ingin tidur," Fito berujar tanpa membuka sedikit pun matanya. Flavia berbalik membelakangi cahaya matahari, berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan mata yang menatap tajam ke arah adiknya itu. Tatapannya bak burung elang yang hendak menyerang mangsanya.


"Huft~" Flavia menghela napasnya, tangannya memegangi keningnya. Wajahnya kini tertunduk dengan kedua matanya yang terpejam.


"Aku paling benci kalau harus melihat pemandangan seperti ini pagi-pagi," gumamnya pelan.


"FITO!!!!" Pekiknya keras membuat keduanya terkejut dan spontan membuka matanya. Menatap ke arah wanita yang baru saja berteriak padanya. Fito menyipitkan mata agar bisa melihat sosoknya dengan jelas, dan ia semakin terkejut saat menyadari Flavia manajer sekaligus kakak perempuannya itu berdiri disana dengan raut wajah kesal.


"K-kau! Kenapa kau bisa masuk?" Kalimat itu yang pertama kali terlontar dari bibirnya saat sadar Flavia berdiri disana.


"Kau saja yang ceroboh! Pintunya tidak kalian kunci!" Ujarnya seraya melirik pada pintu yang kini terbuka disana. Fito dan wanita yang terduduk disampingnya itu tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Sekarang cepat bangun dan kenakan pakaian mu! Kau hampir terlambat!" Ujar Flavia dengan suara tegasnya.


"Baiklah," Fito beranjak dari sana. Oh bagus, inilah yang Flavia benci. Pria itu kini tanpa sehelai benangpun, berjalan dengan santainya dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.


"Tampaknya urat malunya benar-benar sudah putus," gumam Flavia begitu adik satu-satunya itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Fokus Flavia lalu beralih pada wanita yang masih terduduk di atas ranjang tidurnya. Wanita itu tampak masih berusaha mencerna setiap kejadian yang dialaminya. Wanita itu duduk dengan tanpa busana, menggunakan selimut yang dipakainya untuk menutupi tubuhnya yang tak mengenakan sehelai benangpun.


"Kau juga berpakaian! Ada yang harus kita bicarakan. Aku akan menunggumu di ruang tengah," ujar Flavia yang kemudian beranjak dari sana setelah wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban.


BLAM!


Dan wanita itu hilang di balik pintu masuk, menyisakan dirinya yang kini mulai beranjak perlahan turun dari ranjang tidurnya lalu memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai.


"Tadi malam itu sangat luar biasa," ujar Fito yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu terkejut bukan main, dan spontan membalikkan tubuhnya ke arah Fito yang tampak sudah rapi disana. Pakaian yang berada dalam genggamannya ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.


Fito menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya. "Kau benar-benar mempesona," gumamnya yang kemudian menarik dagunya dan meninggalkan sebuah kecupan disana. Wajah wanita itu berubah merah dalam seketika. Oh sungguh ia benar-benar tidak pernah membayangkan akan menghabiskan malam penuh gairah dengan seorang bintang besar seperti Fito. Terlebih lagi dia begitu tampan dan… siapa yang menyangka jika pria itu adalah seorang maniak? Orang-orang bahkan tidak akan pernah percaya padanya jika ia menceritakan apa yang dialaminya.


"Ah, sial! Aku ingin lebih," gumamnya setelah mendaratkan satu kecupan disana. "Mari bermain satu kali lagi," tuturnya.


"Ta-tapi, bukankah kau harus pergi."


"Sssssstttttt…" Fito menaruh telunjuknya di bibir wanita itu membuatnya diam dalam seketika. "Hanya satu kali lagi, sebelum aku pergi," ujarnya yang kemudian menarik tubuh wanita itu dan memulai aksinya, meninggalkan beberapa jejak ditengkuknya sebelum kemudian menurunkan resleting celananya, dan memulai permainan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2