Superesse

Superesse
Bevanda


__ADS_3

...***...


Fokus Ciro seketika beralih pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Jam itu kini sudah menunjukkan pukul delapan empat puluh, sudah hampir jam sembilan kurang.


"Sepertinya kita harus kembali ke hotel. Ini sudah hampir jam sembilan, dan jika kita terlambat pulang bisa-bisa kalian tidak mendapatkan tidur yang cukup," ujar Ciro. Fio yang mendengarnya lalu beralih pula menatap jam di tangannya.


"Ah, benar. Kita harus kembali. Apalagi mulai besok jadwalmu sangat padat," katanya seraya melirik pada Dario.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang. Lagipula aku sudah lelah," sahut Dario.


"Ya, aku juga. Kalau begitu ayo pergi," Lucio beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh Dario, Ciro, dan Fio. Sejurus kemudian mereka melangkah meninggalkan ruangan VVIP itu, hendak pulang kembali ke kamar hotel mereka masing-masing.


Hal pertama yang menyambut mereka ketika tiba di lantai bawah adalah keramaian dan suara dentuman musik yang begitu kencang. Jalan akses menuju pintu keluar di padati oleh orang-orang yang berdansa di sana. Sepanjang dace floor hingga pintu keluar, semuanya di penuhi orang-orang. Hal itu membuat mereka kesulitan untuk beranjak menuju pintu keluar.


"Bagaimana caranya kita bisa keluar? Terlalu banyak orang di sini," Dario berujar, menatap kerumunan orang-orang disana.


"Kita terobos saja, aku akan membantumu keluar," Fio menjawab. Ia lantas berjalan di depan. "Tetap di belakang ku!" Ujarnya pada Dario yang kini melangkah di belakang. Mereka lalu berjalan berusaha untuk menerobos orang-orang yang memenuhi jalan mereka untuk bisa keluar dari sana.


"Ayo kita juga pergi," tutur Ciro pada Lucio.


"Tunggu, aku ingin memastikan sesuatu."


"Apa yang ingin kau pastikan?"


"Aku ingin memastikan jika artis lain sudah kembali. Ini sudah hampir jam sembilan, bisa gawat jika mereka belum pulang sampai jam sembilan," Lucio mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan beberapa rekan artisnya yang belum pulang. Fokus matanya lalu menangkap dua orang sosok wanita yang di kenalnya. Di sana, di meja bar yang ada di sana. Ia dapat melihat Cristian yang tengah duduk bersama dengan Zeta. Mengobrol bersama beberapa orang pria.


"Lucio! Kau mau kemana?" Ciro berteriak memanggil namanya ketika menyadari pria itu mulai beranjak pergi menghampiri dua orang yang baru saja di lihatnya.


"Zeta," panggil Lucio yang membuat wanita yang tengah duduk itu menoleh ke arah datangnya suara bersamaan dengan Cristian yang duduk di sebelahnya.


"Oh, Lucio? Kau kemari juga?" Sahut Zeta begitu menyadari jika pria yang baru saja memanggilnya adalah Lucio.


"Kalian belum pulang?"


"Oh, belum. Kami masih menunggu pesanan kami. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Dimana yang lain?"


"Disana!" Zeta menunjuk ke arah dimana Analia duduk bersama dengan Piero. Lucio menoleh ke arah yang ditunjuk wanita itu, dan ia begitu terkejut ketika melihat Piero yang memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang berada di hadapannya. Ia terdiam seketika, mengawasi setiap gerak-geriknya.


"Memangnya kenapa kau bertanya?" Tanya Zeta menatapnya heran.


"Tidak, aku hanya ingin memastikan jika kalian pulang tepat waktu. Ini sudah hampir jam sembilan," gumamnya tanpa melirik.


"Huh?" Zeta melirik jam di tangannya. "Oh iya. Astaga, aku benar-benar tidak sadar," ujarnya ketika sadar jika ia sudah menunggu sangat lama, bahkan hanya untuk menunggu minumannya yang tak kunjung di layani. Bar itu benar-benar penuh sampai-sampai sang barista hanya fokus pada yang lain, begitu pula dengan dirinya dan Cristian yang malah fokus mengobrol bersama beberapa orang yang di temuinya.


"Cris!" Wanita itu memanggil wanita di sampingnya membuatnya menoleh adanya.


"Huh? Ada apa?"


"Sepertinya kita harus pulang. Ini sudah hampir jam sembilan," Zeta menunjukkan jamnya.


"Oh kau benar."


Sementara Zeta dan Cristian sibuk mengobrol, beda halnya dengan Lucio yang kini terus memandangi pergerakan Piero. Pria itu mulai berusaha untuk mendekati Analia disana, dan Analia tampak tidak nyaman dengan hal itu. Beberapa kali Piero berusaha untuk memberikan minuman yang semula entah dicampur apa. Lucio yang melihatnya tidak bisa tinggal diam.


Bergegas ia berjalan menghampiri mereka, untuk membantu Analia sebelum kejadian yang tidak di inginkan terjadi.


"Eh? Bukankah anda adalah manajer Lucio?" Ujar Cristian.


"Iya, omong-omong kemana Lucio? Bukankah barusan dia kemari?"


"Lucio? Oh, di sana!" Zeta menunjuk pada pria yang tengah berjalan menghampiri Analia disana.


"Oh astaga kenapa dia berjalan begitu cepat."


"Memangnya kenapa anda mencari Lucio?"


"Aku dan Lucio hendak kembali, tapi dia malah pergi kemari. Dia bilang ingin memastikan jika kalian sudah kembali atau belum."


"Ooh."

__ADS_1


"Omong-omong dimana yang lain? Bukankah kalian datang bersama Giorgia dan teman-temannya?"


"Giorgia? Ah, tadi mereka disana. Tapi aku tidak tahu kemana mereka sekarang."


"Astaga. Kalau begitu ayo bantu aku cari mereka, kita harus kembali sebelum jam sembilan. Besok kalian harus bekerja!"


"Baiklah. Kebetulan kami juga akan pulang."


"Kalau begitu, ayo cari mereka!" Ucapnya mengintruksikan pada kedua artis itu.


"Iya. Ayo," Zeta dan Cristian lantas beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mengikuti kemana arah Ciro pergi.


...*...


"Ehem," Piero berdeham membuat Analia spontan terkejut begitu menyadari pria itu sudah berada tepat di sampingnya. Di tangannya ia memegang shot glass miliknya yang kini terisi tiga perempatnya.


"Bisakah kau sedikit bergeser?" Analia merasa risih dengan kehadiran pria itu.


"Memangnya kenapa? Bukankah dulu kita sudah terbiasa duduk seperti ini? Bahkan, lebih dekat dibandingkan ini," Piero merangkul Analia. Analia yang mendapati perlakuan seperti itu, mendelik sinis ke arahnya.


"Jangan sentuh aku!" Tukasnya seraya menepis tangan besar pria itu.


"Oh ayolah An. Jangan terus bersikap seperti ini padaku. Lebih baik kita berbaikan dan kembali seperti dulu, bagaimana?"


"Jangan harap!" Analia sedikit bergeser sampai ia benar-benar terpojok di ujung sofa yang di dudukinya. Piero kembali bergeser ke arahnya.


"An, aku benar-benar ingin kita seperti dulu lagi."


"Tapi aku tidak mau! Harus berapa kali aku bilang?!" Analia kesal bukan kepalang.


"Huft~" Piero menghela napas panjang. "Aku benar-benar bingung harus membujukmu bagaimana lagi, apakah kau benar-benar tidak bisa memaafkan aku?"


"Tidak akan pernah!" Analia menekan kalimatnya.


"Baiklah jika begitu maumu, aku akan berhenti untuk mendekatimu," ujarnya berpura-pura. Mendengar itu Analia sedikit terkejut dengan respons nya. Tidak seperti biasanya pria itu bersikap begitu, biasanya ia akan memaksakan keinginannya.

__ADS_1


"Omong-omong apakah kau ingin minum?"


...***...


__ADS_2