
...***...
Fokus orang-orang di dalam sana seketika teralih saat secara tiba-tiba mereka merasakan jika ada sesuatu yang terjadi dengan kapalnya.
"Ada apa ini?" Tanya Ilario pada kameraman yang kini berdiri di sampingnya. Pria itu terdiam untuk sesaat berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
"Tampaknya feri nya bergerak pak," sahut si kameraman begitu sadar dengan apa yang terjadi.
"Apa?! Siapa yang menyuruh nahkoda nya untuk pergi?" Air muka Ilario berubah kesal.
"Saya tidak tahu pak," sahut pria itu padanya.
"Aku harus pastikan semua ini," Ilario beranjak dari tempatnya. Berjalan menghampiri asistennya yang ada di sana, hendak memastikan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Ada apa ini?"
"Saya tidak tahu pak, tapi sepertinya kapalnya bergerak," sahut wanita itu padanya.
"Apa? Bagaimana bisa? Siapa yang memerintahkan nahkoda nya?"
"Sebentar pak, biar saya cek lebih dulu," wanita itu bergerak di sana. Ia hendak pergi dari ruangan tersebut untuk pergi ke ruang kendali tapi langkah nya lebih dulu di hentikan oleh Ilario.
"Ah, tidak perlu! Biar aku saja yang mengeceknya sendiri," ucapnya menahan.
"Eh?"
"Biar aku saja yang cek. Kau urus pekerjaan mu yang lain saja!" Titahnya.
"Baiklah kalau begitu pak," sahut wanita itu.
Sejurus kemudian Ilario mulai beranjak pergi dari sana. Ia hendak mengecek nahkoda kapal yang secara tanpa instruksi darinya itu, mengemudikan kapal sebelum ia perintahkan.
Dengan tergesa-gesa Ilario bergerak, ke arah dimana ruang kendali itu berada.
__ADS_1
...*...
"Astaga! Apa yang telah aku lakukan?!" Pria itu merutuki kebodohannya, bergegas ia mencari cara agar ia bisa menghentikan kapalnya. Tapi langkahnya berhenti sebelum ia menemukan tombol untuk menurunkan kembali jangkarnya.
"Tunggu! Bukankah ini yang aku inginkan?" Pria itu bergumam pelan. Fokus matanya kemudian beralih pada roda kendali, ia tersenyum simpul sebelum akhirnya melenggang menghampiri benda itu disana.
"Baiklah, ini saatnya untuk aku mengasah kemampuan ku," ujarnya. Dengan penuh percaya diri tangannya bergerak meraih kendali, ia siap untuk menjalankan kapal itu sebelum kemudian seseorang memekik padanya.
"Apa yang kau lakukan!" Teriaknya kesal membuat pria itu spontan terkejut dan menatap ke arah datangnya suara.
Di sana. Di ambang pintu masuk, ia dapat melihat sang nahkoda kapal yang baru saja kembali dari toilet setelah selesai membuang hajatnya. Ia tampak marah sekaligus kesal karena secara tanpa izin awak kapalnya itu mengemudikan feri yang seharusnya di kemudian olehnya.
Pria yang lebih muda itu menatapnya horor. Seketika keringat dingin mengucur deras dari keningnya, dan wajahnya mulai berubah pucat.
Kapal itu terus bergerak sampai kemudian tali yang semula di ikat di salah satu tiang penyangga yang ada di pelabuhan sampai putus di buatnya. Kapalnya mulai bergerak menjauh dari lokasi pelabuhan itu berada.
Sang nahkoda bergerak dengan raut wajah kesal. Ia menghampiri awak kapalnya yang sudah sangat lancang itu.
"Siapa yang memerintahkan kau untuk mengemudikan kapal ini?!" Tukasnya penuh amarah. Sementara yang di marahinya justru kini menundukkan kepalanya dengan penuh rasa takut menjalar di sekujur tubuhnya.
"Mencoba apa?! Kau ingin mencoba membuat masalah dan mencoba menjebakku dalam masalah, begitu?!" Potongnya cepat.
"S-saya tidak bermaksud untuk—"
"Diam! Aku belum selesai bicara!" Potongnya lagi, membuat pria itu seketika bungkam di tempatnya.
"Astaga, tingkahmu benar-benar membuat aku emosi," nahkoda itu bergumam. Ia memijat pelan pelipisnya yang terasa tegang akibat apa yang dilihatnya saat ini. Fokusnya kembali beralih menatap tajam pada awak kapalnya.
"Aku menyuruhmu untuk menjaga dan mengecek ulang semuanya! Bukan malah menyalakan mesinnya lalu menjalankannya! Dasar bodoh!" Pria itu mengumpat kesal.
"S-saya benar-benar minta maaf pak, saya tidak sengaja," sahut pria itu dengan gumaman.
"Kau pikir dengan permintaan maafmu ini, kau bisa menyelesaikan masalahnya huh?!"
__ADS_1
"Saya tahu, ini tidak akan menyelesaikan masalahnya tap—"
"Ada apa ini?!"
Perkataannya lagi-lagi terpotong. Tapi kali ini bukan nahkoda kapal yang memotong ucapannya, tapi seorang penumpang yang mereka kenal. Penumpang yang mana menyewa seluruh feri mereka untuk keperluan syutingnya. Siapa lagi jika bukan Ilario sang sutradara terkenal.
"P-pak Ilario," ujar mereka serentak dengan raut wajah terkejut menatap ke arah Ilario yang baru saja tiba. Air muka keduanya berubah panik seketika begitu sadar yang tiba di sana adalah Ilario yang seharusnya memberikan informasi kapan mereka harus berangkat.
"Ada apa ini? Siapa yang menyuruh kalian menjalankan feri nya?" Tanya pria itu yang berusaha untuk tenang.
"Maaf sebelumnya pak, ada beberapa kesalahan teknis yang di lakukan oleh awak kapalku. Dia tidak sengaja menekan tombol mesin yang secara otomatis langsung membuat mesinnya menyala. Kami benar-benar belum menerima perintah apapun dari crew atau asisten bapak, jadi yang seharusnya di salahkan di sini adalah saya dan awak kapal saya," nahkoda kapal itu menunduk meminta maaf, begitu pula dengan awak kapal yang semula di marahi olehnya. Pria itu saat ini berdiri tepat bersebelahan dengan sang nahkoda. Ia sama-sama meminta maaf, dan sama-sama dalam keadaan menundukkan kepalanya.
"Kesalahan teknis?" Ulang Ilario di sana dengan raut wajah terkejut.
"Benar pak. Sekali lagi, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya," tutur pria itu.
"Huft~" Ilario menghela napasnya kasar. Ia mengusap wajahnya, sebelum kemudian berkata "kalau begitu cepat kau kemudikan kapalnya, kita putar balik ke pelabuhan," titahnya pada sang nahkoda kapal.
"Baik pak," nahkoda itu melakukan apa yang telah di perintahkan oleh Ilario padanya. Ia memegang kendali di sana, tapi begitu mengecek radar. Ia baru sadar jika kapalnya sudah bergerak cukup jauh dari tempat dimana semula mereka berada.
"Maaf pak, ada hal buruk yang harus saya sampaikan," ucap nahkoda kapal itu hati-hati. Ilario yang mendengarnya seketika menatapnya dengan raut wajah terkejut.
"Apa?" Tanyanya.
"Kita sudah berada sangat jauh dari pelabuhan, jika kita kembali akan memakan waktu untuk memutar balikkan arah kapalnya. Jadi bagaimana jika kita lanjutkan saja perjalanannya?" Kata nahkoda kapal itu yang di akhiri tanya atas saran yang di ajukan nya.
"Apa?" Ilario terbelalak. "Kita tidak bisa putar balik?" Ulangnya yang hanya di jawab anggukan kepala oleh nahkoda itu.
"Astaga, kalau begitu aku harus mengubah semua rencana awalnya," gumamnya yang tampak khawatir.
"Jadi… bagaimana pak?" Nahkoda itu kembali bertanya. Fokus Ilario beralih padanya sekilas sebelum kemudian ia melirik jam di tangannya.
"Aku tidak akan memiliki cukup waktu untuk putar balik, sepertinya aku harus mengikuti saran darinya," gumam Ilario melirik jamnya.
__ADS_1
"Baiklah, kita lanjutkan" tuturnya.
...***...