Superesse

Superesse
Calmatevi


__ADS_3

...***...


"Entah mengapa, tapi aku merasa keadaan di sini begitu tenang," gumam pria itu seraya meneguk air yang baru saja di ambilnya.


"Kau juga merasa begitu?" Tanya salah satu rekannya yang kini tengah menyiapkan makan bahan-bahan untuk makan malam. Ia melirik sekilas padanya.


"Kau juga merasakannya?" Pria itu balik bertanya seraya menaruh gelas di tangannya ke atas meja.


"Iya."


"Ah, jadi ternyata bukan perasaan ku saja."


"Omong-omong kemana yang lain, ya? Sejak tadi aku tidak menemukan teman-teman kita yang lain."


"Aku tidak tahu, mungkin mereka sedang mengerjakan tugas mereka?"


"Entahlah, tapi kenapa sejak tadi tidak ada yang lewat?"


"Bagaimana kalau kita cek?" Tawarnya seraya menatap padanya.


Pria itu berhenti sejenak. "Baiklah, ayo!" Sahutnya sembari menaruh bahan-bahan makanan di tangannya itu ke atas meja.


Rekannya yang sejak tadi bersama dengannya lantas bangun dari duduknya. Bersama-sama mereka melangkah keluar dari ruang makan, menghampiri pintu keluar yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Tiba di depan pintu, salah satu di antara mereka menarik kenop pintu itu ke arah dalam.


Hening. Begitulah yang mereka rasakan saat pintu itu mereka buka. Sepanjang koridor yang melewati ruang makan, tidak ada seorang pun yang melangkah melewati ruangan mereka berada.


"Benar-benar tidak ada orang," gumam yang satu.


"Dengan keheningan seperti ini membuatku merinding, apalagi sebentar lagi kita akan melewati Poveglia," rekannya bergumam. Memegangi tengkuknya dengan bulu kuduknya yang kini mulai berdiri.

__ADS_1


"Kau benar. Apalagi di sini benar-benar seperti tidak ada kehidupan sama sekali."


"Ayo kita cek ke ruangan lain."


"Ayo," sahut yang satu.


Kedua awak kapal itu lantas beranjak dari tempat mereka. Menutup rapat pintu ruang makan, kemudian melangkah menyusuri koridor yang masih tampak sepi saat ini. Kedua manik mata mereka terus mengedar. Mencari keberadaan rekan-rekan nya yang lain. Tapi semuanya hilang entah kemana, di sepanjang jalan. Mereka tidak menemukan rekan mereka satu pun.


...*...


"Huft~" pria itu menghela napas. Sudah cukup lama ia berdiri di sana seorang diri, menatap ke arah laut lepas dan berdiri tepat di belakang pagar besi yang membatas buritan bagian samping yang jarang di lalui oleh orang-orang. Rasanya amat tenang, apalagi di temani dengan hembusan angin dan pemandangan sejauh mata memandang berisi air yang tampak menyatu dengan sang langit yang membiru.


"Dalam dua hari ini, akan menjadi malam yang membosankan," gumamnya pelan. Sebenarnya Fito bukan tipikal pria yang suka menyendiri seperti saat ini, apalagi menikmati ketenangan dengan hanya di temani oleh pemandangan indah dan ketenangan. Jelas-jelas itu bukanlah dirinya. Tapi karena dalam dua hari dua malam ini tidak akan ada yang mampu ia lakukan selain berlatih dialognya, maka rasa bosan akan lebih sering menghampiri dirinya.


Apalagi nanti malam, Fito merasa bahwa malamnya nanti akan menjadi malam panjang yang bahkan membuat tidurnya tidak nyenyak. Sial, dia tidak pernah bisa tidur seorang diri. Ia membutuhkan teman, teman untuk menghangatkan ranjangnya. Tapi di tengah lautan seperti saat ini, siapa yang ingin menemaninya? Siapa yang bisa di rayunya? Putri duyung? Atau ikan Dugong? Oh hentikan, dia bukan pangeran Eric dalam film The Little Mermaid.


"Sudah berapa lama aku disini," Fito bergumam. Fokusnya beralih pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ternyata sudah sore dan hampir malam. Lebih baik aku kembali dan menemui teman-teman yang lain," sambungnya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju arah pintu masuk.


Sepanjang jalan menuju ruang tunggu tempat dimana sejak awal teman-teman sesama artisnya berada, tidak ada seorang pun yang di lihatnya. Biasanya ada beberapa awak kapal yang tengah bekerja melintas di koridor yang di lewatinya. Tapi kali ini tidak ada, bahkan rasanya tampak seperti kapal tak berpenghuni yang terus melaju di tengah laut.


CEKLEK!


Begitu pintu masuknya di buka, atensi mereka seketika beralih menatap ke arahnya.


"Fito?" Giorgia menatap ke arahnya.


"Kalian di sini, dimana yang lain?" Tanya Fito seraya menghampiri kursi tempat semula ia duduk lantas duduk di sana.


"Analia sedang berada di dalam kamarnya, ia sedang beristirahat. Sementara Dario sedang mencari gelang pemberian kekasihnya yang jatuh entah dimana, dan Piero… kami tidak tahu dimana dia," tutur Fella menjelaskan.


"Kalian tidak tahu dimana dia?" Ulang Fito seraya menatap pada Fella. Wanita itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kau sendiri darimana? Kenapa kau baru terlihat sejak tadi?" Tanya Sienna yang kemudian menaruh skenario di tangannya ke atas meja dan menatap padanya dengan posisi kedua tangan yang di lipat di depan dada dan punggung yang bersandar pada sandaran kursi yang ia duduki.


"Sejak tadi aku di buritan, aku sedang menikmati pemandangan laut lepas. Memangnya kenapa?"


"Benarkah? Aku kira kau kemana," tutur Sienna.


"Apakah sejak awal kau tidak bersama Piero?" Tanya Lucio sembari menoleh padanya.


"Tidak, aku pikir Piero justru bersama kalian. Karena sejak selesai makan siang tadi, aku hanya berdiam diri di buritan."


"Ah, begitu rupanya," sahut Giorgia.


"Jika Piero tidak bersama denganmu, lantas dia kemana?"


"Entahlah, istirahat mungkin? Apakah kalian sudah cek di kamarnya?"


"Tidak. Belum."


"Kalau begitu biar aku periksa," Fito beranjak bangun dari tempat duduknya. Bersiap untuk melangkah, tapi ia berhenti seketika saat mereka menahannya.


"Sudahlah tidak perlu," kata Giorgia. Fito menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" Tanyanya sembari mengerutkan kening.


"Lebih baik sekarang kita berlatih, apalagi dalam dua hari kedepan, kita masih memiliki jadwal syuting yang padat di San Marino. Jadi lebih baik kita fokus berlatih saja."


"Tapi bagaimana dengan Piero, Analia, dan Dario? Tidak mungkin, kan kita berlatih tanpa mereka?"


"Untuk Piero biarkan saja, Analia juga. Tampaknya dia butuh istirahat karena dia sakit, dan untuk Dario, dia bilang kalau dia akan datang kemari begitu menemukan gelang yang dicarinya. Semua bagian dalam skenario yang memiliki karakter yang mereka perankan, kita lewati saja. Dan kita fokus pada dialog kita masing-masing."


"Baiklah kalau begitu," tutur Fito yang kemudian kembali duduk ditempatnya semula.

__ADS_1


Fokus mereka lantas mulai disibukkan dengan membaca naskah skenario mereka masing-masing, berlatih dialog dan akting secara bersamaan dan menghafal setiap adegan yang ada dalam skenario yang tertulis dikertas mereka masing-masing. Mereka harus memberikan yang terbaik untuk filmnya.


...***...


__ADS_2