Superesse

Superesse
Memoria


__ADS_3

...***...


"Huft~ tenang. Aku harus tenang," gumam Dario terus merapalkan kalimat itu berusaha untuk membuat dirinya tenang walaupun tangannya terus gemetar ketakutan.


Saat ini dirinya tengah berada di geladak kapal belakang, berdiri seorang diri seraya mengatur napasnya yang terasa sesak dan jantungnya yang bergemuruh.


Tangannya sejak tadi tak ingin berhenti bergetar meski ia sudah menarik napas berulang kali tapi tetap saja. Begitu pula dengan kakinya di bawah sana yang sama gemetar dan lemasnya seperti sebelumnya. Bahkan saat ini, dirinya harus berpegangan demi menopang tubuhnya yang lemas.


"Aku ingin memastikan apakah kapak ini…" Piero menjeda sejenak kalimatnya, mengusap ujung mata kapak nya. Menggores sedikit bagian sisinya. "…Tajam atau tidak," lanjutnya seraya melirik kearah sang awak kapal.


"H-huh?" Awak kapal itu terbata, ia mulai merasa jika ada yang tidak beres dengan Piero.


"Aku sangat ingin memastikannya, tapi… apa yang bisa aku pakai untuk mengetesnya?" Piero melangkah perlahan menghampiri pria itu. Sementara yang di dekatinya kini bergerak mundur secara perlahan.


"A-apa maksudmu?" Tanya pria itu dengan raut wajah pucat, ia terus melangkah mundur. Entah mengapa tatapan Piero terhadapnya terasa berbeda.


Piero mengencangkan cengkeramannya pada kapak yang di genggam olehnya itu. Ia terus melangkah, tatapannya tajam menatap ke arah pria itu.


"B-behenti. Apa yang akan kau lakukan?" Pria itu menelan salivanya susah payah. Terus berjalan mundur membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas keadaan lantai yang dipijaknya sampai tanpa sadar ia tersandung dan jatuh dilantai dengan keadaan bokongnya lebih dulu yang menghantam kasar lantai keras disana.


BRUUKKK!!!


Pria itu terjatuh. Matanya masih menatap sosok Piero yang terus menghampirinya disana. Tangannya mulai gemetar, dan ia terus berusaha melarikan diri. Menyeret tubuhnya yang masih berada dalam posisi terduduk itu.


Keringat dingin mulai mengucur dikeningnya. Bersamaan dengan itu, jantungnya bergemuruh bersamaan dengan wajahnya yang kini tampak pucat. Matanya membulat menatap sosok Piero yang terus mendekat dengan tatapan menakutkan.


"Mari kita coba, apakah ini tajam atau tidak?" Gumam Piero pelan.


"T-tidak," pria itu berbalik hendak berlari tapi Piero lebih dulu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Berhenti disana! Kau tidak boleh pergi begitu saja," gumamnya yang kemudian mengangkat kapak di tangannya ke atas kepalanya. Mengayunkannya dan dalam satu kali hantaman…


CRATTTTT!


"Argh." Dario meringis ketika bayangan itu lagi-lagi di lihatnya. Jantungnya semakin menderu, tangan dan kakinya semakin bergetar hebat, dan napasnya semakin sesak.


BRUUKKK!


Dario jatuh terduduk. Sebelah tangannya berpegangan pada tiang yang menyangga ujung geladak tempatnya berada.


"A-ku mohon! Pergilah dari pikiranku!" Gumamnya pelan seraya memegangi kepalanya dan menggeleng cepat berusaha menghapus semua ingatan yang membuatnya ketakutan itu. Psikisnya sedikit terguncang akibat apa yang baru saja dilihatnya.


Apa yang baru saja di lakukan oleh Piero adalah sesuatu yang baru saja dilihatnya. Itu adalah yang pertama dan cukup untuk membuatnya shock dan gemetar ketakutan.


...*...


BLAM!


"Maaf, apa yang kau lakukan di sini? Ini adalah area khusus untuk para awak kapal dan orang yang berkepentingan lainnya. Yang tidak berkepentingan harap keluar," tutur salah satu awak kapal yang baru saja hendak pergi keluar dari dalam ruangan itu. Pria yang baru saja berbicara padanya itu menatap ke arahnya dengan raut wajah kebingungan.


Piero beralih pandang menatap dirinya. Ia sedikit menggeser tubuhnya yang dalam seketika membuat fokus pria itu tersita kearah tangan Piero.


Pria itu terkejut bukan main saat melihat apa yang ada dalam genggamannya. Piero menggenggam sebuah kapak bantuan yang ada dilorong. Kapak itu berlumuran darah yang beberapa diantaranya menetes membasahi lantai kering yang semula tampak bersih itu.


Wajahnya berubah pucat pasi dan tangannya gemetar. Kedua matanya membulat menatap sosok Piero yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan olehnya tapi cukup untuk membuatnya merasa ketakutan.


Jantungnya yang menderu dan instingnya yang merasa kurang enak dengan apa yang akan terjadi spontan membuat ia melangkah perlahan ke belakang.


Pria itu mundur. Ia menatap Piero lekat.

__ADS_1


Piero mulai berjalan menghampirinya, dan hal itu berhasil membuatnya semakin ketakutan.


BRUUKKK!!!


Pria itu tersungkur jatuh kearah tembok, ia menggunakan sebelah tangannya sebagai tumpuan. Namun hal itu tak berhasil membuatnya bertahan.


Pria itu jatuh di lantai dengan suara yang amat keras membuat seisi orang menoleh kearahnya bingung.


"Kenapa dia?" Salah satu awak kapal dibawah sana bertanya pada rekannya.


"Entahlah, mungkin saja dia tersandung. Kau tahu sendiri kan, dia orang yang ceroboh. Sudahlah jangan hiraukan dia," gumam pria disampingnya itu yang lantas mulai kembali disibukkan dengan pekerjaan mereka.


Disisi lain, orang-orang lain masih berusaha untuk tidak terlalu menghiraukan kedatangan Piero ke dalam ruangan itu, entah mengapa mereka rasanya malas untuk mengurusi hal-hal yang terkesan tidak terlalu penting.


GLUP!


Ia menelan ludahnya susah payah saat tak bisa lari lagi. Dirasanya lidahnya kelu, bahkan untuk berteriak meminta tolong saja rasanya sangat sulit.


Piero masih menatapnya tajam, perlahan tangannya terangkat membuat pria itu semakin ketakutan. Menyeret tubuhnya ke belakang berusaha untuk menjauh, tapi lebih dulu Piero mengayunkannya tepat kearah pria itu. Dan dalam satu kali hantaman.


"ARRGGGHH!!!!" Pekiknya keras. Bunyinya nyaring dan amat memekakkan telinga, suaranya itu berhasil membuat seisi orang di sana kembali beralih menatap padanya. Dan mereka begitu terkejut saat melihat salah satu rekan mereka yang tengah dihantam berulang kali dengan kapak di tangan Piero.


Wajah semua orang di dalam sana seketika berubah pucat pasi, dan dalam sekejap mata semuanya gemetar ketakutan. Tak sedikit di antara mereka yang sampai jatuh melihat apa yang baru saja terjadi di sana.


Piero berhenti ketika dirinya merasa lelah. Ia berdiri di sana, menatap tajam ke arah pria yang baru saja di hantamnya keras.


Darah segar mengalir deras membasahi lantai yang semula bersih di sana, beberapa tetes menghiasi wajah tampan nya.


Ia berusaha mengatur napasnya, dan tangan nya di bawah sana masih mencengkeram erat kapak yang di pegang nya.

__ADS_1


Semua orang berdiri terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Dengan kedua mata yang terbelalak dan wajah yang pucat pasi di sertai dengan tubuh yang gemetar, mereka benar-benar tak bisa berkata-kata di buatnya.


...***...


__ADS_2