Superesse

Superesse
La sala d'attesa


__ADS_3

...***...


BLAM!


Lucio menutup pintu itu rapat, ia lantas berjalan menghampiri beberapa orang rekan kerjanya yang tengah duduk di kursi masing-masing yang ada di ruang tunggu.


Fokus mereka seketika beralih begitu mendengar suara pintu yang di tutup dengan cukup keras.


"Lucio?" Tutur Fella sembari menatapnya yang baru saja tiba.


"Huh? Kenapa hanya ada kalian berempat di dalam sini? Yang lain kemana?" Tanya Lucio yang baru sadar kalau yang ada di dalam sana hanyalah Giorgia, Fella, Natala dan Sienna.


"Analia seperti yang kau ketahui dia sedang tidak enak badan dan sekarang sedang beristirahat di dalam kamarnya. Sementara Jolanda, Cristian, dan Zeta sedang berada di ruang makan. Mereka bilang kalau mereka ingin ngemil, maka dari itu mereka saat ini sedang berada di dalam ruang makan," jelas Sienna.


"Oh, lalu… kemana Piero, dan Fito?"


"Entahlah, sejak tadi kami tidak melihat mereka. Mungkin saja mereka sedang menikmati waktu bersama di buritan," tutur Giorgia.


"Ah, begitu rupanya."


"Kau sendiri kenapa datang seorang diri? Kemana Dario?" Natala menatapnya dengan raut wajah bingung, ia menatap ke arah pintu masuk. Mencari sosok Dario, tapi pria itu tidak ada di sana. Lucio benar-benar datang seorang diri.


"Dario sedang mencari suatu barang berharganya lebih dulu, jadi dia tidak kemari."


"Barang berharga?" Beo Fella.


"Iya."


"Barang berharga seperti apa? Mungkin saja kami melihatnya."


"Entahlah Dario tidak menjelaskan secara rinci detail bentuk atau tampilannya, tapi yang aku tahu. Itu adalah sebuah gelang pemberian dari kekasihnya."


"Benarkah?"


"Iya. Aku tadi juga sempat bertanya padanya, apakah harus aku bantu atau tidak. Tapi dia malah menolak."


"Oh, jadi sekarang dia mencari sendiri?"


"Yup."

__ADS_1


"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" Giorgia menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung.


"Lebih baik kita kembali berlatih, lagipula dalam dua hari lagi, kita kan harus kembali bekerja."


"Oh. Kau benar."


"Tapi kita tidak bisa hanya berlatih dengan sedikit orang seperti ini kan?" Fella memandangi teman-temannya.


"Apakah kita perlu panggil Jolanda, Cristian, dan Zeta lebih dulu?" Tanya Sienna.


"Sepertinya lebih baik seperti itu. Apalagi kan, akan ada lebih banyak scene yang di ambil bersama mereka begitu kita tiba di San Marino."


"Iya. Kalau begitu aku akan panggilkan Jolanda, Cristian, dan Zeta lebih dulu ya," Fella beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Biar aku saja, sekalian aku juga ingin ke toilet," potong Natala seraya beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Oh, baiklah," sahut Fella.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya." Pamit Natala yang kemudian berjalan keluar dari dalam ruang tersebut, melangkah menuju tempat dimana Jolanda, Cristian, dan Zeta berada saat ini. Ia hendak meminta mereka untuk datang ke ruang tunggu untuk berlatih bersama.


...*...


"Sudahlah. Jangan membicarakan hal ini lagi, aku mulai takut. Apakah ini sudah hampir sore."


"Baiklah, ayo."


Kedua awak kapal itu lantas beranjak pergi dari sana.


Piero terdiam sesaat, ia melamun. Entah mengapa secara tiba-tiba kepalanya di penuhi dengan sebuah ide.


"Pulau tak berpenghuni? Itu artinya tidak ada seorang pun yang tinggal di sana kan? Sepertinya aku bisa memanfaatkan situasi ini agar aku bisa mendapatkan Analia seutuhnya," batinnya.


"Tapi aku tidak mungkin melakukan nya begitu saja. Aku tidak mungkin secara tiba-tiba meminta nahkoda untuk berlayar menuju Poveglia. Itu terlalu berbahaya, dan lagi… akan ada banyak yang mencurigai ku karena aku tiba-tiba ingin ke sana. Maka dari itu, sepertinya aku harus menyingkirkan satu persatu penghalang yang aku miliki lebih dulu. Baru setelah aku aku bisa mendapatkan Analia. Aku akan buat nya tidak akan pernah bisa lepas dari cengkraman ku selamanya. Dan akan aku buat dia bergantung padaku sampai-sampai dia rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan bantuan dariku," pikirnya.  Pria itu mengulum senyum, ia lantas menatap ke arah laut lepas sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk pergi dari sana.


"Untuk menyelesaikan semuanya, maka aku harus mencari sebuah alat yang mampu membereskannya," Piero membatin. Ia terus melangkah memasuki bagian dalam feri.


Perlahan tangannya bergerak, merogoh sesuatu dari dalam kantong celana panjang yang ia kenakan.


"Keamanan identitas nomor satu," gumamnya sembari mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam yang senantiasa di bawanya. Pria itu kemudian mengenakannya demi memastikan jika tidak ada yang menyadari jejak apa yang akan di perbuatnya dalam waktu dekat.

__ADS_1


Selesai mengenakan sarung tangan yang di bawanya, Piero kemudian melangkah mencari benda yang dapat ia gunakan untuk melancarkan aksinya.


...*...


CEKLEK!


Pintu ruangan itu seketika terbuka yang berhasil membuat mereka bertiga spontan terkejut dan menoleh kearah datangnya suara.


"Ah! Natala, kami kira kau itu siapa?!" Zeta menghela napas, ia benar-benar terkejut saat secara tiba-tiba pintu itu terbuka.


"Huh? Kalian ini kenapa? Aku membuka pintu ekspresi kalian kenapa terkejut begitu?" Natala menatap ketiga rekan kerja nya itu dengan raut wajah bingung, wajah mereka tampak pucat saat ia tiba dan mengejutkan mereka.


"Kami sedang mendengarkan cerita seram, dan tiba-tiba kau masuk saat bagian-bagian terseramnya. Bagaimana kami tidak terkejut?" Jolanda menyahut.


"Oh, itu menjelaskan semuanya." Natala berjalan menghampiri ketiganya di sana.


"Omong-omong ada apa kau kemari?" Tanya Cristian.


"Kau datang untuk bergabung?" Tanya salah satu awak kapal yang duduk bersama mereka.


"Oh, bukan. Aku kemari untuk meminta kalian kembali ke ruang tunggu. Kita harus latihan sebelum ketibaan kita di San Marino," ujar Natala.


"Oh ya. Kau benar," sahut Cristian.


"Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Zeta.


"Yang lain sudah menunggu di ruang tunggu. Jadi ayo pergi." Natala berbalik arah kembali ke pintu.


"Sangat di sayangkan kami tidak bisa mendengar ceritamu hingga usai," ujar Cristian sembari bangun dari duduknya.


"Kapan-kapan aku ingin mendengar kelanjutannya," tutur Jolanda yang kemudian menaruh gelas ditangannya ke atas meja.


"Sampai jumpai lagi. Lain kali kita lanjutkan ceritanya," kata Zeta sembari mengikuti ketiga temannya yang lain.


"Iya. Tidak apa-apa, kita bisa lanjutkan kapan saja," sahut si awak kapal seraya tersenyum.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi." Jolanda tersenyum hangat padanya.


"Iya. Sampai jumpai lagi," jawabnya seraya balas tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya pada ketiga artis yang sudah mau mendengarkan cerita seram darinya.

__ADS_1


Pria itu menatap Jolanda, Zeta, dan Cristian yang kini terus melangkah keluar dari dalam ruang makan mengikuti Natala yang berjalan didepan mereka. Matanya terus memandangi mereka yang semakin jauh hingga sosoknya menghilang dibalik pintu keluar.


...***...


__ADS_2