Superesse

Superesse
Litigare Analia ed Elvera


__ADS_3

...***...


"An, apakah kau lapar? Aku akan memesankan layanan kamar untuk membawakan kita makan siang," ujar Elvera seraya beranjak menghampiri telponnya di sana. Fokus matanya menatap pada Analia yang saat ini tengah berdiri di beranda kamar hotelnya.


"An?" Ulangnya tapi tidak ada jawaban sama sekali dari wanita yang di pandangnya.


"Sudahlah aku pesankan saja," Elvera meraih gagang telpon di sana. Menekan beberapa angka yang langsung menghubungkan sambungan telponnya dengan layanan hotel. Elvera bergegas memesan beberapa hidangan untuk makan siangnya dan Analia.


Sudah beberapa Minggu berlalu semenjak kejadian waktu itu. Dan sejak saat itu, sikap Analia semakin dingin terhadapnya. Elvera sebisa mungkin bersikap biasa, bagaimana pun dirinya harus bersikap profesional dalam bekerja dan tidak mencampur adukkan pekerjaannya dengan masalah mereka.


Walaupun Analia mendiamkan dirinya, tapi Elvera tetap bersikap hangat. Ia tidak ingin hanya karena masalah yang mereka miliki, rasa canggung semakin jelas ia rasakan. Rasa canggung hanya semakin membuat keadaan tidak nyaman.


TUKKK!


Di taruhnya gagang telpon di tangannya itu kembali pada tempatnya semula. Elvera beranjak dari sana, melangkah menghampiri tempat dimana Analia saat ini tengah berdiri.


Analia berdiri di beranda seraya memandangi ke arah pemandangan kota yang begitu indah.


Syuting mereka di Venesia telah berakhir beberapa hari yang lalu, dan saat ini mereka di berikan sedikit waktu istirahat sekaligus bersiap sebelum berangkat ke San Marino.


"An! Masuklah, jangan terus berdiri di sana. Cuacanya sangat panas, kulitmu bisa terbakar. Apakah kau tidak memakai sun block!" Ucap Elvera yang sekarang berdiri di ambang pintu beranda seraya bersandar pada satu pintu kaca uang tertutup di sebelahnya.


"An!" Elvera memanggilnya sekali lagi, tapi untuk yang ke sekian kalinya wanita itu tak merespon panggilannya.


"Apakah dia sedang mendengarkan musik dengan menggunakan earphone?" Elvera bergumam. Ia lantas beranjak menghampiri Analia di sana.


"An?" Panggilnya lagi seraya menepuk pundaknya. Analia menggerakkan bahunya, meminta Elvera untuk tidak menyentuhnya.


"Kau kenapa?" Tanya Elvera bingung. Artisnya itu tidak sedang mendengarkan musik memakai earphone.

__ADS_1


Analia yang mendapati Elvera berdiri di sampingnya lantas mendelik. Ia bergegas berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Elvera seorang diri di sana.


"Astaga, apakah dia masih marah padaku?" Elvera memonolog.


TOK! TOK! TOK!


Pintu masuk kamar mereka di ketuk pelan, bersamaan dengan itu seorang wanita di balik pintu sana berteriak memberitahukan jika layanan kamar yang mereka pesan itu telah tiba.


Elvera segera menyahutnya, sembari berjalan menghampiri pintu kamar untuk membuka pintunya dan mempersilahkannya masuk.


Elvera mempersiapkan meja makan untuk mereka di ruang tengah kamar mereka. Sepeninggalan pegawai hotel, ia lantas memanggil Analia untuk makan siang.


"Ehem," Elvera berdeham panik kala atmosfer beku menyelimuti kebersamaan mereka di atas meja makan yang sama.


Analia melirik sekilas lewat ujung bulu matanya. Ia kemudian kembali fokus pada makanan di hadapannya, tak ingin menghiraukan Elvera yang tampak gelisah di hadapannya.


"An!" Elvera memanggilnya. Tapi wanita itu masih mendiamkan dirinya, sudah satu bulan berlalu dan wanita itu terus mendiamkan dirinya. Bahkan syuting mereka saja sudah hampir selesai.


Elvera dapat melihat Analia yang kini tampak menghentikan kegiatannya. Ia lalu mendongakkan kepalanya menatap ke arah Elvera di sana.


"Menurutmu?" Ucapnya dengan suara pelan, kedengarannya benar-benar dingin. Dan Elvera sudah tidak tahan dengan semua itu.


"Huft~" Elvera menghela napasnya kasar. Ia lantas menatap Analia dengan tatapan yang amat dalam. "Tidak bisakah kau bersikap dewasa?" Elvera kali ini membalas dengan sedikit penekanan dalam intonasi bicaranya.


"Maksudmu?" Analia tampak kesal dengan kalimat yang baru saja terkondisi dari mulutnya. Wanita itu menatap Elvera dengan tatapan tajam.


"Maksudku—"


"Oh, tidak! Kau tidak perlu menjelaskan semuanya! Aku tahu maksud dari perkataanmu barusan!" Elvera memotong ucapannya. "Maksudmu adalah aku bersikap seperti anak-anak yang mengandalkan perasaan dalam bekerja. Begitu kan?"

__ADS_1


"Ya. Bagus kalau kau mengerti. Dan aku harap kau tidak terus bersikap seperti ini."


"Kau saja yang tidak mengerti! Seharusnya kau tahu, kenapa aku bisa bersikap seperti saat ini. Dan seharusnya kau juga sadar kenapa sampai saat ini aku masih marah padamu!"


"Aku tahu kenapa kau bersikap seperti ini. Aku sangat tahu."


"Bagus kalau kau tahu."


"Tapi, kau juga tidak bisa terus bersikap seperti ini. Apakah kau tidak bisa memaafkan aku? Lagipula semuanya sudah terjadi, dan syutingnya juga sudah hampir selesai. Tapi kenapa kau masih marah padaku?"


"Tentu saja aku marah! Kau tahu kenapa? Karena aku sangat kecewa dengan apa yang kau lakukan! Seharusnya jika kau tahu, kau mengerti aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Piero. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menyembunyikan semuanya dan malah membuatku lagi-lagi harus terjebak dengan Piero!"


"Aku tahu kau kecewa, tapi tidak seharusnya kau memperlakukan aku seperti ini! Kau terus mendiamkan aku seperti ini dan terus bersikap dingin padaku sejak awal. Apakah kau tidak mengerti dengan perasaan yang aku alami dengan sikapmu ini?! Aku sejak awal sudah berusaha untuk terus bersikap baik padamu walaupun kau terus mendiamkan aku, tapi aku… sudah benar-benar muak dengan sikapmu!" Elvera melampiaskan semua hal yang selama ini mengganjal pada hatinya. Ada sedikit jeda di akhir kalimatnya saat ia berusaha untuk menahan rasa sesak yang menjalar di dalam dadanya.


"Muak?" Analia mengulangi kata wanita itu. "Muak kau bilang? Lalu kau pikir aku tidak muak dengan situasi ini?! Aku juga sama muaknya dengan dirimu, harus terus bertemu dengan orang yang tidak ingin aku temui! Kau pikir siapa yang seharusnya di salahkan dalam kasus ini?!" Balas Analia kesal di sana.


Elvera yang mendengarnya semakin kesal. Nafasnya semakin menderu dan ia benar-benar sudah lelah dengan semua yang telah ia alami.


"Jadi kau pikir, hanya aku yang bersalah dalam kasus ini?"


"Menurutmu? Siapa orang yang sudah menyembunyikan kebenarannya?!" Analia menekankan.


TAKKK!!!


Elvera sepontan bangkit dari tempat duduknya. Menaruh kasar sendok dan garpu di tangannya ke atas piring di hadapannya.


"Cukup! Aku lelah dengan semua ini! Kau terus saja menyudutkan aku! Jika kau tidak ingin kita berbaikan. Okay! Lebih baik kita tidak berbicara selamanya."


"Okay! Kalau begitu, mulai sekarang jangan pernah berbicara apapun denganku lagi!" Balas Analia.

__ADS_1


"Fine! Jika kau ingin aku berhenti menjadi manajer mu juga oke! Tapi aku akan tetap bersikap profesional, dan aku akan berhenti setelah film ini selesai!" Tukas Elvera.


...***...


__ADS_2