
...***...
KRIEETTT…
Pintu masuk itu berbunyi ketika mereka membukanya. Dan begitu mereka tiba di ambang pintu sana seketika fokus mata semua orang yang ada di dalam sana beralih menatap ke arah dirinya.
Di sana, mereka dapat melihat Lucio yang berdiri bersama dengan Dario. Masing-masing keduanya memegang kotak kardus berisi beberapa minuman dalam botol plastik untuk mereka minum.
Mereka semua kemudian bergerak menghampiri ke arah Lucio dan Dario yang kemudian menaruh kerdus itu di atas meja di sana.
"Akhirnya kalian tiba juga. Kami sudah sangat kehausan di sini," ujar Zeta yang lebih dulu menyambar satu botol di dalam sana. Membukanya dan meneguknya cepat sampai isinya hanya tersisa setengah botol lagi.
"Kalian dari mana saja? Kenapa begitu lama?" Tanya Piero yang kemudian meneguk air minumnya.
"Benar, dari mana kalian?" Fito menimpali. Sementara itu, yang lain hanya melirik ke arah Lucio dan Dario yang sejak tadi mendapatkan pertanyaan itu dari mereka.
Lucio dan Dario diam untuk sesaat sebelum mereka menjawab. Kepala mereka tertunduk di sana memandangi botol berisi air mineral yang kini berada dalam genggaman tangannya.
"Teman-teman, sebenarnya kita memiliki masalah…" gumam Dario dengan suara yang sedikit pelan tapi dapat amat sangat jelas di dengar oleh teman-teman artisnya yang lain.
"Kau memiliki masalah apa? Coba kau ceritakan," Cristian yang sejak tadi hanya diam, kini mulai ikut berkomentar.
"Benar, coba kau ceritakan pada kami. Siapa tahu kami bisa membantu," Fella menimpali di sana yang kemudian di angguki setuju oleh Sienna di sampingnya.
Dario dan Lucio mendongak menatap ke arah mereka. Menatap lekat satu persatu rekan sesama artis mereka itu.
"Ada apa? Kenapa kalian memandangi kami seperti itu?" Tanya Giorgia yang merasa heran.
"Kita salah naik kapal," ucap Lucio yang sontak membuat mereka terkejut.
"APA?!!!" Pekik mereka serentak. Suaranya bahkan sampai terdengar begitu nyaring memenuhi seisi ruangan itu.
"Iya… kita salah naik kapal," Dario membenarkan ucapan Lucio di sampingnya.
__ADS_1
"Tunggu! Apa maksud dari perkataan mu barusan? Salah naik kapal? Maksudnya kita seharusnya tidak ada di kapal ini? Begitu?" Tanya Cristian yang kini di serbu berbagai pertanyaan dalam benaknya. Dario di sana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Iya. Kau benar," Lucio memperjelas.
"Tapi bagaimana bisa?" Zeta tak mengerti.
"Sepertinya ini salah kita karena tidak terlalu memperhatikan," Fella menyahut di sana.
"Hey! Hey! Kenapa kalian harus panik? Bukankah kita hanya perlu keluar dari sini dan pindah ke feri yang satunya? Lalu dimana susahnya? Kenapa kalian tampak begitu panik?" Piero di sana berujar membuat mereka menoleh padanya serentak. Di sampingnya Fito menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan dari sahabat nya itu.
"Oh, ya. Kau benar!" Zeta seketika mengubah raut wajahnya.
"Kalau begitu ayo pergi," Giorgia beranjak dari sana bersamaan dengan artis lain yang terduduk di sana termasuk Analia yang sejak tadi hanya diam.
Mereka semua lalu melangkah keluar dari dalam ruangan itu, berjalan menuju pintu keluar.
Dan begitu mereka tiba di luar, mereka kembali di pertemukan dengan salah satu awak kapal yang semula hendak membantu Lucio dan Dario mencari keberadaan pada crew dan manajer mereka.
"Kau sudah menemukan mereka?" Tanya Dario yang kemudian menghampiri pria itu. Yang di panggilnya itu menoleh padanya.
"A-APA?" Ucap mereka berbarengan menatap ke arah sang awak kapal dengan raut wajah tak percaya.
"Tidak mungkin," Zeta masih tidak percaya.
"Tidak mungkin mereka pergi tanpa kita," Jolanda di sana tampak resah.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Cristian sama resah nya di sana seperti yang lain.
"Aku ingin cek sendiri," Giorgia beranjak dari sana bersama dengan Sienna dan Fella. Mereka berjalan turun dari feri yang mereka tumpangi, untuk mengecek satu feri lain yang semula letaknya berada terhalang oleh satu feri lain yang berada di tengah-tengah feri yang mereka tumpangi.
Begitu mereka tiba di bawah, mereka begitu terkejut saat menyadari jika feri yang mengangkut para crew serta manajer mereka itu telah raib entah kemana. Feri nya benar-benar tidak ada di sana.
"Astaga, sekarang kita harus bagaimana?" Fella mulai semakin panik.
__ADS_1
"Ayo kita kembali," Sienna dan kedua sahabatnya itu berjalan kembali menuju feri yang semula mereka naiki.
"Bagaimana?" Tanya Jolanda begitu mereka tiba di sana.
"Benar-benar tidak ada," sahut Fella dengan suara lemas.
"Astaga. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Aku akan berusaha menghubungi manajerku. Kalian juga, cobalah untuk menelpon manajer kalian," kata Cristian yang lantas mengeluarkan ponselnya, mencari nomor manajernya kemudian segera menelponnya.
Tanda ‘tuuuttt…’ panjang lagi-lagi menyapa mereka, setelahnya seorang costumer servis yang menyapanya. Menandakan jika nomor manajernya itu tidak bisa di hubungi sama sekali.
"Manajerku tidak bisa di hubungi," kata Sienna yang semakin panik.
"Aku juga," sahut Analia yang masih berusaha untuk tenang di sana.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Jolanda mulai kalang kabut sekarang.
"Kita harus tetap tenang!" Lucio berusaha menenangkan teman-temannya di sana.
"Bagaimana kita bisa tenang sementara kita dalam masalah?" Zeta mulai kesal di sana.
"Kita cari jalan keluarnya sama-sama. Maka dari itu, kita harus tetap tenang!" Dario menimpali. Lucio dan Dario terdiam untuk sesaat berusaha untuk mencari ide untuk masalah yang sedang mereka hadapi.
"Ah, aku tahu. Bagaimana jika kita susul mereka? Masih ada waktu. Jika mereka berangkat beberapa menit yang lalu, kita bisa mengejar mereka," ujar Fito memberikan ide.
"Oh, benar! Aku setuju!" Giorgia menyahut.
"Kalau begitu…" Analia menoleh ke arah awak kapal yang kini berdiri tepat di sampingnya itu. "…bisakah kau membantu kami untuk bertemu dengan nahkoda yang mengemudikan kapal ini?" Tanya Analia.
"Oh, tentu. Kalau begitu ayo ikut aku," pria itu berjalan memimpin di depan. Ia hendak mengantarkan mereka untuk bertemu dengan sang nahkoda kapal yang menjalankan kapal. Mereka ingin meminta sang nahkoda untuk segera menjalankan kapalnya agar mereka bisa segera berangkat menyusul para crew dan manajer mereka yang sudah lebih dulu berangkat meninggalkan mereka.
Tiba di sana, mereka bergegas meminta sang nahkoda kapal untuk segera melajukan kapal yang mereka tumpangi itu.
__ADS_1
Tapi belum sempat sang nahkoda menyalakan mesin kapalnya, tiba-tiba radar mereka menangkap sinyal yang berasal dari satu feri lain yang seharusnya mereka tumpangi. Satu feri yang sekarang diisi oleh para crew dan manajer.
...***...