Superesse

Superesse
Scrittore di scenari


__ADS_3

...***...


"Terima kasih untuk hari ini. Aku harap syuting besok dan seterusnya akan berjalan lancar tanpa hambatan," ujar Ilario disana. Ia lantas meraih gelas yang ada di atas meja miliknya seraya beranjak bangun dari tempat duduknya. "Mari bersulang untuk mengawali semua ini," di angkatnya gelas itu tinggi. Yang lain ikut mengangkat gelas mereka masing-masing dan…


"Cheers!" Suara itu mengisi seluruh sudut ruang restoran itu, bersamaan dengan itu denting gelas yang saling beradu dapat di dengar.


"Baiklah, selamat menikmati makan malamnya," Ilario kembali duduk di kursinya. Fokus semua orang di sana lantas beralih pada hidangan masing-masing, mereka mulai sibuk melahap semua makanan yang di pesan masing-masing.


Saat ini mereka tengah berada di restoran hotel tempat dimana mereka menginap, mereka tengah menikmati waktu makan malam mereka bersama-sama sekaligus acara sebagai pertanda awalnya pekerjaan mereka.


"Oh ya, omong-omong aku belum tanya pendapatmu mengenai karakter yang kau mainkan dalam film ini," ujar Ciro memecah keheningan di sana.


Lucio, Analia, dan Elvera yang duduk mengelilingi meja yang sama dengannya lantas beralih pandang padanya.


Saat ini Ciro dan Lucio duduk bersama dengan Analia dan Elvera yang mana merupakan rekan kerja yang akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan mereka.


Ciro memandang ke arah Lucio di samping kirinya, menunggu respon mengenai pendapatnya tentang karakter dalam film yang di mainkan olehnya.


"Hm… jujur menurutku karakter yang akan aku mainkan kali ini cukup menarik," sahut Lucio yang kemudian memasukkan makanan di sendoknya ke dalam mulut. "Karena baru kali ini aku memerankan karakter pria dengan latar belakang yang cukup menyedihkan," sambungnya.


"Huh? Benarkah?" Tanya Analia.


"Memangnya kau biasa memerankan karakter seperti apa?" Elvera mengunyah makanan di mulutnya.


"Biasanya Lucio memerankan karakter pria yang terkesan ramah, hangat, dengan latar belakang keluarga karakter yang selalu mendukung sang karakter utama untuk bahagia, dan keluarga karakter yang selalu mewujudkan segala yang di inginkannya. Begitulah," Ciro menjawab.


"Ooh," Elvera menanggapi.


"Benar. Tapi karakter Carlo dalam film Venezia Dell'amore Illimitato yang akan kita mainkan kali ini cukup membuatku merasa memiliki sebuah tantangan baru. Yang mana aku harus memerankan sosok karakter pria yang memiliki masalalu menyedihkan, harus kehilangan orang yang dicintainya dan tidak pernah bisa melupakan mendiang kekasihnya itu. Lalu dihadapkan dengan keluarga yang berusaha menjodohkannya dengan wanita lain. Ini cukup menarik. Apalagi saat aku membaca alurnya saat Carlo yang baru pulang dari luar negeri di pertemukan dengan Livia yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan mendiang kekasihnya."


"Aku setuju! Alurnya benar-benar menarik, apalagi saat takdir harus terus-menerus mempertemukan Livia dengan Carlo," Analia menimpali di sana.


"Benar."

__ADS_1


"Dan yang paling aku suka adalah bagian dimana karakter Livia yang aku mainkan harus di hadapkan dengan kenyataan jika ternyata pacar yang di carinya malah selingkuh dengan wanita lain selama dia tinggal di Venesia. Tapi yang paling membuatku tertarik dengan bagian ini karena Carlo selalu ada dan datang di saat yang tepat untuk menghibur Livia," Analia memasukkan makanannya ke dalam mulut.


"Wah lihat, kalian tampaknya semakin hari semakin dekat," Ciro dan Elvera menggelengkan kepala mereka, sejak tadi malah keduanya yang asyik mengobrol tanpa menghiraukan jika di sana masih ada Ciro dan Elvera.


"Haha, ya kau benar. Mereka semakin dekat," Elvera menyahut.


"Tentu saja kami harus dekat, apalagi kami adalah karakter utama yang mana harus membangun chemistry," sahut Lucio yang di angguki oleh Analia di sampingnya.


"Iya, kau benar. Dan aku senang kalian bisa dekat seperti ini, jadi akan lebih mudah bagi kalian untuk saling bekerjasama," ucap Ciro.


"Oh, omong-omong siapa penulis skenarionya?" Lucio mengalihkan pembicaraan.


"Penulis skenarionya adalah Binbin."


"Binbin?" Beo Lucio di sana.


"Ng." Elvera menganggukkan kepalanya.


"Benarkah?" Lucio dan Analia menoleh padanya.


"Iya. Lebih tepatnya dari Indonesia."


"Woah, benarkah?" Analia tak percaya.


"Hm. Benar, tapi menurut yang aku dengar dia tinggal di Roma, Italia sejak lulus kuliah di salah satu universitas di Korea."


"Huh? Aku tidak mengerti, kenapa dia memilih untuk tinggal di Roma setelah lulus?" Elvera bingung.


"Yang aku dengar setelah lulus kuliah, Binbin memiliki cita-cita untuk berkeliling dunia dan merasakan tinggal di beberapa negara berbeda. Sampai kemudian kunjungan pertamanya di Italia yang cukup mengesankan membuatnya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Selain suka menjelajah, menulis adalah salah satu kegiatannya. Dan film ini adalah salah satu karyanya," jelas Ciro.


"Ah, begitu rupanya," Lucio menanggapi.


"Kau tampaknya tahu banyak mengenai dia, kau tahu dimana?" Tanya Elvera.

__ADS_1


"Aku sempat mencaritahu latar belakangnya."


"Ooh, pantas saja kau tahu banyak hal mengenainya," Elvera meraih gelas minum miliknya kemudian meneguknya hingga tersisa tiga perempat lagi.


"Hehe."


"Eh, omong-omong yang mana orangnya?" Analia menaruh sendok dan garpu di tangannya ketika ia baru saja selesai makan. Ia lalu meraih gelas miliknya dan meneguknya hingga tersisa setengah.


"Ya. Yang mana orangnya? Aku ingin tahu," Lucio menimpali. Melipat kedua tangannya di atas meja seraya menatap ke sekeliling, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang tengah mereka bicarakan.


"Aku juga ingin tahu. Tunjukkan pada kami orangnya!" Elvera ikut bicara. Ia juga sama penasarannya dengan kedua orang artis yang kini duduk bersebelahan dengannya itu.


"Kalau tidak salah, aku dengar dia tidak bisa datang untuk menyaksikan syutingnya secara langsung," sahut Ciro. Ia kemudian meraih gelas miliknya, meminum isinya hingga tandas lalu beralih meraih tisu di sana untuk mengelap bibirnya.


"Huh? Kenapa?" Analia menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Memangnya dia tidak ikut bersama kita sejak awal?" Elvera ikut bertanya.


"Waktu itu saat kita hendak terbang ke Venesia, dia memiliki banyak sekali pekerjaan yang membuatnya meminta izin pada pak Ilario agar berangkat ke Venesia dengan menyusul. Jadi seharusnya dia berangkat hari ini dari Roma menuju Venesia, tapi tadi siang aku dengar kondisinya memburuk. Binbin sakit dan harus di rawat, maka dari itu dia tidak datang untuk menyaksikan secara langsung prosesi syuting dari naskah skenario yang di tulisnya," jelas Ciro panjang lebar.


"Ooh, begitu rupanya," Lucio menanggapi.


"Sangat di sayangkan. Padahal aku ingin melihat dan bertemu dengannya secara langsung," ucap Analia.


"Tapi, bukankah seharusnya dia datang? Dia kan penulis skenarionya, dan sudah pasti dia adalah orang penting yang wajib hadir," Tanya Elvera.


"Ya. Seharusnya, tapi sebagai gantinya. Manajernya yang datang untuk mewakilinya."


"Ooh, begitu ya."


"Ya, begitulah," sahutnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2