Superesse

Superesse
Non ce n'è


__ADS_3

...***...


Ilario melangkah menyusuri lorong menuju tempat dimana para crew nya berkumpul untuk mempersiapkan tempat syuting mereka. Ia mempercepat langkah kakinya kala mengingat bahwa ia harus memberitahukan pada asistennya kalau akan ada perubahan rencana dalam syuting mereka kali ini.


"Kita harus merubah rencana syuting kita kali ini," ucap Ilario dengan suara keras yang spontan membuat orang-orang di sana menoleh ke arahnya yang baru saja tiba. Semua orang yang ada di sana berhenti melakukan kegiatan mereka lantas berjalan menghampiri Ilario di sana.


"Perubahan rencana pak?" Ulang asistennya yang kini berdiri tepat di sampingnya.


"Benar. Karena feri ini sudah jalan cukup jauh dari pelabuhan, kita tidak bisa kembali karena akan memakan waktu hanya untuk kembali. Jadi kita akan langsung memulai syutingnya."


"Apa pak? Itu berarti kita akan melakukan syuting dengan satu kapal?"


"Betul. Jadi ayo persiapkan semuanya, persiapkan artis kita dan percepatan kerja kalian! Kita harus melakukan pengambilan gambar secepatnya."


"Tapi pak, apakah ini tidak terlalu buru-buru? Waktu kita berlayar hanya sekitar dua hari menuju San Marino, apakah akan cukup?"


"Aku yakin pasti akan cukup, jadi mari bekerja sama dan jangan malas-malasan! Kembali bekerja dan siapkan semuanya!"


"Baik pak," sahut mereka serentak.


"Kalau begitu kalian boleh kembali bekerja."


Crew-nya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, menyisakan Ilario dan beberapa orang di sana.


"Oh ya, aku ingin kau pastikan dan cek ulang semuanya dengan teliti," titahnya pada asisten wanitanya.


"Baik pak," wanita itu menyahut.


"Kalau begitu, kita juga harus memastikan jika artis kita siap. Ayo cek dan pastikan mereka," tutur Flavia pada teman-teman sesama manajernya yang lain.


"Benar. Ayo pergi," sahut Ciro yang kemudian beranjak dari sana bersama yang lainnya.


"Omong-omong dimana artis kita sekarang? Sejak tadi aku tidak melihat mereka," ujar Fio seraya menatap ke arah Ciro yang berjalan beriringan dengan Elvera di sampingnya. Sementara itu di sisinya yang lain, ia bersebelahan dengan Flavia yang sibuk menghubungi asistennya untuk membantu mempersiapkan semua keperluan Fito.


"Kau benar. Aku juga tidak melihat satu pun di antara mereka," sahut Flavia yang kemudian beralih padanya setelah memerintahkan semua asistennya untuk membantu.


"Aku rasa mereka sedang melakukan persiapan, mungkin saja mereka sedang membaca ulang skenarionya dan melatih akting mereka," Ciro menyahut di sana.

__ADS_1


"Tapi entah kenapa aku merasa tidak tenang sejak tadi," Elvera di sana bergumam membuat yang lain menoleh ke arahnya seraya menghentikan langkahnya.


"Maksudmu?" Tanya Fio bingung.


"Entahlah, tapi sejak tadi aku terus kepikiran pada Analia dan artis lainnya. Dan entah kenapa aku merasa jika ada sesuatu yang akan terjadi dengan mereka."


"Hey! Jangan berkata seperti itu!" Kata Flavia.


"Jangan membuat kami cemas hanya gara-gara perasaan yang kau rasakan!" Gregorio tiba-tiba muncul dan membuat mereka menoleh padanya.


"Benar, jangan membuat kami cemas," Fio menimpali.


Elvera terdiam untuk sesaat, ia lantas beralih pandang pada Gregorio yang mana merupakan manajer dari Piero. Sejak awal kunci permasalahan dirinya dan Analia ada pada pria itu. Pria yang telah membuat Analia mengalami trauma yang cukup mengganggu kehidupannya sebagai seorang artis.


"Ya, sepertinya hanya perasaanku saja. Mungkin karena aku terlalu cemas pada Analia," gumam Elvera kemudian. Ciro yang melihatnya merasakan sebuah keganjilan. Tampak jelas jika ada sesuatu yang terjadi di antara Analia dan Elvera, tapi Ciro segan untuk bertanya padanya.


"Sudahlah, ayo pergi dan siapkan artis kita!" Gregorio beranjak dari tempatnya meninggalkan Elvera dan yang lainnya.


"Benar apa yang dia ucapkan. Ayo pergi," Fio menimpali. Sejurus kemudian mereka beranjak meninggalkan tempat mereka saat ini.


"Oh ya, omong-omong kalian tahu dimana ruang tunggu artis nya?" Flavia beralih menatap Ciro, Elvera dan Fio di sampingnya.


"Tidak apa-apa hanya saja aku lupa untuk membawa tablet ku, semua denah ruangannya ada di sana tapi aku malah meninggalkan nya di dalam tas di ruang tunggu. Akan sangat lama jika aku harus kembali dan membawanya," sahut Flavia menjelaskan.


"Kita hanya perlu terus berjalan kemudian berbelok ke arah kanan dan di sana kita akan melihat pintu ruangan yang di jadikan ruang tunggu untuk artisnya."


"Oh."


Flavia dan ketiganya lantas mempercepat langkah kaki mereka menuju ruangan yang di maksud.


Langkah mereka terhenti saat secara tiba-tiba begitu mereka sampai di sana, mereka melihat Gregorio yang tengah memarahi salah satu asisten yang bekerja dengan Ilario. Asisten yang di tugaskan untuk membantu para artisnya bersiap. Lebih tepatnya sebenarnya adalah crew yang beralih profesi menjadi asisten para artis yang di sediakan khusus oleh Ilario.


"Ada apa ini? Kenapa kau memarahinya?" Tanya Flavia yang notabene nya berusia paling tua di bandingkan manajer lainnya.


Gregorio yang mendapati Flavia di sana lantas beralih menatapnya dengan raut wajah kesal.


"Artis kita tidak ada di tempatnya!" Tukasnya dengan wajah yang masih tampak penuh kesal akibat kelalaian asisten itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan tidak ada di tempatnya?" Flavia tidak mengerti.


"Mereka hilang!"


"APA?!" Spontan mereka memekik terkejut.


"Kau serius?" Elvera memastikan.


"Iya! Jika kalian tidak percaya, kalian bisa cek sendiri di dalam atau tanyakan saja padanya!" Kesalnya.


"Apakah itu benar? Semua artisnya tidak ada?" Tanya Ciro yang mulai panik di sana. Wanita itu menundukkan kepalanya lantas mengangguk pelan.


"B-benar," gumamnya memperjelas.


"Tapi bagaimana bisa?" Fio tidak habis pikir.


"Maafkan aku, tapi aku juga tidak tahu. Sejak tadi aku terlalu sibuk membantu crew yang lain yang membutuhkan bantuan untuk mempersiapkan semuanya, tapi begitu aku mendapat kan pemberitahuan jika akan ada perubahan rencana, aku segera mengecek ke sini dan aku tidak bisa menemukan satu pun dari mereka."


"Siapa saja yang tidak ada?" Tanya Flavia lagi.


"Semua pemain penting dalam film ini. Mereka hilang. Yang ada hanya beberapa figuran yang sengaja di persiapkan oleh pak Ilario untuk tampil dalam filmnya."


"Apa? Itu berarti Fito juga hilang?" Flavia terkejut di sana.


"Lucio juga?"


"Lalu bagaimana dengan Analia? Dario? Zeta? Piero? Jolanda dan yang lainnya?" Tanya Fio memastikan.


"Semuanya hilang," sahut nya pelan.


"Apa? Tapi bagaimana bisa?" Fio dan yang lainnya mulai di landa rasa cemas yang amat sangat.


"Maaf tapi aku juga tidak tau."


"Ayo cari mereka. Siapa tahu mereka masih berada di dalam feri ini?" Flavia mengusulkan.


"Aku setuju! Kalau begitu mari bagi tugas," sahut Ciro. Flavia selaku yang tertua lantas mengarahkan mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2