
...***...
"Kita beruntung bisa satu projects dengannya."
"Iya-iya! Kau benar," Fella kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Sementara kedua sahabatnya disana berbisik, beda halnya dengan Giorgia yang kini diam terpaku ditempatnya. Wanita itu tidak dapat berkata-kata, ia hanya bisa mengulum senyum disana.
Ilario melangkah bersama dengan Lucio dan Ciro di belakangnya. Ia lantas menghampiri beberapa orang artis yang akan menjadi pemain dalam film yang tengah digarapnya, ia berhenti dihadapan mereka bersamaan dengan Lucio dan Ciro.
"Pagi semuanya," sapa Ilario seraya tersenyum hangat kearah mereka.
"Pagi pak," sapa mereka berbarengan.
"Maaf menunggu lama, saat diperjalanan ada yang harus aku urus."
"Ah, tidak apa-apa. Kami juga baru saja tiba," Analia mewakili.
"Benarkah? Syukurlah, kalau begitu kita langsung masuk saja dan bicarakan mengenai projects ini."
"Baik."
"Mari," Ilario berjalan memimpin menuju ruangan yang sudah disediakannya disana. Dibelakangnya, artis-artis itu mengikuti.
Tiba di dalam sana, mereka lantas duduk di
meja yang telah disediakan. Meja itu di tata dalam bentuk formasi persegi mengikuti volume ruangan itu. Mereka lantas duduk di beberapa kursi kosong disana. Begitu semuanya sudah duduk, Ilario lalu memulai pertemuannya. Mulai dari perkenalan dan penjelasan mengenai projects film yang akan digarapnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak dan pembagian naskah.
__ADS_1
...*...
"Baiklah begitu saja," Ilario mengakhiri pertemuannya dengan pembagian terakhir naskah yang harus dihafalkan oleh para pemain disana. "Kalian akan memiliki waktu sekitar satu Minggu untuk persiapan, sebelum kita mulai syutingnya. Jadi aku harap kalian semuanya bisa menjaga kesehatan dan mempersiapkan semuanya dengan teliti, jangan sampai ada yang tertinggal. Dan Minggu depan kita bertemu lagi di sini, kita akan berangkat bersama menuju Venesia dengan penerbangan pertama. Jadi aku harap tidak ada diantara kalian yang tertinggal baik barang ataupun diri kalian masing-masing. Apakah kalian paham?"
"Ya, kami paham," sahut mereka serentak.
"Oh dan untuk kalian sebagai manajer mereka, aku harap kalian benar-benar memperhatikan aktor dan artis kalian," Ilario beralih pandang pada beberapa orang yang berdiri di sana. Mereka adalah manajer setiap artis yang ada didalam sana.
"Baiklah, kalau begitu kalian bisa pulang dan mempersiapkan diri kalian untuk Minggu depan," Ilario membereskan beberapa barang miliknya di atas meja. Artis-artis yang semula terduduk di sana kemudian mulai beranjak dari tempat mereka masing-masing lalu mulai berhamburan keluar dari dalam ruangan itu.
"Permisi, Lucio," Analia memanggil Lucio yang kini tengah sibuk membereskan kembali naskah ditangannya. Mendengar Analia yang baru saja memanggilnya membuat ia spontan menoleh ke arah datangnya suara.
"A-ah ya?" Tanyanya sedikit berbata karena gugup. Oh, sekarang pria itu bahkan bisa melihat dengan jelas wanita cantik yang selalu dipujanya semenjak ia terjun ke dalam dunia selebriti.
"Karena kau yang menjadi pasanganku dalam film ini, aku harap kita bisa bekerja sama membangun chemistry agar para penonton puas dengan hasil film ini."
"Baguslah, aku senang mendapatkan seorang protagonis pria sepertimu yang mudah untuk aku ajak kerja sama."
"Aku juga senang."
"Oh, bolehkah aku meminta nomor telpon mu? Agar aku bisa mengenalmu lebih jauh dan agar kita bisa membiasakan diri jadi lebih dekat denganmu," Analia mengeluarkan ponselnya kemudian menyodorkannya pada Lucio.
"Tentu saja boleh," Lucio dengan senang hati meraih ponsel milik Analia kemudian mengetikkan nomornya didalam ponsel wanita itu.
"Ini," tuturnya kemudian setelah selesai menyimpan nomornya dan memanggilnya agar ia bisa menyimpan nomor Analia pada ponselnya.
__ADS_1
"Terima kasih." Analia tersenyum simpul disana, senyuman yang seketika membuat jantung Lucio disana berdebar hebat.
"Sama-sama," sahutnya.
"Kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa seminggu lagi."
"Ya, sampai jumpa," jawab Lucio.
Analia kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Lucio yang masih terduduk di sana bersama dengan Ciro yang kini tengah menyiapkan jadwal untuknya. Analia beranjak pergi bersama dengan Elvera—manajernya. Lucio tersenyum memandangi kepergian Analia yang kini menghilang di balik pintu keluar disana.
Tanpa disadarinya sejak tadi disana Piero terus memperhatikan pergerakan mereka. Tatapannya tajam penuh rasa cemburu. Piero beranjak dari tempat duduknya.
"Kau urus semuanya dan kembalilah ke mobil, tunggu aku disana," titahnya pada manajernya.
"H-huh? Memangnya kau akan kemana?" Tanya pria itu pada Piero yang kini melangkah dengan cepat keluar dari dalam ruangan tersebut, meninggalkan dirinya bersama dengan beberapa orang artis dan manajer lain yang masih tengah membereskan naskah yang mereka terima.
Piero tak menjawab ucapannya dan terus berjalan tanpa menghiraukan dirinya yang kini tampak bingung menatapnya. "Dia memang selalu seenaknya sendiri, astaga," pria itu bergumam. Sebelah tangannya memijat keningnya pelan.
*
"Ng… Analia… a-apakah kau masih marah padaku?" Elvera bertanya. Sejak tadi hal itu terus mengganggu dirinya. Analia mendiamkan dirinya, bahkan ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun dengannya setelah mengetahui ternyata Piero ikut dalam filmnya. Analia diam tak menjawab disana, dan hal itu membuat Elvera semakin resah. Elvera menundukkan kepalanya, ia benar-benar menyesal karena tidak berani untuk berbicara yang sejujurnya sejak awal.
"Aku benar-benar minta maaf karena aku tidak berbicara lebih awal mengenai Piero yang ikut dalam film ini. Aku mengaku salah, dan aku minta maaf. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membohongimu, dan awalnya aku hendak menolak tawaran film ini karena aku tahu kau akan keberatan apalagi setelah tahu jika pemeran antagonis yang akan beradu akting denganmu adalah Piero, tapi saat itu pak Ilario benar-benar ingin kau yang membintangi filmnya dan Lucio yang akan menjadi tokoh utama prianya. Dia bahkan sampai membujukku untuk mengizinkan kau ikut dalam filmnya," jelas Elvera panjang lebar, membuat Analia terdiam sesaat di sampingnya. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Analia, ia bahkan tampak amat acuh dengan kalimat yang baru saja di tuturkan oleh Elvera di sampingnya.
"…Aku awalnya hanya mengiyakan ucapan pak Ilario supaya dia lebih tenang dan tidak terus membujukku, tapi pada akhirnya aku malah membicarakan hal ini padamu. Dan kau malah bilang jika kau akan ikut dalam film ini, apalagi setelah kau tahu jika peran protagonis prianya adalah Lucio," sambung Elvera, namun masih juga tak mendapatkan respon dari Analia di sampingnya. Wanita itu hanya diam saja dan menganggap seakan-akan perkataannya barusan itu hanyalah angin lalu, yang bahkan berhembus tanpa disadari olehnya. Elvera menundukkan kepalanya. Ia tahu jika akhir yang ia dapat akan begini.
__ADS_1
...***...