
...***...
Venice Marco Polo Airport
Perlahan orang itu berjalan keluar dari dalam bangunan besar di sana. Di tangan kirinya ia menggeret satu buah koper yang berukuran cukup besar berisi semua pakaian yang akan menjadi persediaannya selama beberapa bulan ikut menyaksikan syuting atas permintaan rekannya.
Tidak lupa di pundaknya tergantung pula tas backpack berukuran sedang yang isinya adalah beberapa hal kecil lain yang akan ia butuhkan selama ia tinggal di Venesia.
Ia berdiri di sana. Di tepi jalan seraya memegangi ponselnya. Sesekali fokusnya beralih menatap ponselnya yang menyala. Ia tengah melakukan pesan chat dengan orang yang menjadi rekannya itu, rekannya yang saat ini tengah dalam keadaan kurang sehat yang mengharuskan ia masuk ke rumah sakit dan di rawat dan sudah hampir memasuki dua hari lamanya.
Jam yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya kini sudah menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh menit, bisa di katakan nyaris menuju setengah sembilan.
Ia yang mengambil penerbangan malam karena harus menunggu keluarga rekannya itu tiba di Roma lantas terpaksa harus tiba di Venesia malam harinya setelah melakukan penerbangan sekitar kurang lebih satu jam perjalanan.
Ia kini berdiri di sana menunggu jemputan datang. Sebelumnya begitu ia keluar dari pesawat, ia segera menelpon orang yang sejak awal memintanya untuk menelpon begitu ia sudah tiba di bandara.
Saat tengah sibuk berkutat dengan ponselnya, fokusnya kemudian beralih saat secara tiba-tiba seorang wanita dengan stelan jaket berwarna navy yang menutupi sampai bagian pahanya menghampiri dirinya di sana. Wanita itu keluar dari sebuah mobil mewah yang di kendarai oleh seorang pria yang tampak seumuran dengan wanita tersebut.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ujarnya seraya menghampiri dirinya. Ia terdiam sesaat memandangi wanita itu. "Kau masih ingat denganku kan? Sebelumnya kita pernah bertemu untuk membicarakan kontrak kerja kita," kata wanita itu berusaha mengingatkan.
"Oh, ya. Tentu, aku masih ingat," sahutnya setelah terdiam sesaat.
"Syukurlah kau masih mengingatku. Kalau begitu ayo pergi, pak Ilario sudah menunggu ingin bertemu denganmu."
"Baiklah," jawabnya yang kemudian berjalan mengikuti wanita yang kini melangkah di hadapannya, menghampiri mobil di sana kemudian masuk dan duduk di kursi belakang setelah tidak lupa wanita itu membantu dirinya memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi mobil.
Begitu dirinya tiba di dalam mobil dan duduk dengan tenang di kursi belakang sendirian, mobilnya perlahan mulai beranjak maju dari tempat semula. Berjalan menuju arah dimana hotel tempat ia akan menginap berada.
...*...
__ADS_1
Perlahan mobil yang di tumpanginya lantas berhenti tepat di depan sebuah gedung hotel megah di sana.
Wanita itu beranjak dari kursinya, membuka pintu bersamaan dengan yang di jemputnya. Ia lantas membantu untuk mengeluarkan koper milik orang itu.
"Kau masuk saja lebih dulu, aku akan menyimpan mobilnya ke basement," kata pria yang menyetir mobil pada wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa di dalam," wanita itu berjalan masuk dengan menggeret koper milik orang yang di jemputnya. Mereka berjalan beriringan bersama memasuki pintu masuk hotel di sana.
Tiba di dalam, wanita itu bergegas menghampiri meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar yang semula telah ia pesankan untuknya. Begitu sang resepsionis memberikan kuncinya, wanita itu segera mengantarnya menuju kamar tempat dimana ia akan bermalam untuk selama kurang lebih sebulan di Venesia.
"Ini kamarmu," ujar wanita itu begitu mereka tiba di depan pintu kamar hotel yang mana digit nomornya sama dengan yang ada pada kunci di tangannya.
"Terima kasih," jawabnya.
"Kau boleh masuk dan menyimpan barang-barang mu lebih dulu, setelah itu ikut aku untuk bertemu dengan pak Ilario. Beliau bilang jika beliau ingin bertemu dan membicarakan beberapa hal denganmu."
"Oh, kalau begitu tunggu sebentar di sini."
Ia melangkah masuk ke dalam kamar hotel miliknya untuk menaruh semua barang bawaannya di dalam sana. Baru setelahnya ia keluar untuk menemui kembali wanita yang menjadi asisten dari Ilario sang sutradara dari film yang di garapnya.
...*...
"Bagaimana dengan perjalananmu?" Tanya Ilario yang kini terduduk tepat di hadapannya. Saat ini dirinya tengah berada di ruang tengah kamar Ilario. Duduk bersama dengan wanita yang telah menjemputnya tadi. Sementara itu di hadapannya, Ilario duduk seraya menatap ke arah dirinya. Pria berumur lebih tua darinya itu saat ini memakai piyama tidur, yang di balut dengan sebuah mantel hangat berwarna hijau lumut.
"Perjalanannya cukup melelahkan. Apalagi seharian tadi aku benar-benar harus mengurus banyak hal, selain menunggu keluarga Binbin tiba di Roma, aku juga harus mengurus tiket untuk keberangkatan ku ke Venesia."
"Begitu ya, pasti banyak hal yang harus kau selesaikan sebelum berangkat kan?"
"Ya, begitulah. Selain aku mengurus tiket, aku juga harus berkemas sebelum berangkat. Awalnya aku berpikir untuk berangkat dengan menggunakan kendaraan darat, tapi Binbin bilang jika dengan kendaraan darat akan memakan waktu lama untuk bisa tiba di sini. Jadi akhirnya aku putuskan untuk memakai pesawat saja."
__ADS_1
"Ya memang benar. Jarak tempuhnya sangat lama, akan memakan waktu selama lima jam perjalanan."
"Oh, begitu rupanya."
"Omong-omong bagaimana dengan kondisi Binbin?"
"Kondisinya sudah lebih baik di bandingkan tadi pagi, tapi tetap masih harus berada dalam pengawasan dokter yang intensif. Maka dari itu harus ada yang menjaganya dan menemaninya di rumah sakit."
"Oh, begitu ya. Semoga beliau cepat sembuh."
"Ya, aku harap juga begitu."
"Lalu, siapa yang datang untuk menemaninya di sana? Ku dengar keluarganya dari Indonesia datang untuk menggantikanmu menemaninya?"
"Oh, benar. Lebih tempatnya dua sepupunya. Karena yang lebih dekat dengannya adalah dua sepupunya maka mereka yang di minta untuk datang dan menemaninya, di tambah lagi karena mereka bisa berbicara bahasa Italia."
"Ooh begitu."
"Ya. Oh dan atas nama Binbin dan aku sendiri, ingin meminta maaf karena tidak bisa datang untuk reading tadi pagi."
"Tidak masalah, lagipula aku mengerti keadaannya seperti apa. Jadi tidak perlu khawatir soal itu."
"Iya, terima kasih karena sudah mengerti. Oh, dan kapan syutingnya di lakukan?"
"Untuk syutingnya sendiri akan di lakukan besok pagi, kita akan melakukan syuting pertama besok pagi di bandara. Untuk urusan lokasi dan lainnya sudah di urus lebih dulu sejak sebelum kita berangkat ke Venesia oleh orang-orang ku, jadi kita hanya tinggal melakukan syutingnya saja."
"Oh begitu ya. Aku harap semuanya berjalan lancar."
"Ya, aku juga berharap begitu, dan aku yakin film ini akan menjadi trending nomor satu se-Italia!"
__ADS_1
"Aku percayakan semuanya pada anda," ucapnya tersenyum.
...***...