Superesse

Superesse
Mi manca


__ADS_3

...***...


"Benar-benar tidak ada seorang pun, kira-kira kemana semua orang?" Gumam pria yang kini berjalan di sampingnya itu. Ia terus melangkah seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan rekan-rekan nya yang lain. Tapi semuanya hilang entah kemana.


"Benar-benar aneh, padahal seharusnya mereka semua bekerja kan?" Satu rekan yang sejak tadi bersama nya itu menyahut.


"Benar. Tapi anehnya mereka hilang begitu saja."


"Bagaimana kalau kita cek ke ruang lain?"


"Ide yang bagus. Ayo pergi!" Sahutnya yang kemudian melangkah menuju arah yang berbeda dari sebelumnya. Mereka berjalan ke arah dimana ruangan tempat teman-teman yang lainnya bekerja.


"Dalam keadaan sehening ini, aku benar-benar merasa seperti berada di sebuah kapal berhantu," gumam pria di sampingnya.


"Ya. Apalagi sudah sore di tambah lagi sebentar lagi kita akan melewati Poveglia."


"Rasanya benar-benar mencekam," sahut pria di sampingnya. Mereka terus melangkah menyusuri koridor, namun fokusnya tersita saat secara tidak sengaja, mereka melihat ruang loker tempat dimana mereka mengganti pakaian itu terbuka.


"Ruangannya terbuka, ayo kita cek ke sana. Siapa tahu di dalam ada salah satu teman kita."


"Kau benar, ayo cek!" Jawab yang satunya, menyetujui ide dari rekannya. Keduanya mempercepat langkah kaki mereka. Berjalan menghampiri pintu ruang loker tempat dimana mereka biasa mengganti baju.


...*...


CRATTTTT!

__ADS_1


Darah segar mengalir keluar begitu benda itu menghantam keras tubuhnya untuk yang ke sekian kalinya. Pria itu kini terbujur kaku dalam keadaan tak bernyawa di lantai yang di penuhi dengan lumuran darah di sekitarnya.


"Hahh… hahh… hahh…" napas Piero tak beraturan. Pria itu lantas berdiri tegak, melepaskan kapak yang semula menancap pada tubuh pria itu. Piero mengelap wajahnya dengan lengan, ia berusaha untuk mengatur napasnya yang masih terengah-engah, menstabilkan nafsunya yang semula tak terbendung.


Fokus Piero seketika tersita saat secara tiba-tiba ia mendengar suara dua orang pria yang tengah melangkah menghampiri ruangan tempatnya berada.


"Ada orang yang sedang berjalan menuju kemari?" Pikirnya. Bergegas ia mencari tempat untuk bersembunyi. Pria itu masuk ke dalam salah satu loker, menutup pintunya kemudian berdiam diri di dalamnya dan menunggu kedua pria itu masuk.


Di sisi lain, kedua awak kapal yang semula tengah berjalan mencari keberadaan rekan-rekannya yang lain, lantas keduanya berhenti dalam sekejap saat mereka tiba di ambang pintu dan mendapati sebuah pemandangan yang luar biasa kacaunya.


"Ada apa ini? Kenapa begitu kacau?" Gumamnya.


"Seperti baru saja di terjang badai," sahut yang satunya.


Keduanya melangkah secara perlahan memasuki ruang loker, kedua matanya mengedar mengecek satu persatu loker yang kini sebagian besarnya telah hancur.


"Aku tidak tahu, seperti nya ada yang baru saja mengamuk," gumam yang satu.


BRUKKK!


Rekannya yang berjalan di belakang itu lantas secara tidak sengaja menabrak temannya yang berjalan di depan.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berhenti?" Tuturnya bingung. Ia menoleh, menatap rekannya itu dengan raut wajah bingung sementara yang di tatapnya kini tengah menatap ke depan dengan raut wajah terbelalak. Wajahnya berubah pucat dan bersamaan dengan itu ia membatu di tempatnya.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanyanya. Pria itu lantas beralih pandang. Menatap ke arah yang di pandang rekannya, dan ia begitu terkejut saat melihat apa yang di lihatnya.

__ADS_1


Seorang awak kapal yang tidak lain adalah salah satu rekannya. Tengah terbaring di lantai dalam keadaan berlumuran darah. Tubuhnya lemas, ia seakan kehilangan energinya dalam seketika. Mereka sekarang bahkan tidak bisa berkata-kata saat melihat apa yang ada di hadapannya.


Di sisi lain, tanpa mereka sadari, Piero tengah mengintai keduanya. Menunggu timing yang tepat untuk membunuh keduanya. Pria itu terdiam di dalam lokernya, mencengkeram erat kapak yang ada dalam genggamannya. Sementara kedua matanya mengintip lewat celah pintu loker yang tertutup.


...*...


Analia mengganti posisi berbaring nya jadi menghadap ke arah lain yang membuatnya dengan mudah melihat pintu masuk itu berada. Sejak kejadian tadi, ia benar-benar tidak bisa tenang dan terus di hantui oleh rasa takut.


"Ketenangan ini membuatku semakin takut," gumam Analia. Ia beranjak bangun dari tempat pembaringannya. Berjalan perlahan menghampiri pintu masuk dan memastikan bahwa pintu itu dalam keadaan terkunci rapat.


"Benar-benar tidak ada orang yang lewat," gumamnya pelan. Analia memutuskan untuk kembali duduk setelah ia memperhatikan keadaan luar kamarnya lewat kaca jendela berbentuk bulat yang ada di pintu masuknya.


Ia melangkah menghampiri kursi yang ada di dekat jendela yang menghadap ke arah laut lepas yang sepanjang jalan mereka lalui. Ia menatap keluar jendela, memandangi laut sore seperti saat ini, membuatnya seketika teringat akan Elvera.


Analia meraih ponsel dalam kantong celana yang ia kenakan. Membuka aplikasi galeri dan mencari foto dirinya bersama dengan Elvera. Ia terdiam memandang foto tersebut. Dalam foto itu, dirinya dan Elvera tampak ceria. Keduanya tampak dekat satu sama lain dan tersenyum ke arah kamera seakan-akan menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang sahabat yang tidak pernah bertengkar satu sama lain.


Namun nyatanya tidak seperti itu. Justru apa yang tampak pada gambar dalam ponselnya itu adalah palsu. Di kehidupan nyatanya, mereka malah sering sekali bertengkar dan sering sekali saling mendiamkan satu sama lain. Tapi di waktu yang bersamaan juga, terkadang mereka akur seperti layaknya kakak beradik.


Kedua mata Analia berkaca-kaca, di saat seperti saat ini biasanya hanya Elvera yang selalu ada untuk menenangkan dirinya. Biasanya hanya Elvera yang senantiasa menyemangatinya dan menguatkan nya agar terus menghadapi semuanya. Tapi wanita itu justru sekarang tidak ada untuknya. Wanita itu tidak ada di sisinya. Dan hal itu karena mereka bertengkar hebat dan harus terpisah karena kapal feri yang seharusnya ia tumpangi bukankah kapal feri yang saat ini tengah ia tumpangi.


Perlahan tanpa sadar, air matanya lolos begitu saja. Membasahi kedua pipi mulusnya.


"Aku merindukanmu El," gumam Analia seraya mengusap pelan foto bergambarkan dirinya dan Elvera yang tertera di ponselnya.


Saat ini ia baru menyesal akan pertengkaran mereka. Akan keegoisan nya yang terus menyalahkan Elvera atas sesuatu yang bahkan bukan sepenuhnya menjadi kesalahan wanita itu. Dan di saat inilah, saat ia benar-benar seorang diri tanpa ada yang mengerti sedikit pun tenang dirinya, ia baru merindukan wanita itu. Merindukan pelukannya dan merindukan kehadirannya yang selalu menjadi tempat bersandarnya kala ia tengah berada dititik terendahnya.

__ADS_1


Analia mencengkeram erat ponsel miliknya. Memeluk benda itu dalam dekapannya seraya menangis.


...***...


__ADS_2