Superesse

Superesse
Cambio dei piani


__ADS_3

...***...


Seketika orang-orang di dalam kapal feri itu menghentikan langkah mereka yang tengah bersiap. Semuanya terdiam dan mendengarkan pengumuman yang mereka dengar lewat mikrofon yang ada di dalam sana.


"Suara siapa itu?" Gumam Ilario begitu mendengar suara seorang wanita yang terdengar tidak asing di telinganya.


"Bukankah itu suara Flavia?" Sahut asisten wanitanya di sana. Ilario beralih pandang padanya.


"Huh? Oh kau benar. Tapi apa yang baru saja dia katakan?" Ilario berusaha mencerna setiap kalimat yang di lontarkan oleh Flavia di sana. Untuk sesaat ia terdiam, masih tenang dan belum sadar dengan isi dari pengumuman yang di beritakan oleh Flavia.


"Dia bilang…" asisten nya itu terdiam sesaat. Menggantungkan ucapannya seraya menatap ke arahnya dengan ragu-ragu.


"Dia bilang apa?"


"Dia bilang jika artis kita hilang, pak," sahutnya dengan kalimat akhir yang sengaja ia pelankan.


"APA?!" Ilario spontan memekik di sana, membuat asistennya tersentak dan refleks memejamkan kedua matanya.


"Apa yang baru saja kau katakan?!" Ujar Ilario yang tampak kesal. Ia meminta asistennya untuk mengulang ucapannya.


"F-flavia bilang… jika artis kita hilang, pak…" sahutnya pelan.


"B-bagaimana bisa?!" Ilario benar-benar kesal. Saking kesalnya ia sampai tidak tahu harus bagaimana untuk meluapkan semua amarahnya.


"Saya juga tidak tahu pak."


"Dimana Flavia sekarang?"


"T-tampaknya di ruang kendali pak."


"Kalau begitu aku harus bertanya langsung padanya!"


Ilario beranjak pergi dari sana dengan langkah besar, berjalan cepat menuju tempat dimana Flavia berada bersama dengan manajernya yang lain.

__ADS_1


...*...


"Bagaimana?" Tanya Flavia pada Fio begitu pria itu tiba di ruang kendali bersama dengan yang lain. Napas mereka terengah-engah akibat terlalu banyak berlari untuk mencari artis mereka.


"Aku tidak bisa menemukan keberadaan Dario dimana pun di kapal ini," sahut nya berusaha mengatur napas.


"Astaga, lalu… bagaimana dengan Lucio, Analia, dan yang lainnya?" Flavia beralih pandang pada Ciro dan Elvera.


"Kami juga tidak dapat menemukan keberadaan mereka dimana pun," sahut Ciro lemas di sana. Pria itu lantas berpegangan pada pintu yang terbuka. Mendengar ucapan dari teman-teman nya membuat Flavia semakin cemas di buatnya. Pasalnya semua artis utama hilang, termasuk adiknya.


"Astaga. Bagaimana ini? Kemana sebenarnya mereka? Kenapa mereka bisa hilang dan tidak ada di mana pun?" Flavia memonolog.


"Flavia!" Teriak Ilario menyerukan namanya begitu ia tiba di sana. Flavia dan manajer yang lain beralih pandang pada pria yang lebih tua dari mereka itu.


"Pak," sahutnya.


"Apa maksud dari ucapanmu jika artis utama kita hilang?" Ucapnya dengan raut wajah kesal.


"Maaf sebelumnya pak, tapi aku dan yang lain sudah berusaha untuk mencari semua artis utama kita, dan mereka benar-benar tidak ada di dalam kapal ini."


"Benar pak," Ciro menimpali.


"Apa kalian sudah mencari mereka ke seluruh ruangan?"


"Sudah pak. Tapi tidak ada," kali ini Fio yang menyahut.


"Astaga. Jika mereka tidak ada di kapal ini, lalu dimana?" Ilario mulai cemas di sana. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya selama ia menjadi sutradara sekaligus produser yang memimpin film yang di garapnya. Dan ini cukup menjadi terapi syok baginya karena ini yang pertama.


"Oh, apakah kalian sebelumnya sudah pastikan mereka sudah naik ke dalam kapal sebelumnya?" Tanya Ilario yang berusaha untuk tenang.


"Sudah pak. Aku bahkan tidak sengaja mendengar salah satu di antara mereka yang mengusulkan untuk menunggu di dalam kapal selama kita berbenah," sahut Fio.


"Lalu sejak kalian masuk apakah kalian sempat bertemu dengan mereka?"

__ADS_1


"Tidak pak. Kami terlalu sibuk mempersiapkan dan mengecek ulang semua barang bawaan di tambah lagi kami pikir mereka sedang berlatih dan membaca ulang skenario mereka di ruang tunggu artis, jadi kami tidak terlalu memperhatikan mereka," sahut Flavia.


"Apa?"


"Iya pak. Dan baru saat bapak mengumumkan jika akan ada perubahan syuting baru kami tahu jika mereka tidak ada di kapal ini."


"Kalau begitu kita harus coba cek kapal yang satunya. Siapa tahu mereka ada di sana."


"Oh benar! Apa yang di ucapkan oleh pak Ilario benar," kata Elvera setuju.


Ilario beranjak dari sana menghampiri sang nahkoda kapal hendak memintanya untuk menghubungkan radar mereka dengan radar kapal feri satunya yang tertinggal di belakang.


Tiba di dalam ruang kendali, Ilario bergegas meminta sang nahkoda untuk menghubungi kapal satunya.


...*...


"Huft~" Ilario menghela napasnya kasar di sana membuat sang asisten yang sejak tadi berdiri di sampingnya itu semakin gugup.


Asistennya itu melirik seklias pada ilario. Dari wajahnya tampak jelas gurat kecewa yang amat besar akibat syutingnya kacau dan pengambilan gambar yang seharusnya di lakukan di laut lepas itu batal. Ia tidak bisa melanjutkan syuting. Apalagi feri yang di tumpangi oleh para pemainnya itu kini baru saja bergerak pergi dari pelabuhan.


Ilario mendongak perlahan menatap manajer penulis skenario filmnya yang kini duduk tepat di hadapannya.


"Aku benar-benar minta maaf karena film ini jadi kacau," tutur Ilario meminta maaf padanya.


"Tidak apa-apa pak. Aku maklum, dan aku juga yakin jika Binbin akan mengerti dengan situasinya. Apalagi semua ini berada di luar dugaan. Semua ini terjadi tanpa di sengaja. Jadi anda tidak perlu meminta maaf mengenai hal ini."


"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak karena film yang sudah aku gadang-gadang akan sangat sempurna ternyata harus berantakan seperti ini. Aku yakin Binbin pasti kecewa atas keteledoran ku, dan mungkin kedepannya beliau tidak akan ingin menuliskan skenario film baru untuk ku," gumam Ilario dengan raut wajah murung.


"Jangan menyimpulkan terlalu cepat pak. Karena aku tahu betul Binbin itu orang yang seperti apa. Dan lagi aku yakin beliau mengerti dengan situasinya dan setelah ini tentunya beliau akan mau menuliskan skenario film baru untuk bapak. Apalagi bapak adalah seorang sutradara terkenal. Siapa orang yang tidak mau menuliskan skenario film untuk anda?"


"Ya… semoga saja begitu."


"Anda tidak perlu terlalu cemas pak. Lagipula kita masih memiliki banyak waktu. Kalaupun kita tidak melakukan pengambilan gambar hari ini, masih ada hari lain untuk melakukannya bukan? Di tambah kita juga kan belum menentukan kapan film ini akan tayang. Jadi anda tidak perlu terlalu cemas, karena anda tidak sedang mengejar waktu tayang." Ia berusaha menghibur.

__ADS_1


"Yang kau ucapkan ada benarnya juga. Masih ada waktu untuk ini. Seharusnya aku tidak terlalu cemas," Ilario tersenyum simpul di sana membenarkan ucapan dari manajer Binbin sebagai penulis skenario film yang tengah di garap oleh nya.


...***...


__ADS_2