
...***...
"Jika kau tidak ingin bertemu lagi denganku dan tidak ingin bermain dalam film ini, lalu kenapa kau tanda tangani kontaknya? Bukankah kau bisa saja membatalkan kontrak nya, apalagi saat itu kau belum tanda tangan sama sekali. Jadi bisa saja kau mundur tapi kenapa kau malah memilih lanjut?" Pernyataan retoris itu terlontar dari mulut Piero.
"Jangan salah paham dulu. Aku menerima untuk bermain film di sini karena aku menghargai pak Ilario dan kerja keras dari Elvera. Aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa saja. Di tambah lagi, jika aku tahu sejak awal kau ikut bermain maka akan aku tolak mentah-mentah, walaupun aku tahu jika Lucio juga ikut dalam film ini," Analia tidak ingin kalah. Piero di sana terdiam untuk sesaat, entah mengapa ia benar-benar kecewa dengan ucapan Analia baru saja.
"Karena tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu lagi, maka aku permisi. Yang lain sudah menunggu ku di sana," Analia beranjak dari tempatnya, meninggalkan Piero yang masih terdiam.
Sepeninggalan Analia, pria itu dengan keras melemparkan buket bunga di tangannya. Melemparkannya keras ke tanah hingga bunga-bunga itu hancur dan berantakkan.
"ARGGHHH!!!" Geramnya keras, ia benar-benar kesal bukan main. Piero lantas memandangi Analia di sana, wanita yang sekarang tengah melangkah menjauh itu kini berjalan menghampiri Lucio kemudian pergi bersama dengan nya dan yang lainnya. Emosinya meningkat, ia benar-benar tidak suka melihat Analia tersenyum ramah dan hangat seperti itu pada pria lain.
"Akan aku dapatkan kau lagi, bagaimana pun caranya. Dan akan aku pastikan itu!" Piero bergumam, sejurus berikutnya ia lalu beranjak dari tempatnya. Melangkah pergi ke tempat dimana artis-artis lain berkumpul sebelum pergi.
...*...
"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul dan semuanya sudah siap, jadi kita langsung berangkat saja. Kalian sudah pegang tiket masing-masing kan?" Ujar Ilario memastikan jika semuanya sudah siap dan hanya tinggal berangkat saja.
"Ya, tiket sudah berada di tangan kami masing-masing. Kita hanya tinggal berangkat," Elvera mewakili di sana.
__ADS_1
"Bagus, kalau begitu seperti yang sudah aku atur jadi langsung kita berangkat saja. Penerbangannya sebentar lagi."
"Baik."
"Kalau begitu ayo berangkat," Ilario beranjak dari tempatnya di ikuti oleh artis dan crew lainnya. Berjalan memasuki Van yang sudah ia atur masing-masing, dan setelahnya mereka melajukan mobil Van mereka beriringan menuju arah bandara, untuk terbang dari Roma menuju Venesia.
...*...
Tiba di bandara, mereka langsung mengeluarkan semua barang-barangnya. Tak lupa para manajer mengecek kembali semua barang bawaan mereka, takutnya ada yang tertinggal dalam Van yang semula mengantar mereka. Setelah mengecek semuanya dalam keadaan lengkap, mereka lalu masuk bersama menuju arah bandara. Di dalam sana, tidak sedikit yang berpapasan dengan mereka yang meminta tanda tangan dan berfoto. Selain itu beberapa wartawan yang tahu akan rencana Ilario menggarap film baru juga berdatangan untuk meliput mereka.
Tidak terlalu lama mereka menunggu di bandara, karena pesawat yang mereka hendak tumpangi sudah siap untuk lepas landas.
Tiba di Venesia, Ilario sudah menyiapkan semuanya dengan bantuan asistennya. Ia sudah memesan beberapa kamar hotel untuk mereka beristirahat.
"Dan ini dia," Ciro berucap ketika dirinya sudah menemukan kamar yang sama dengan kunci yang di pegangnya. Pria itu berdiri di sana, dengan beberapa barang bawaannya yang sejak tiba di hotel tadi terus di geretnya. Di sampingnya Lucio berdiri seraya membaca naskah yang harus ia hafal. Mereka mendapatkan kamar yang berada tepat di ujung lorong, berdekatan dan berhadapan langsung menuju indahnya pemandangan kota Venesia.
Ciro membuka pintu itu, kemudian membawa barang-barang bawaannya masuk dengan di ikuti oleh Lucio di belakangnya.
"Baik kau akan tidur dimana?" Tanya Ciro seraya menatap Lucio di sampingnya. Ada dua ranjang tidur di sana, dan seperti kebiasaannya, Ciro selalu memberikan kebebasan untuk Lucio memilih ranjang tidur yang akan di tidurinya. Pria itu terkadang berubah-ubah jika memilih tempat tidur, tergantung suasana hatinya.
__ADS_1
Lucio yang sejak tadi terus fokus pada naskah di tangannya lantas mendongak menatap dua ranjang besar yang berada di sana.
"Aku akan tidur disana saja," Lucio menunjuk satu ranjang yang letaknya berdekatan dengan beranda yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota Venesia yang indah.
"Baiklah, kalau begitu. Akan aku urus sisanya," Ciro beranjak menggeret kopernya menghampiri lemari, hendak membereskan semua pakaian yang di bawa mereka. Sementara Ciro sibuk membereskan pakaiannya, beda halnya dengan Lucio yang kini beranjak menghampiri ranjang tidur yang tadi di pilihnya.
Lucio terduduk sesaat disana. Ranjangnya empuk, sama seperti ranjang tidur di rumahnya. Hanya berbeda sedikit saja.
"Lucio, apakah kau lapar? Akan aku pesankan makanan jika kau lapar, apalagi ini sudah hampir waktunya jam makan siang dan sejak tadi kau belum makan apa-apa," Ciro yang sibuk membereskan barang-barangnya itu berucap seraya memandanginya yang terduduk disana.
"Boleh, kebetulan aku juga lapar," Lucio tidak keberatan.
"Kalau begitu biar aku pesan lewat layanan hotel," Ciro beranjak menghampiri telpon yang tergelatak diatas laci kecil yang berada di dekat tempat tidurnya, memesankan makanan lewat layanan hotel untuk makan siang mereka.
Fokus Lucio beralih saat dirinya tidak dapat fokus dengan naskahnya. Perutnya terasa lapar dan hal itu membuatnya tidak bisa fokus mengingat isi dialog dalam naskah di tangannya. Lucio menaruh benda di tangannya itu ke atas laci, ia lalu merebahkan tubuhnya sejenak di atas sana dengan keadaan terlentang. Rasanya lelah dan lapar, apalagi setelah perjalanannya dari Roma menuju Venesia. Walaupun tidak terlalu memakan waktu, tapi tetap saja melelahkan, namun ia tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya Ciro yang membawa semua barang-barang miliknya. Entah pria itu manusia atau robot, ia yang membawa banyak barang bawaan bahkan tidak mengeluh sedikitpun dan masih bisa memperhatikan dirinya. Benar-benar tidak salah Lucio memilih manajer seperti Ciro.
Sementara menunggu pesanan mereka tiba di dalam kamar, Lucio memutuskan untuk melihat pemandangan di luar. Pria itu kini melangkah menuju beranda kamarnya.
...***...
__ADS_1