Superesse

Superesse
Preso!


__ADS_3


...***...


Piero melangkah menuju pintu keluar. Ia masih menggenggam kapak di tangannya erat. Tiba di luar, ia segera berjalan menuju arah dimana ruang kendali berada.


Tiba di dalam ruang kendali, ia dapat melihat sang nahkoda kapal yang tengah sibuk mengendalikan kapal. Pria itu berdiri di sana. Menatap lurus ke depan tanpa sadar bahwa Piero tengah mengawasinya dari luar sana.


Tidak ada sepatah kata pun yang di dengar Piero terlontar dari mulut pria itu. Ia masih terus fokus menatap ke depan seraya berusaha mengendalikan semuanya walaupun pria itu tampaknya mulai sedikit kurang tenang.


Piero melangkah perlahan memasuki ruang kendali, langkah kakinya tanpa suara. Bergerak menghampiri pria itu dengan kapak yang semakin ia eratkan pegangannya. Piero mengangkat kapak di tangannya, mengayunkannya dengan cepat. Tepat mengenai bagian leher pria itu, dan…


CRATTTTT!


Darah segar bercipratan dimana-mana, dan tubuh pria itu perlahan mulai limbung sampai akhirnya jatuh ke lantai dalam keadaan kepalanya yang terpisah. Tidak selesai sampai di sana. Piero kembali menyerang pria itu berulang kali.


...*...


"Oh… ada satu ruangan yang belum aku cek," gumam Dario setelah terdiam beberapa saat berusaha untuk menenangkan dirinya sembari berpikir dimana gelang miliknya itu jatuh. Sekarang ia ingat bahwa ada satu tempat yang belum sempat di cek olehnya, dan itu adalah ruang kendali. Sebelumnya ia dan artis yang lain sempat ke ruang kendali untuk berbicara dengan sang nahkoda kapal mengenai beberapa hal sampai kemudian di sana mereka di hubungi oleh Ilario lewat radio komunikasi kalau mereka akan membatalkan pengambilan gambarnya di laut.


"Benar, di sana sepertinya," gumam Dario yang kemudian dengan susah payah berusaha untuk bangkit dari tempat semula ia duduk. Sebelah tangannya masih terus bertumpu pada dinding di sana, kakinya masih terus gemetar dan rasanya sangat lemas. Maka jika ia tidak menahan tubuhnya, bisa saja ia terjatuh.


Dario melangkah menuju koridor keluar. Namun begitu tiba di sana, ia di kejutkan dengan sebuah bercak darah yang di lihatnya. Dario membulatkan kedua matanya saat lantai di sana sudah di hiasi dengan bercak darah segar yang bau amis nya amat menusuk membuatnya harus mempercepat langkah saat melewatinya.


Sebelum naik ke ruang kendali, Dario berlari menuju buritan lebih dulu. Berdiri di belakang pagar untuk muntah. Mengeluarkan semua keinginan terpendamnya sejak tadi.


BRUKKK!


Setelah muntah beberapa saat, Dario semakin lemas. Ia terduduk di sana seraya bersandar pada pagar. Memegangi pagar itu dan masih berusaha untuk mencari udara segar yang mampu menetralkan rasa mualnya akibat mencium aroma amis di lantai menuju keluar tadi.

__ADS_1


Setelah merasa tenang dan rasa mualnya sudah sedikit berkurang, Dario lantas beranjak bangun dari tempatnya. Melangkah secara perlahan menuju ruang kendali. Ia hendak mencari gelang miliknya di sana.


"Aku yakin, aku pasti menjatuhkan gelang ku di sini," gumam Dario seraya menundukkan kepalanya dan kembali di sibukkan mencari keberadaan gelang miliknya.


"Tapi dimana? Dimana gelang itu?" Tutur Dario.


Dario terus naik sampai ia tiba tepat di depan pintu masuk. Namun begitu ia tiba di ambang pintu, Dario seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya membatu dalam seketika, wajahnya berubah pucat, tangannya semakin bergetar, dan ia semakin ingin muntah saat melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya.


Dario menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya. Berusaha untuk menahan rasa mualnya agar ia tidak muntah di sana.


Dario melangkah mundur secara perlahan tanpa sadar hingga langkah kakinya terhenti oleh pagar yang ada di belakangnya. Kedua matanya masih menatap ke arah Piero dari arah belakang.


Merasa ada yang mengawasi, Piero melirik ke arah belakang. Dan mendapati Dario tepat di belakang sana. Menatapnya lekat dengan kakinya yang gemetar ketakutan.


"Aku harus pergi dari sini," batin Dario saat menyadari matanya beradu pandang dengan Piero. Dengan susah payah, Dario berusaha untuk melarikan diri. Menghampiri tangga di sana. Tapi langkahnya lebih dulu dihentikan oleh Piero yang dalam satu kali hantaman kapak di tangannya tepat mengenai pundaknya.


BRUKKK!!


"Argh," rintihnya, kesakitan.


"Maaf, tapi kau juga harus aku singkirkan," gumam Piero seraya melangkah menuruni tangga. Menghampiri Dario yang tersungkur tepat di bawah tangga.


"A-apa yang… ka-kau lakukan… k-kenapa kau lakukan semua ini?" Ujar Dario dengan suara yang gemetar ketakutan.


Piero mengeluarkan smirk-nya. Ia lantas berdiri tepat di depan Dario seraya mengelap sedikit darah pada mata kapaknya.


"Kau tidak perlu tahu tujuanku. Yang perlu kau tahu adalah, kau juga harus aku singkirkan."


"T-tidak! Jangan!" Pekik Dario dengan kedua mata yang kini membulat sempurna. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkan mu mengetahui semuanya. Karena kau, bisa saja menghambat tujuanku," gumam Piero. Ia lantas melangkah menghampiri Dario. Sementara yang di dekatinya berusaha untuk menjauh. Dario menyeret tubuhnya ke belakang.


"A-aku mohon… jangan lakuka itu… a-aku janji… t-tidak akan memberitahu yang lain. A-asalkan kau biarkan aku tetap hidup…"


"Kau berusaha bernegosiasi denganku?"


"A-aku mohon…" Dario mulai berkaca-kaca, ia benar-benar ketakutan saat ini. Apalagi Piero terus bergerak menghampiri dirinya.


"Aku tidak menerima negosiasi darimu," ujar Piero.


"A-aku mohon… b-biarkan aku tetap hidup…"


"Aku tidak bisa melakukannya," sahut Piero yang kemudian mengencangkan cengkeramannya pada kapak yang tengah di pegang nya.


Dario terus menyeret tubuhnya hingga ia terpojok tepat di pagar yang memagari buritan.


"Sekarang, kau tidak akan bisa lari lagi," gumam Piero. Ia mengangkat kapak di tangannya.


"T-tidak! Jangan!" Dario menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Namun Piero tak mengindahkan kalimatnya. Mengayunkannya kapak di tangannya, tepat ke arah Dario dan…


CRATTTTT!


Piero terus menyerangnya berulang kali, untuk memastikan bahwa Dario sudah benar-benar tidak bisa bergerak lagi.


Sementara itu, Dario di bawah sana yang semula bergetar memohon padanya. Kini tewas, terbujur kaku di tempatnya dalam keadaan bersimbah darah.


"Hahh… hahh… hahh…" Piero berusaha mengatur napasnya. Keringat yang terus mengucur di keningnya, menandakan bahwa dirinya tengah berada dalam keadaan amat lelah.


Piero menurunkan kapak di tangannya. Darah segar di sana terus mengucur deras dari kapak yang di genggamnya, membuat darah itu terus jatuh menghiasi lantai.

__ADS_1


Piero berjongkok untuk memastikan semuanya, ia menaruh kapak ditangannya kemudian mengangkat tubuh Dario dan menjatuhkan tubuhnya ke laut.


...***...


__ADS_2