Superesse

Superesse
Braccialetto


__ADS_3

...***...


"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Lucio begitu Analia selesai meneguk teh madu hangat yang di buatkan olehnya.


"Ng," Analia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia kemudian memegangi cangkir di tangannya itu.


Untuk sesaat hening menyelimuti kebersamaan mereka. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing. Hanya sepi yang menyelimuti, membuat atmosfer beku dan rasa canggung amat terasa menemani kebersamaan mereka.


Lucio melirik ke arah Analia di hadapannya. Di tatapnya wanita itu lekat. Pertanyaan demi pertanyaan sejak tadi terus menghantui nya, membuat ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Analia. Dan apa maksud dari perkataan nya tadi, itu membuatnya benar-benar merasa bingung.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Analia bilang jika ia takut?" Lucio membatin.


Di sisi lain, Analia yang di pandangnya, saat ini tengah terdiam seraya menatap ke arah meja di hadapan mereka dengan tatapan mata dingin. Sesekali ia menyeruput teh itu pelan, menikmatinya secara perlahan.


"An?" Panggil Lucio yang membuat wanita itu seketika tersadar dari lamunannya dan menatap Lucio dengan raut wajah bingung.


"Huh?" Gumamnya seraya menyeruput kembali teh nya. Entah sudah yang ke berapa kali ia menyeruput nya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Lucio bertanya hati-hati.


"Be-bertanya?" Beo Analia dengan sedikit terbata. Ia beralih menatap Lucio dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


"Iya."


"Boleh," gumamnya seraya menganggukkan kepalanya pelan.  Analia mengalihkan kembali tatapannya ke arah lain, menyeruput tehnya sedikit.


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa kau… bersikap seperti tadi?"


"A-ah itu… bisakah kau tidak menanyakan hal ini dulu? Aku sedang tidak ingin membahasnya, ini membuatku kurang nyaman," tutur Analia yang berusaha untuk menghindari pertanyaan darinya.


"O-oh… baiklah. Jika kau tidak ingat menjawabnya tidak apa-apa. Aku mengerti mungkin ini terlalu berat untuk kau jelaskan padaku."


"Terima kasih sudah mau mengerti."


"Iya," gumamnya pelan.


Sepi kembali menyelimuti kebersamaan mereka. Lagi-lagi tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing. Hanya hening yang menyelimuti.


...*...


"Aku yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Analia dan alasan kenapa dia bersikap seperti itu," Lucio bergumam di sana.


Kedua manik mata indahnya menatap ke arah laut lepas di hadapannya.

__ADS_1


Saat ini Lucio tengah berada di luar, sedang menikmati pemandangan yang jarang sekali dapat di nikmati olehnya.


Sudah berjam-jam berlalu semenjak mereka pergi dari pelabuhan, dan sejauh ini banyak sekali hal yang terjadi. Entah mengapa Lucio merasa jika syutingnya kali ini tampaknya memiliki banyak ketidak beruntungan, tidak seperti syuting-syuting film nya yang lain. Di film nya kali ini banyak sekali kendala dan masalah yang terjadi. Mulai dari terpisahnya mereka dengan para crew dan manajer, kemudian berlayar di laut lepas hanya dengan di temani rekan sesama artisnya yang lain, dan di tambah lagi dengan Analia yang bersikap cukup aneh sejak tadi. Semenjak tadi pagi, Analia terus bersikap aneh. Mulai dari menjadi lebih pendiam, lalu tampak tak bertenaga, tiba-tiba pingsan, sampai yang lebih anehnya lagi adalah kejadian yang di lihatnya. Kejadian saat Analia tiba-tiba berteriak dan meminta semua orang untuk pergi.


Saat kejadian itu terjadi, Analia benar-benar tampak ketakutan. Tubuhnya gemetar, dan Lucio mendengar kalimat yang ganjil baginya. Kalimat yang berhasil mengganjal di pikirannya. Mendatangkan berbagai pertanyaan yang semakin lama semakin membuatnya merasa penasaran.


"Tapi apa?"


"Apa yang membuat Analia jadi bersikap aneh seperti itu?" Gumamnya lagi. Memonolog dengan diri nya sendiri.


"Lucio!" Dario tiba di sana. Menepuk pundaknya pelan membuat ia terkejut dan spontan menoleh ke arahnya.


"A-ah ya? Kenapa?" Tanyanya sedikit terbata.


"Kau kenapa? Kau tampak bingung."


"Ah itu…" Lucio menggantungkan ucapannya, menimbang-nimbang lebih dulu sebelum ia menceritakan semuanya pada Dario.


"Ada apa? Cerita saja, apakah kau memiliki masalah?" Tanyanya.


"Tidak. Aku tidak memiliki masalah, hanya saja aku sedang kepikiran sesuatu."


"Memangnya apa?"


"Huh? Analia? Memangnya kenapa dengan sikapnya?"


"Aku merasa jika ada yang aneh dengannya. Apakah kau merasakannya juga?"


"Aneh bagaimana?"


"Ya, aneh saja. Dia tidak seperti Analia yang biasanya. Analia tampak berbeda sejak tadi pagi. Dia banyak melamun dan sikapnya jadi agak berubah."


"Benarkah? Mungkin dia hanya sakit saja."


"Tidak. Aku rasa ada hal lain yang membuatnya seperti itu."


"Contohnya?" Dario mengerutkan keningnya.


Lucio beralih pandang pada dirinya di samping.


"Tadi aku dan teman-teman yang lain melihat Analia yang menjerit-jerit dan meminta kami pergi. Di tambah lagi saat itu, pintu ruang tidurnya di kunci dari dalam olehnya. Aku rasa ada sesuatu yang terjadi, tapi apa ya? Ini yang membuatku merasa jika ada yang terjadi dengan Analia."


Dario terdiam sejenak mendengar apa yang di jelaskan oleh Lucio barusan. Ia tampak melamun, entah apa yang di pikirkan oleh pria itu, Lucio tidak tahu.

__ADS_1


"Dario?" Lucio menepuk bahunya saat tak mendapatkan respon dari lawan bicaranya di samping sana.


"Ah ya?" Dario menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung.


"Kau kenapa? Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan?"


"Oh. Tidak, tidak ada."


"Benarkah?"


"Iya. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa."


"Aku curiga. Jangan-jangan kau mengetahui sesuatu soal ini?"


"Huh? Kenapa kau mencurigaiku? Kau tahu sendiri kan jika aku dan Analia itu tidak terlalu dekat. Bagaimana mungkin aku tahu sesuatu mengenai hal yang tidak terlalu ada hubungannya dengan diriku?"


"A-ah benar juga ya."


"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik sekarang kita kembali ke dalam, dan lebih baik sekarang kita kembali berlatih. Ingat! Kita masih harus syuting dalam dua hari ke depan. Dan syuting nya akan lebih berat di banding kan dengan hari-hari sebelumnya."


"Ya. Kau benar. Kalau begitu ayo masuk," Lucio dan Dario beranjak dari tempat nya berdiri saat ini. Mereka lantas melenggang masuk ke dalam, hendak kembali berlatih.


"Oh, tunggu. Aku melupakan sesuatu," ujar Dario secara tiba-tiba sembari menghentikan langkah kakinya membuat Lucio seketika beralih menatap nya di sana.


"Ada apa?"


"Aku sejak tadi mencari barang ku yang hilang."


"Barang?"


"Hm," Dario menganggukkan kepalanya.


"Barang seperti apa?"


"Itu sebuah gelang pemberian kekasihku. Aku tidak tahu menjatuhkannya di mana, maka dari itu sejak tadi aku berusaha mencarinya tapi tidak ketemu."


"Apakah mau aku bantu cari?"


"Tidak perlu. Tidak apa-apa aku bisa mencarinya sendiri. Lagipula akan sulit untuk mengenalinya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2