
...***...
DRRRKKK!
Kursi yang tengah di dudukinya itu berderit ketika ia bangun dari posisinya.
Fokus orang-orang yang tengah duduk di meja makan itu seketika beralih memandang ke arah Analia di sana. Wanita itu saat ini tengah berdiri tegap di tempatnya.
"Aku permisi. Aku ingin istirahat," tuturnya dengan raut wajah yang tampak lesu.
"Huh? Kau sudah selesai?" Tanya Giorgia yang duduk tepat di sampingnya.
"Iya. Dan sekarang aku mau istirahat. Jadi permisi."
"Tapi, apakah kau benar-benar tidak ingin bersenang-senang dengan kami?" Tanya Cristian di sana.
"Sudah aku bilang, mood ku sedang kurang baik untuk saat ini. Dan aku sedang benar-benar malas. Jadi kalian saja yang bermain," tutur Analia seraya melangkah meninggalkan ruang tersebut.
"Ah. Sangat di sayangkan. Tampaknya kondisi Analia kurang baik, dia tampak lesu sejak tadi," gumam Zeta.
"Apakah mungkin dia sakit?" Fella memandangi teman-temannya.
"Sakit? Ya, mungkin saja," gumam Sienna.
Sementara yang lain mengobrol, beda halnya dengan Lucio dan aktor pria lain yang hanya diam menyimak tanpa berkomentar.
Fokus Lucio kemudian beralih menatap ke arah pintu masuk ruangan itu. Perempuan yang memerankan karakter tokoh utama wanita dalam filmnya itu baru saja menghilang dari balik pintu sana.
TUK!
Piero menaruh gelas minumnya dengan sedikit kasar. Pria itu berdiri dari sana yang membuat fokus teman-temannya kembali tersita.
"Piero, kau mau kemana?" Tanya Giorgia disana.
"Jangan bilang jika kau juga tidak akan ikut bersenang-senang dengan kami?" Jolanda berkomentar di sana.
__ADS_1
"Oh, tidak. Aku hanya ingin ke toilet sebentar. Setelah itu aku akan kembali ke sini, dan tentunya aku akan bersenang-senang dengan kalian."
"Ah. Baiklah."
"Kalau begitu aku keluar sebentar," Piero beranjak keluar dari dalam sana. Langkahnya tampak sedikit tergesa-gesa. Hal itu membuat Lucio yang melihatnya merasakan sedikit keganjilan. Tapi sebisa mungkin ia berusaha menepis setiap pikiran buruk dari otaknya.
Lucio memutuskan untuk kembali fokus pada makanan yang tengah di nikmati olehnya.
...*...
Analia terus melangkah menyusuri lorong menuju keluar dari dalam ruang makan. Namun secara tiba-tiba saat ia tengah melangkah, seseorang menariknya menuju sudut lain lorong yang lebih sepi. Geraknya sangat cepat sampai-sampai ia sedikit terseret dibuatnya.
BRUUKKK!
Punggung Analia menubruk keras dinding dibelakangnya.
"Akh—" ringisnya kesakitan saat dinding yang begitu keras bersentuhan secara kasar dengan punggungnya.
"An…" lirihnya. Dari suaranya, Analia dapat mengenalinya dalam sekali. Ia membuka kedua matanya, yang semula terpejam menahan sakit. Analia tersentak saat mendapati Piero yang kini berdiri tepat di hadapan dengan tatapan yang begitu lekat tertuju ke arahnya.
"An…" hanya itu yang di gumamkan pria itu. Piero melangkah membuat jarak mereka semakin dekat.
"A-apa yang kau lakukan!" Analia mulai panik. Jantungnya mulai bergemuruh, bersamaan dengan itu tangannya mulai bergetar ketakutan. Matanya berkaca-kaca menatap Piero yang kini terlihat seperti saat tragedi beberapa tahun yang lalu itu terjadi.
"Kenapa kau terus menolakku?" Lirihnya lagi.
"B-behenti! Ja-jangan mendekat!" Analia berteriak dengan suara yang bergetar tapi hal itu justru membuat Piero semakin mendekat ke arahnya. Analia terdiam saat dinding yang semula di tabrakan itu benar-benar menghalangi gerak nya untuk bisa melarikan diri.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar. Dan aku tidak akan pergi sebelum kita selesai bicara."
"Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi! Pergi! Pergi kau! Pergi atau aku teri—hmmmphhh!" Ucapan Analia terpotong saat secara tiba-tiba Piero membekap mulutnya, membuat ia kesulitan untuk berbicara.
"Ssstttt… jangan berisik sayang," Piero berbisik, mendekatkan wajahnya tepat ke arah wajah Analia.
Analia semakin ketakutan, tangannya semakin bergetar di sana. Ia tidak tinggal diam. Tangannya mendorong keras tubuh Piero, berusaha membuat pria itu menjauh darinya. Namun gagal. Piero malah mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan mengangkatnya tepat di atas kepalanya. Menghimpit diantara dinding dibelakangnya. Analia tidak dapat bergerak.
__ADS_1
"Tahukah kau, jika aku benar-benar mencintaimu?" Piero menatap Analia semakin lekat.
Analia menatapnya kesal, ia terus berusaha memberontak namun gagal. Di tengah rasa paniknya ini, ia benar-benar kehabisan akal untuk melawan. Apalagi saat ini Piero sudah menyudutkan tubuhnya, bahkan untuk menggerakkan kakinya saja benar-benar terasa amat sulit di sana.
"Dan apakah kau tahu, jika aku sangat cemburu saat kau dekat-dekat dengan pria lain? Apalagi… Lucio, aku tidak ingin kau dekat-dekat dengannya."
"Hmmpphhh…" Analia tanpa sadar meloloskan sebutir air matanya, yang kini melesat melintasi pipi mulusnya. Keadaan ini benar-benar membuatnya teringat akan semua kejadian itu. Perlahan setiap potongan ingatan akan kejadian beberapa tahun yang lalu itu kembali menghantui dirinya. Analia merasakan dadanya terasa sesak. Ia tidak bisa beranapas dan tangannya semakin keras gemetar di sana.
"Uhhh, jangan menagis sayang," gumam Piero yang benar-benar terdengar menakutkan di telinganya.
Napas Analia semakin memburu. Ia benar-benar mulai kehabisan oksigen saat ini. Kepalanya mulai terasa pusing dan kesadarannya perlahan mulai samar-samar.
"Jangan menangis. Karena aku akan membuatmu senang hari ini."
Piero kembali mendekatkan wajahnya ke arah telinga Analia. Berbisik tepat di telinga wanita itu.
"Aku akan memuaskan mu," gumamnya.
Analia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menendang semua potongan ingatan dalam otaknya itu. Potongan ingatan itu benar-benar membuat kepalanya sakit. Tapi usahanya gagal. Ia malah semakin jelas melihat semuanya. Mengingat setiap kejadian yang di alaminya.
Perlahan ia mulai merasa lemas, kepalanya mulai terasa semakin berat dan ia mulai kehilangan kesadarannya.
Piero beralih menatapnya lekat. Ia menyeringai saat menyadari Analia yang kini memejamkan matanya.
"Omong-omong apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Tiba-tiba perhatian Piero tersita saat secara tidak sengaja ia mendengar suara Lucio dan Dario dari lorong lain. Bersamaan dengan itu, ia dapat mendengar suara langkah kaki mereka yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Sial!" Umpatnya dalam hati seraya menoleh ke arah lorong yang semula di lewatinya itu. Ia tampak kesal, apalagi saat mendengar langkah kaki mereka yang semakin dekat.
Piero beralih pandang sekilas pada Analia yang tampak tak sadarkan diri. Bergegas ia melepaskan cengkeraman tangannya yang meninggalkan jejak kebiruan di kedua pergelangan tangan Analia.
Piero menaruh tubuh wanita itu dilantai dengan keadaan bersandar pada dinding dibelakangnya.
"Aku harus pergi dari sini!" Pikirnya. Piero melangkah dari sana. Melenggang menuju lorong dimana asal suara dari Lucio dan Dario didengarnya. Hanya itu lorong satu-satunya yang menghubungkannya dengan lorong lain. Sementara lorong semula buntu.
__ADS_1
...***...