
...***...
Livia terdiam di tempatnya. Matanya berkaca-kaca, tangannya di bawah sana gemetar, dan hatinya begitu bergemuruh saat ia melihat sosok pria yang di cintainya itu kini tengah bermesraan dengan wanita lain.
Tanpa pikir panjang, ia bergegas menghampiri Paul di sana.
PLAKKKK!!!
Sebuah tamparan keras, mendarat mulus tepat di pipi kiri pria itu begitu ia tiba di hadapannya.
Paul yang mendapati perlakuan itu spontan terkejut, begitu pula dengan wanita di sampingnya yang semula bermesraan dengannya.
"L-livia…" gumamnya seraya memegangi pipinya yang terasa panas.
"Jadi seperti ini sikapmu selama aku tidak ada…" Livia berucap lirih. Satu butir air matanya melesat jauh membasahi pipinya.
"K-kenapa kau bisa ada di sini?"
"Siapa wanita ini!" Ia beralih pandang pada wanita disampingnya.
"Livia, dengarkan aku dulu," Paul berusaha untuk menenangkan.
"Kau siapa?!" Livia tak menghiraukan ucapan pria itu.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Kau ini siapa, berani sekali menampar pacarku?" Sara balik bertanya.
"Pacar? Jadi selama kau di sini, kau berpacaran dengannya?" Ia beralih pada Paul di hadapannya.
"B-bukan seperti itu Liv. Dengarkan aku dulu," Paul masih berusaha untuk menenangkan Livia.
"Tidak ada yang perlu aku dengarkan darimu. Mulai hari ini juga kita putus!" Livia berlari menjauhi Paul dan Sara di sana.
"Liv! Livia! Tunggu! Dengarkan aku dulu!" Paul berlari mengejar Livia dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya untuk menahan langkah kakinya agar tidak semakin jauh. "Livia! Dengarkan aku dulu!"
Livia menghentakkan tangannya berusaha melepaskan cengkeramannya tapi gagal.
"Lepaskan aku!" Livia berbalik, tapi dengan cepat Paul mencengkeram tangannya yang lain berusaha membuatnya diam. Livia semakin memberontak. "Lepaskan aku!" Pekiknya lagi, tapi tanpa aba-aba lebih dulu. Tiba-tiba Paul meraih tengkuknya dan menyambar bibirnya spontan.
__ADS_1
Seketika ia terdiam. Dengan cepat di dorongnya dada bidang pria itu untuk menjauh.
PLAKKKK!!!
Analia menampar Piero keras, membuat pria itu sedikit meringis saat tangan Analia mendarat keras di pipi kirinya.
"Cut!" Teriak Ilario di sana. Pria itu lantas berdiri dengan berkacak pinggang.
"Apa yang kau lakukan Piero! Tidak ada adegan ciuman dalam skenarionya!" Pekiknya kesal. Piero dan Analia di seberang sana menoleh sepontan ke arah Ilario. Pria itu tampak marah karena dengan seenak jidatnya Piero mengubah sedikit adegan dalam skenario filmnya.
Analia beralih pandang, menatap Piero di hadapannya penuh amarah. Ia emosi bukan main saat mendapati kenyataan pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti saat ini.
"Baiklah, kita ulang lagi dari scene sebelumnya!" Ilario kembali duduk di kursinya.
"Maaf, tapi aku ingin istirahat sebentar," ujar Analia pada Ilario. Ia lantas berjalan melewati beberapa crew di sana.
"Oke kita istirahat sebentar. Dan untukmu Piero! Baca ulang skenario mu!" Titahnya seraya melirik pada pria itu.
Piero tak menjawab. Dengan cepat berlari mengejar Analia yang kini berjalan ke arah Elvera di sana.
"Aku tidak ingin berbicara denganmu! Pergi!" Tukasnya, tampak jelas ia tengah berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh.
"Aku minta maaf soal kejadian yang tadi, aku benar-benar tidak bermaksud untuk—"
"Aku tidak peduli! Yang jelas aku tidak ingin bicara denganmu!" Analia berbalik dan berjalan cepat menjauh darinya.
"An!" Piero masih belum menyerah.
"Jauhkan dia dariku!" Ucap Analia pada Elvera begitu ia melintas di hadapannya.
"Baik," gumam Elvera. Ia kemudian dengan cepat berusaha menghadang Piero untuk terus mengejar Analia.
Seketika keadaan berubah kacau saat Piero secara tiba-tiba mengubah adegan dalam skenario filmnya.
Perasaan Analia berkecamuk, segalanya menjadi satu. Mulai dari kesal, sedih, marah, hingga benci, semuanya menyatu. Berpadu menjadi air mata yang kini mulai menetes membasahi kedua pipinya.
Analia bergegas berlari menjauh dari lokasi syutingnya. Ia tidak ingin ada orang yang mengganggunya untuk saat ini.
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain, Lucio yang melihat kejadian itu sejak tadi hanya diam bersampingan dengan Ciro di sebelahnya.
Lucio memandang ke arah dimana Analia menghilang di antara beberapa crew yang berkumpul di sana.
"Semuanya jadi kacau. Aku harap kau tidak—" Ciro menghentikan ucapannya saat menyadari Lucio beranjak dari sana. "Kau mau kemana?" Tanyanya menahan Lucio untuk pergi.
Lucio beralih pandang sejenak ke arahnya. "Aku ingin ke toilet sebentar," ucapnya seraya melenggang pergi dari sana.
"Huft~" Ciro menghela napasnya di sana.
Sudah satu bulan lebih mereka berada di Venesia, dan syutingnya sudah berjalan setengah cerita. Hanya tinggal beberapa scene lagi sebelum mereka berangkat menuju San Marino seperti rencana awal mereka.
BRAKKKK!!!
Analia mendorong keras pintu ruangan itu agar bisa terbuka. Dengan cepat ia menutupnya agar tidak ada orang yang masuk.
Di dalam sana seketika tangisnya pecah, inilah yang paling ingin ia hindari saat berdekatan dengan Piero. Inilah yang membuatnya begitu marah terhadap Elvera ketika wanita itu secara diam-diam merahasiakan jika Piero ikut dalam film-nya.
Bahkan bersentuhan dengan Piero saja selalu membuatnya teringat akan apa yang hampir pria itu lakukan terhadapnya, dan itu selalu berhasil membuatnya gemetar ketakutan.
"Tenang! Aku harus tenang!" Analia terus merapalkan kalimat itu agar ia bisa tenang. Rasanya masih sangat membekas dalam ingatannya kejadian beberapa tahun yang lalu itu, dan masih ada sedikit rasa trauma dalam dirinya yang membuat ia kesulitan untuk menjalani hidupnya dengan baik. Apalagi saat ini ia harus kembali di pertemukan dengan Piero, pria yang telah membuat traumanya itu hadir di kehidupannya.
Analia mengepalkan tangannya, ia berusaha untuk membuat tangannya yang gemetar itu untuk lebih rileks di bandingkan saat ini. Tapi sulit.
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba pintu itu di ketuk dari arah luar yang spontan membuatnya terbelalak kaget dengan suaranya. Matanya sampai melotot hampir keluar saking kagetnya.
"An? Apakah kau baik-baik saja?" Suara lembut itu di dengarnya dengan sangat jelas. Suara itu terdengar familiar di telinganya. Analia terdiam tanpa menjawab suaranya, tangisannya tertahan untuk sesaat, ia berusaha sebisa mungkin agar suaranya tidak terdengar sampai ke luar.
"Tampaknya kau sedang tidak baik-baik saja," Analia dapat mendengar suaranya sekali lagi.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu untuk saat ini. Tapi jika kau ingin bercerita kau bisa ceritakan semuanya padaku. Aku akan meninggalkan kau sendiri di sini, dan akan aku pastikan tidak ada seorangpun yang mengganggumu. Menangislah sepuasnya," tuturnya di balik pintu sana.
"Aku pergi," lagi. Dan untuk selanjutnya tidak ada suara yang dapat di dengarnya lagi.
...***...
__ADS_1