
...***...
Pria itu mempercepat langkah kakinya kala rasa khawatirnya mulai mendominasi dalam diri. Di belakang sana, Piero yang di lihatnya baru saja melakukan pemberontakan dan pembantaian besar-besaran di dalam kapal yang ditumpanginya, mulai melangkah menuju arahnya.
Piero sadar jika ia adalah salah satu dari sedikit nya awak kapal yang tersisa dari semua yang telah di bantainya.
BRUUKKK!!
Kakinya yang memetar tanpa sengaja tersandung saat kepalanya terus menoleh ke arah dimana Piero mengikuti dirinya.
Wajah pucatnya benar-benar menampakkan ketakutan yang luar biasa besarnya.
"Yuhu…" suara itu di dengarnya samar-samar, membuat dirinya spontan terkejut dan semakin cemas dengan suara Piero yang di dengarnya.
"Dimana kau… berhenti bermain-main denganku, dan tunjukkan dirimu. Aku berjanji jika kau mau menunjukkan diri mu, aku akan bermain sedikit lembut denganmu. Berbeda dengan teman-teman mu yang lain," gumamnya seraya terus melangkah dengan kedua mata yang terus mengedar, menyusuri setiap lorong di sana dan mencari dirinya.
"A-aku harus sembunyi," gumam pria itu seraya berusaha untuk bangkit. Dengan sedikit tergopoh-gopoh ia berdiri dari posisinya. Baju seragam pelautnya yang semula tampak bersih kini sudah berhiaskan bercak darah yang sebagian besar membasahi bagian belakang dan samping bajunya.
Tangannya masih gemetar ketakutan, semakin lama semakin cepat getarannya. Membuat ia kesulitan bahkan hanya untuk melangkah mencari tempat persembunyian agar bisa lari dari Piero yang sudah membantai teman-temannya yang lain.
"D-di sana! A-aku harus sembunyi di sana," gumam pria itu yang lantas berjalan memasuki sebuah ruang ganti tempat biasa ia mengganti pakaiannya bersama teman-temannya yang lain.
Pria itu berjalan tergesa-gesa menuju sudut ruangan, ia lantas bersembunyi di salah satu loker yang tinggi dan luasnya cukup untuk tubuhnya. Ia masuk ke dalam sana lalu menutup pintu loker itu rapat-rapat agar Piero tak dapat menemukan keberadaan nya.
__ADS_1
"A-aku harus tenang! Ja-jangan sampai dia kemari," gumamnya seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia menggigit tangannya, berusaha menahan giginya yang terus gemertak seperti orang yang menggigil saking takut dan terkejutnya dengan apa yang baru saja ia saksikan.
Sementara itu, sebelah tangannya perlahan mulai bergerak. Ia merogoh kantong celana panjang yang di kenakan olehnya, berusaha mencari benda yang dapat menghubungkannya dengan sang nahkoda kapal. Ia ingin memberitahu kan pada kepala pelayaran itu bahwa ada pemberontakan yang terjadi di kapal yang mereka tumpangi tanpa sepengetahuan dirinya.
Ia sudah menekan tombol di sana. Namun ia terdiam seketika sebelum sempat ia berbicara. Suara pintu masuk yang di dorong masuk ke arah dalam, membuatnya seketika terdiam membatu di tempatnya tanpa sepatah kata pun yang sempat terlontar dari bibirnya.
KRIEETTT…
Pintu itu terus berbunyi begitu Piero melangkah masuk. Suaranya baru berhenti begitu pintu itu berbenturan dengan dinding.
"Ternyata kau ingin bermain petak umpet denganku."
"Baiklah, mari kita bermain sesuai keinginanmu. Aku akan mencarimu, tapi jangan salahkan aku jika aku bermain sedikit kasar dengan mu," gumam Piero yang kemudian melangkah menyusuri ruangan itu.
"Kemana dia?" Piero terdiam sesaat ketika tak di dapatkan nya pria yang di carinya. Fokusnya beralih pada loker-loker yang ada di sana.
"Aku yakin dia pasti ada di antara salah satu loker ini," gumamnya yang lantas berjalan menghampiri satu persatu loker itu lantas membukanya dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Suara pintu loker yang di buka dengan kasar, berhasil membuat pria itu semakin ketakutan. Ia spontan bergerak menarik pintu yang ada di hadapannya dan menahannya dengan tangan.
"Aku harap dia tidak kemari," batinnya. Pria itu memejamkan kedua matanya, berharap dengan begitu bisa merasa lebih tenang. Tapi gagal, ia justru malah merasa semakin ketakutan.
"Dia tidak ada dimana-mana," Piero kembali bergumam. Tapi kali ini suaranya sangat jelas, hal itu membuat pria itu membuka kedua matanya dan mengintip ke arah luar lewat celah yang ada di pintu itu. Ia begitu terkejut saat mendapati Piero berada tepat di depan pintu.
"Tidak! Jangan berdiri di sana! Pergilah!" Pikir pria itu, berharap Piero pergi dari tempatnya berdiri saat ini. Fokus Piero di luar sana justru beralih menatap ke arah pintu yang mana di isi olehnya. Ia gemetar, tapi dengan sekuat tenaga berusaha menahan tangannya agar tidak menciptakan suara yang dapat membuat Piero sadar akan kehadirannya di dalam sana.
__ADS_1
"Tampaknya dia memang tidak kemari," gumam Piero setelah beberapa saat. Ia lantas berbalik hendak pergi dari sana, tapi langkahnya sudah lebih dulu terhenti begitu ia menangkap suara yang berasal dari dalam loker itu.
"Masuk! Apakah kau bisa mendengarku?" Pria di seberang sana menginterupsi, membuat pria yang tengah bersembunyi itu seketika tersentak dan dengan cepat berusaha untuk memutuskan sambungannya dengan sang nahkoda yang baru sadar jika sejak tadi ia berusaha menghubungi nya lewat radar yang terhubung di sana.
Wajahnya makin memucat kala tangannya yang gemetar tak berhasil mematikan benda di tangannya itu.
"Ayolah! Mati! Kenapa kau tidak mau terputus!" Pria di sana bergumam pelan. Wajahnya mulai di penuhi dengan keringat, dan jantungnya semakin berdetak hebat. "Oh ayolah!" Pria itu hampir menangis.
Sementara orang di dalam sana panik, beda halnya dengan Piero yang langsung menatap pintu itu penuh rasa curiga.
Tangannya perlahan mulai terulur dan dalam satu kali tarikan, pintu itu langsung terbuka menampakkan sosok pria di dalam sana yang tengah dalam keadaan panik dengan wajah yang pucat pasi.
Wajahnya bertambah pucat kala melihat Piero membuka pintu itu spontan dan tersenyum ke arahnya.
"Ketemu," gumam Piero pelan. Amat pelan bagai bisikan, tapi dapat di dengar dengan sangat amat jelas oleh pria di dalam sana.
Pria itu terpaku di tempatnya. Ia membatu seketika, dan di rasanya tubuhnya mulai melemas. Alat komunikasi nya dengan nahkoda kapal itu terjatuh dari tangannya dan bersamaan dengan itu ia jatuh terduduk di dalam sana.
Piero yang melihat benda yang baru saja jatuh itu lantas menatap benda itu sesaat, ia menatapnya bergantian benda itu dengan pria yang di lihatnya.
"Jadi kau berusaha mencari bantuan?" Piero menatapnya tajam. Yang di tatapnya semakin ketakutan. Piero mengangkat tangan nya. Dan dalam satu kali ayunan kapak nya, benda itu seketika hancur mencari dua. Pria itu semakin gemetar.
...***...
__ADS_1