
...***...
"Omong-omong apakah kau ingin minum?" Piero menawarkan wine yang di genggamnya.
"Tidak terima kasih! Aku tidak haus!" Tolak Analia cepat. Jujur saja memang ia haus karena sejak tadi hanya duduk dan menonton tanpa minum apapun. Tapi bagaimana pun, ia tidak ingin meminum minuman yang diberikan oleh Piero.
"Kenapa kau menolak? Ayolah minum bersamaku, kali ini saja. Sebagai yang terakhir kali. Lagipula aku kan sudah bilang jika aku tidak akan mengganggumu lagi. Jadi bagaimana jika sebagai perpisahan kita minum bersama?"
"Aku tidak mau!"
"Ayolah An, aku mohon. Satu gelas aja," Piero menyodorkan shot glass di tangannya pada Analia.
"Aku bilang aku tidak mau!" Analia mendorong tangan pria itu.
"Satu kali saja, sedikit. Aku mohon, ya?" Piero bersikeras.
"Aku bilang aku tidak ma—"
"Analia!" Panggilannya begitu tiba tepat di hadapan mereka, membuat fokus Analia dan Piero spontan mendongak menatapnya. Ucapan Analia sampai terpotong karena pria itu menyerukan namanya secara tiba-tiba.
"L-lucio," gumamnya terbata, Analia merasa sedikit lega akan kehadiran Lucio yang datang menghampirinya.
"Aku kira kau sudah kembali," Lucio berusaha bersikap biasa.
"A-ah, belum."
"Kalau begitu bagaimana jika kita kembali? Ini sudah hampir jam sembilan," Lucio meraih tangan Analia kemudian membawanya, tapi Piero yang melihatnya tak tinggal diam dan langsung meraih pergelangan tangan Analia, menahannya untuk pergi.
"Tunggu! Memangnya kau siapa bisa membawanya begitu saja?" Ujarnya menahan. Lucio dan Analia beralih pandang padanya.
"Aku hanya ingin mengingatkan saja jika besok kita memiliki pekerjaan dan jadwal kita padat. Tidak ada waktu untuk bersantai dan mabuk-mabukan," jawab Lucio tenang.
"Tapi aku dan Analia sedang minum bersama. Kau tidak bisa membawanya begitu saja!"
"Huh? Kenapa tidak? Ini sudah malam dan kita harus kembali sebelum jam sembilan. Bukankah kau juga tahu itu, dan kenapa kau belum kembali?"
"Kau—"
"Sudah! Hentikan!" Analia memotong. Di hempasnya keras tangan Piero yang menggenggam pergelangan tangannya. Piero terdiam, matanya menatap nanar Analia di sana.
__ADS_1
"Aku lelah dan aku ingin segara kembali," ujarnya.
"Kalau begitu biar—"
"Tidak perlu! Aku datang dengan Lucio, maka aku juga harus pulang dengannya. Lagipula harus berapa kali aku bilang jika aku sudah tidak ingin lagi berhubungan denganmu. Apakah kau tidak mengerti setiap ucapan dariku?" Analia mulai benar-benar kesal. Ia muak.
"An—"
"Lucio, ayo pergi," Analia beralih pandang pada Lucio. Menarik pria itu pergi dari sana, menerobos kerumunan orang-orang yang menari di dance floor dalam keadaan setengah sadar.
Piero terpaku di tempatnya. Tangannya di bawah sana terkepal erat, ia benar-benar tidak terima Analia memperlakukan nya seperti ini. Ia tidak terima jika Analia lebih memilih pergi dengan Lucio di bandingkan dirinya.
"Suatu saat akan aku pastikan kau sendiri yang akan datang menghampiriku untuk meminta kembali," pria itu membatin. Matanya menatap penuh amarah pada arah kemana Analia dan Lucio menghilang di kerumunan orang-orang disana.
...*...
Hening untuk sesaat. Di sepanjang perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing kala mereka di perjalanan menuju kembali ke kamar hotel mereka. Analia diam untuk sesaat, rasanya canggung setelah kejadian dimana Lucio mendengarkan perkataannya pada Piero tadi.
"Kau baik-baik saja?" Tiba-tiba Lucio bertanya yang spontan membuat dirinya terkejut dan menoleh ke arahnya secara refleks.
"Eh? Ah, ya. Aku baik-baik saja," gumam Analia menjawab.
"Apakah kau yakin? Tampaknya kau tidak terlalu baik-baik saja."
"Oh…" Lucio menanggapi. "Tapi jika boleh tahu, apakah kalian memiliki masalah? Tampaknya sejak awal, kau dan dia tidak memiliki hubungan yang baik," Lucio bertanya hati-hati.
"Ya. Memang aku dan dia tidak memiliki hubungan yang baik setelah kami memutuskan untuk putus," ujar Analia.
"Ah. Begitu rupanya."
"Oh, omong-omong terima kasih karena kau sudah membantuku untuk keluar dari sana tadi. Aku berhutang budi padamu."
"Eh? Berhutang budi? Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku kan hanya membantumu keluar dari sana saja. Lagipula aku juga kan ingin keluar dari saja, jadi bisa di katakan aku tidak melakukan apa-apa."
"Aku berhutang budi padamu karena kau sudah membantuku lepas dari Piero. Jika kau tidak ada, mungkin saja dia akan terus memaksaku untuk minum dan terus disana menemani dirinya."
"Bukan masalah," sahut Lucio.
Sejurus berikutnya perjalanan mereka kembali di hiasi keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing, hingga mereka tiba di lift dan menaikinya.
__ADS_1
"Ah, omong-omong dimana Ciro? Bukankah seharusnya dia bersama denganmu?" Analia baru sadar jika pria yang merupakan manajer dari Lucio itu tidak ada di antara mereka. Padahal biasanya, Ciro tidak pernah jauh-jauh dari Lucio.
"Astaga, aku lupa. Aku meninggalkan dia di bar," Lucio baru ingat jika seharusnya ia pulang bersama dengan Ciro.
"Kau meninggalkannya?"
"Iya. Aduh, kenapa aku bisa sampai lupa ya?"
"Memangnya kalian tidak keluar bersama? Kenapa bisa terpisah?"
"Tadi aku meminta izin padanya untuk memastikan jika kau dan artis lain sudah pulang atau belum, maka dari itu aku meminta nya untuk menunggu ku di tangga yang mengarah ke lantai dua. Tapi aku tidak menyangka jika kita akan berpisah," Lucio menjelaskan.
"Begitu rupanya. Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Analia menatapnya bingung.
"Dia pasti akan mengomeli aku karena meninggalkannya di bar sendirian."
Analia yang mendengar ucapan Lucio seketika menundukkan kepalanya dengan raut wajah murung.
"Maaf. Gara-gara aku menarikmu untuk pulang, kau jadi harus berpisah dengan Ciro dan meninggalkan nya sendiri di sana. Aku jadi merasa tidak enak," Analia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Huh? Tidak perlu meminta maaf. Lagipula aku yang salah karena lupa padanya dan sampai meninggalkan dirinya sendiri."
"Tetap saja. Aku merasa tidak enak."
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lagipula bukan masalah yang serius. Lebih baik kau fokus untuk besok."
"Ah. Ya, kau benar."
TING!
Pintu lift terbuka. Sejurus berikutnya mereka melangkah keluar dari dalam sana, melenggang menyusuri koridor menuju kamar mereka. Untuk sesaat mereka terdiam, keduanya kehabisan topik untuk mereka bahas. Sampai kemudian mereka tiba di pintu kamar masing-masing yang berada tepat berseberangan.
"Sekali lagi terima kasih," ujar Analia yang kini berdiri tepat di pintu masuk kamarnya. Lucio yang mendengarnya lantas tersenyum simpul padanya.
"Ya, sama-sama."
"Kalau begitu aku masuk."
"Iya. Selamat malam."
__ADS_1
"Selamat malam," jawab Analia seraya melangkah masuk kedalam kamarnya.
...***...